Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

BI Waspadai Risiko Ancaman Stagflasi Global ke Ekonomi Domestik

Senin, 27 Juni 2022 | 13:46 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) mulai mewaspadai ancaman risiko stagflasi global yang berpotensi mempengaruhi kinerja ekonomi domestik ke depan. Stagflasi merupakan kondisi dimana inflasi melonjak namun pertumbuhan ekonomi tertahan.

Lonjakan harga telah memicu kenaikan inflasi yang dipengaruhi ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina sehingga menyebabkan pengenaan sanksi. Serta, pemberlakuan kebijakan zero tolerance terhadap penyebaran Covid-19 di Tiongkok.

Advertisement

Baca juga: Beban Subsidi Energi dan Momentum KTT G7

"Situasi global masih sangat (volotaile) sehingga asumsi makro (2023) masih sangat rentan, kami melihat risiko stagflasi global akan bayangi ekonomi kita kedepan," ucap Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti dalam Rapat Banggar Senin (27/6/2022).

Lebih lanjut, BI memperkirakan laju inflasi tahun ini mengarah ke 4,2% year on year (yoy), meski proyeksi lebih tinggi dari batas atas sasaran pemerintah dan BI sebesar 4%(yoy) dan tahun depan akan kembali melandai di level 3 plus minus 1%. Namun, BI dan pemerintah berkomitmen akan menjaga inflasi tetap terkendali dengan pasokan yang juga tersedia. Hal ini seiring penguatan tim pengendali inflasi di pusat dan daerah (TPIP dan TPID).

Baca juga: Pemerintah Jaga Ketersediaan Pupuk untuk Stabilitas Produksi Pangan

Adapun sejumlah faktor yang menyebabkan inflasi terkerek, yakni kenaikan harga energi dan pangan yang kemudian ditransmisikan dalam peningkatan komponen volatile food dan administered price. Sebagaimana diketahui, laju inflasi hingga Mei tercatat 3,55% (yoy) dengan inflasi inti 2,58%(yoy).

"BI kami akan terus waspadai tekanan inflasi ke depan khususnya dari volatile food dan dampak ke ekspektasi inflasi dalam hal ini digunakan all out kebijakan. Kami miliki dan penyesuaian suku bunga apabila terdapat tanda tanda kenaikan inflasi inti," tuturnya.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN