Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Haryo Kuncoro.

Haryo Kuncoro.

BI-7DRRR Jadi 3,75% Ringankan Beban Fiskal Pemerintah

Jumat, 20 November 2020 | 16:31 WIB
Investor Daily

JAKARTA, investor.id - Rapat Dewan Gubernur BI, 18-19 November 2020 memutuskan untuk menurunkan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI-7DRRR) sebesar25 basis poin (bps) menjadi 3,75%. Sementara suku bunga Deposit Facility turun menjadi 3% dan suku bunga Lending Facility sekarang di 4,5%. Beberapa pihak menyatakan keputusan tersebut merupakan kejutan dan di luar ekspektasi pelaku pasar.

Haryo Kuncoro, Guru Besar FEB UNJ Jakarta, menilai turunnya suku bunga acuan (BI-7DRRR) dapat meringankan beban fiskal pemerintah.

“Turunnya suku bunga acuan juga dapat meringankan beban bunga yang ditanggung oleh BI dan hal tersebut merupakan ekses dari burden sharing”, tegas dia.

Menurut Haryo, faktor eksternal lah yang menjadi pendorong utama pemangkasan suku bunga tersebut. Faktor eksternal tersebut adalah menguatnya nilai tukas dolar AS, IHSG berada di zona hijau dan portofolio investasi asing sudah mulai mengalir masuk ke dalam negeri.

Pernyataan Haryo Kuncoro tersebut merupakan salah satu pandangan yang dikumpulkan Forum Komunikasi Akademisi Penulis Kebijakan Bank Indonesia (Forkom Apik BI) terhadap kebijakan BI tersebut.

“Untuk diketahui Forkom Apik BI anggotanya merupakan akademisi PTN/PTS dari seluruh Indonesia”, jelas Y. Sri Susilo (Dosen FBE UAJY) selaku koordinator forum tersebut, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (20/11/2020).

Sekretaris ISEI Jogja Y Sri Susilo
Sekretaris ISEI Jogja Y Sri Susilo

Agus Hertha Sumarto (Dosen UMB Jakarta/Peneliti Indef), mengatakan, penurunan suku bunga acuan (BI-7DRRR) merupakan usaha BI untuk menyebar “virus” optimisme kepada masyarakat luas bahwa pemulihan ekonomi dapat berlangsung dengan lebih cepat.

Menurut Agus, BI bersama pemerintah harus menyusun program bersama yang lebih fokus sehingga alokasi anggaran melalui program pemulihan ekonomi bisa menjadi lebih efektif. Kondisi dapat membantu mempercepat pemulihan bagi UMKM.

“Kebijakan penurunan suku bunga acuan BI seyogyanya ditindaklanjuti oleh perbankan dan sektor riil”, demikian harapan Amirullah Setya Hardi (Dosen FEB UGM).

Menurut dia, perbankan dapat segera menurunkan suku bunga sehingga sektor riil dapat memanfaatkan turunnya suku bunga tersebut untuk berinvestasi atau menggerakkan usahanya kembali.

Selanjutnya Jaka Sriyana (Guru Besar FBE UII) menyatakan, “Jika diikuti oleh penurunan suku bunga perbankan maka kebijakan BI tersebut dapat meningkatkan peluang investasi”. Dalam kondisi pandemi, penurunan suku bunga akan meningkatkan permintaan agregat dan tidak berpotensi meningkatkan inflasi.Penurunan BI-7DRRR juga dapat menjadi daya dorong pembiayaan sektor fiskal melalui penjualan obligasi pemerintah.

Adapun Nugroho SBM (Dosen FEB Undip), menilai penurunan BI-7DRRR merupakan langkah yang tepat untuk mendorong investasi yang lesu akibat pandemi,

Menurut Nugroho, upaya peningkatkan investasi harus juga disertai dengan meningkatkan iklim dan kemudahan berinvestasi melalui deregulasi dan debirokratisasi.

Sementara Rudy Badrudin (Dosen STIE YKPN) mengatakan, kebijakan menurunkan BI-7DRRR diharapkan akan diikuti dengan penurunan suku bunga perbankan.

“Penurunan suku bunga perbankan tersebut dapat membantu percepatan pemulihan ekonomi, termasuk bagi UMKM, melalui invetasi baru atau ekspansi oleh sektor riil,” katanya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN