Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kecaribu. (Istimewa)

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kecaribu. (Istimewa)

BKF Kemenkeu: Pertumbuhan Ekonomi Tetap Positif di Tengah Kenaikan Kasus Aktif Covid

Jumat, 5 November 2021 | 15:47 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan ekonomi nasional kuartal III-2021 tetap mampu tumbuh positif di tengah kenaikan kasus varian delta Covid-19, dan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level IV awal Juli 2021.

Kepala BKF Kemenkeu Febrio Nathan Kacaribu mengatakan, momentum pertumbuhan ekonomi yang relatif terjaga ini tercermin pada pertumbuhan antarkuartal yang tercatat positif sebesar 1,55%. Pertumbuhan ekonomi kuartal III-2021 secara year on year (yoy) sebesar 3,51%. Pertumbuhan ini ditopang positif oleh semua komponen pengeluaran, khususnya ekspor yang tumbuh 29,16%. Sementara itu, dari sisi lapangan usaha seperti industri pengolahan, pertanian, perdagangan dan konstruksi juga mencatatkan pertumbuhan positif.

“Ini menunjukkan momentum pemulihan tetap terjaga dan akan semakin kuat pascapenurunan kasus varian delta pada pertengahan Agustus hingga akhir September 2021,” jelas Febrio dalam siaran pers yang diterima pada Jumat (5/11/2021).

Kinerja perekonomian sangat dipengaruhi oleh langkah pengendalian pandemi. Pada awal kuartal III, kasus Varian Delta menyebabkan pemerintah harus menarik rem darurat dengan penerapan PPKM Level IV di berbagai wilayah demi menjaga keselamatan masyarakat. Kebijakan tersebut berdampak cukup signifikan pada mobilitas masyarakat yang turun hingga rata-rata 17,6% di bawah level prapandemi.

Penerapan PPKM ketat juga berdampak pada tertahannya pertumbuhan konsumsi masyarakat serta aktivitas investasi, khususnya dari sektor swasta. Konsumsi rumah tangga tumbuh 1,03% (yoy), melambat dibandingkan kuartal II yang mencapai 5,96% (yoy). Hal ini sejalan dengan pergerakan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang cenderung berada dalam zona pesimis (indeks di bawah 100) pada Juli (80,2), Agustus (77,3), dan September (95,5). Sementara, Indeks Penjualan Ritel (IPR) juga berada dalam zona kontraksi pertumbuhan sepanjang kuartal III. Di sisi lain, aktivitas investasi relatif mampu bertahan dengan tumbuh sebesar 3,74% (yoy).

“Meskipun turut terdampak oleh ketidakpastian, aktivitas investasi masih bisa tumbuh kuat, termasuk investasi bangunan yang ditopang oleh ekspansi belanja modal pemerintah untuk keberlanjutan proyek-proyek infrastruktur strategis,” jelas Febrio.

Dari sisi global, penyebaran varian delta juga menahan kinerja ekonomi di hampir seluruh negara. Hal ini termasuk kinerja ekonomi mitra dagang utama Indonesia seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan Uni Eropa masing-masing tumbuh 4,9%, 4,9%, dan 3,9% pada kuartal III-2021 atau jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada kuartal II-2021 yang masing-masing tumbuh 12,2%, 7,9%, dan 13,7%. Selain faktor varian delta Covid-19, disrupsi global sisi produksi juga menyebabkan tertahannya kinerja pemulihan ekonomi dunia, tercermin dari naiknya indeks harga produksi dunia akibat kenaikan harga energi, biaya pengiriman, dan kelangkaan komponen pada sektor manufaktur.

Ke depan, pemulihan ekonomi diharapkan terus menguat hingga akhir 2021 seiring kondisi pandemi yang relatif terjaga dan percepatan pelaksanaan vaksinasi. Optimisme ini juga didasarkan pada tren pergerakan berbagai indikator, seperti indeks mobilitas masyarakat dan indeks belanja masyarakat yang sudah kembali di atas level prapandemi sejak akhir September 2021, serta indeks PMI Manufaktur Indonesia yang mampu kembali mencatatkan rekor tertinggi pada level 57,2 pada bulan Oktober.

“Implementasi Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) juga akan semakin diperkuat untuk mengakselerasi pemulihan khususnya dalam rangka mendorong penciptaan tenaga kerja dan menstimulasi aktivitas dunia usaha yang terdampak,” kata Febrio.

 

Faktor Penting

Kemajuan percepatan vaksinasi akan menjadi faktor penting untuk mendorong kepercayaan pelaku ekonomi. Per tanggal 4 November, total vaksinasi tercatat telah melampaui 200,7 juta dosis termasuk vaksin booster dan menjangkau sekitar 37% total penduduk Indonesia. Capaian kinerja ekonomi kuartal III-2021 menunjukkan bahwa dampak ketidakpastian yang ditimbulkan pandemi masih cukup tinggi dengan kemungkinan terjadinya mutasi baru virus Covid-19.

Oleh karena itu, aspek penanganan kesehatan akan selalu menjadi prioritas. Peran serta masyarakat dalam penerapan disiplin protokol kesehatan dan partisipasi dalam program vaksinasi sangat krusial agar Indonesia segera terbebas dari pandemi serta laju pemulihan ekonomi semakin kuat dan berkelanjutan.

“Meski kondisi pandemi saat ini relatif terkendali, kewaspadaan tetap harus dijaga mengingat masih terdapat potensi penyebaran dari varian virus baru yang dapat menyebar setiap saat,” pungkas Febrio.

 

Editor : Thomas Harefa (thomas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN