Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bambang Heriyanto, Jubir Bio Farma  Sumber: BSTV

Bambang Heriyanto, Jubir Bio Farma Sumber: BSTV

Bio Farma Masih Kaji Harga Produk Kit RT PCR

Minggu, 15 Agustus 2021 | 14:45 WIB
Maria Fatima Bona

JAKARTA, investor.id  - Sekretaris Perusahaan sekaligus Juru Bicara Bio Farma Bambang Heriyanto mengatakan, sejak 2020, Bio Farma telah memproduksi Kit RT alat tes polymerase chain reaction (PCR)   mBioCov19 dengan  kapasitas kemampuan  produksi  dua juta per bulan.

Terkait dengan harga, Bambang menyebutkan, saat ini harga  Kit RT PCR masih dalam proses kajian bersama Kementerian Kesehatan (Kemkes). Pasalnya, beberapa bahan material didapatkan dari impor.

“Terkait harga, ini sedang dalam kajian bersama dengan Kemenkes. Beberapa material memang masih impor,” kata Bambang saat dihubungi Beritasatu.com, Minggu (15/8/2021).

Bambang  kembali menegaskan,  mesin untuk produksi Kit diagnostik  dirancang open system, sehingga bisa  memakai mesin PCR manapun selama mesinnya itu tidak close system.

Hermawan Saputra, Dewan Pakar IAKMI. Sumber: BSTV
Hermawan Saputra, Dewan Pakar IAKMI. Sumber: BSTV

Sebelumnya, Dewan Pakar Ikatan Ahli kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra menilai, tes polymerase chain reaction atau PCR mahal karena kemandirian alat kesehatan dan farmasi sangat lemah.

Menurutnya, semua bahan baku farmasi dan alat kesehatan di Indonesia harus melewati uji klinis, sensitivitas dan spesifikasi, sehingga harus memenuhi tidak hanya standar nasional, tetapi juga standar internasional.

"Ini berkaitan dengan ranah kesehatan itu sendiri yang memang berkaitan mekanisme internasional. Sebenarnya banyak keahlian dan kepakaran yang mampu menciptakan alat untuk mendukung layanan kesehatan di negara kita ini," katanya kepada Beritasatu.com, Sabtu (14/8/2021).

Ia mencontohkan, anak bangsa sendiri yang menciptakan adanya tes GeNose, swab antibodi, dan lainnya. Ini artinya kompetisi dalam negeri itu bisa, apalagi PCR tidak selalu susah-susah sekali sebenarnya, hanya saja ini berkaitan dengan komitmen dan kemauan kemandirian bangsa.

"Andai saja sejak tahun lalu kita bisa memprediksi Covid-19 ini berkepanjangan dan cukup mahal, belum lagi kaitan dengan pengobatan, maka alat testing dan tracing PCR ini harusnya ini menjadi kemandirian dan semua itu digratiskan. Kenapa karena paradigma wabah memerlukan upaya untuk menemukan kasus itu secara cepat dan masif dipopulasi," ungkap dia.

Oleh karenanya memerlukan alat testing yang murah bahkan terjangkau sekali bagi warga. Tetapi di negara Indonesia karena ada faktor yang berkaitan dengan materiil, bahan baku juga berkaitan pelibatan swasta dan juga pemerintah yang belum terbagi perannya dengan baik.

Belum lagi, lanjut dia, masalah dari vaksinator karena PCR ini menghitung seluruh utility cost, tidak hanya unit cost terkait dengan alat mesinnya, reagen, SDM, tata prosedur dan lainnya, sehingga memang terbebani seolah-olah jauh lebih mahal.

"Kisaran harga idealnya menurut saya kisaran Rp 200.000-Rp 300.000. Itu harga sudah ideal karena ada utility cost yang lain disamping dari alat, tetapi ada reagan yang bahan pakai habis sifatnya. Kemudian juga ada SDM juga karena harus ada voluntary sebagai swabber juga sebagai tester," urai dia.

Jadi kalau bicara PCR itu ada 3 tahapan. Pertama tahapan sampel atau pengambilan swab yang juga tenaga kesehatan tetapi bisa dilatih. Kedua ada tenaga ekstraksi, yang kerjanya di lab dan ketiga interpretasi hasil.

"Oleh karenanya semua kebutuhan itu harusnya minimal kalau kita bisa mandiri secara substansi dari alat itu sendiri," sarannya.

Ia menegaskan, produksi mesin dan alat PCR buatan dalam negeri tentunya menjamin lebih murah dan lebih terjangkau. Artinya pemerintah harus mengenjot hal ini. Sebenarnya PCR itu tidak hanya diperuntukkan Covid-19 saja, tetapi juga untuk penyakit lain juga termasuk bahkan untuk pengetesan Covid-19 menggunakan tes molecular.

"Artinya kalau kita mampu mandiri, yang kita selesaikan bukan hanya persoalan Covid-19 saja, banyak penyakit lain yang sudah eksis sebelumnya dan ini sebab efisiensi dalam bidang kesehatan harus dan wajib ditopang dengan kemandirian alat kesehatan seperti alat deteksi testing Covid-19 ini," tutup Hermawan.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN