Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala  BKF Febrio Kacaribu dalam diskusi Zooming with Primus: Kiprah DPR Saat Pendemi Covid-19 Jumat, 29 Mei 2020. Sumber: BSTV

Kepala BKF Febrio Kacaribu dalam diskusi Zooming with Primus: Kiprah DPR Saat Pendemi Covid-19 Jumat, 29 Mei 2020. Sumber: BSTV

BKF: Ketahanan Eksternal Indonesia Tetap Terjaga Baik

Rabu, 25 Mei 2022 | 10:53 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id -  Pemerintah mengakui ketahanan eksternal Indonesia tetap terjaga yang ditunjukkan neraca transaksi berjalan yang konsisten baik.

“Ini merupakan kinerja yang sangat baik mengingat banyak sekali risiko yang dihadapi, seperti lonjakan harga minyak dunia yang didorong oleh eskalasi tensi geopolitik yang menekan neraca perdagangan migas,” tuturKepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu dalam keterangan tertulis yang dikutip Rabu (25/5).

Menurut dia, upaya reformasi struktural Indonesia berhasil menciptakan surplus neraca perdagangan nonmigas yang konsisten tinggi. Bahkan, terus meningkat, sehingga berhasil menyerap risiko yang berasal dari kenaikan harga minyak.

Baca juga: BKF Klaim Inflasi April Relatif Rendah dibandingkan Banyak Negara

Neraca transaksi berjalan kuartal I 2022 tercatat surplus sebesar US$ 0,2 miliar atau 0,1% dari PDB. Surplus ini memang turun tipis akibat kenaikan harga minyak dunia yang menyebabkan defisit di sektor migas.

Sedangkan, neraca perdagangan nonmigas tetap kuat, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meskipun terjadi juga penurunan tipis akibat faktor eksternal, yaitu perlambatan ekspor ke negara mitra dagang utama Indonesia, seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang.

Kacaribu mengatakan, penurunan surplus neraca transaksi berjalan juga disebabkan jasa keuangan dan jasa perjalanan, seiring dengan pemulihan ekonomi dan peningkatan perjalanan (dibukanya kembali penyelenggaraan ibadah umroh) dan wisata nasional ke luar negeri yang mempengaruhi neraca jasa.

“Kinerja neraca transaksi berjalan diharapkan terus positif dengan berbagai kebijakan reformasi struktural untuk mendorong kinerja ekspor nonmigas melalui penguatan infrastruktur, sumber daya manusia, hilirisasi, revitalisasi industri, dan ekonomi hijau. PMI Manufaktur Indonesia yang semakin ekspansif juga menjadi indikasi dini masih kuatnya kinerja ekspor ke depan,” lanjut Febrio.

Guna memperbaiki kondisi defisit migas, Pemerintah terus berupaya membangun kapasitas industri hulu migas, sehingga posisi neraca berjalan secara akan menguat.

Dari sisi neraca transaksi modal dan finansial (TMF) akibat aliran dana masuk neto investasi langsung ke sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, dan sektor lainnya mengalami defisit, dibandingkan kuartal sebelumnya. Hal ini sebagai bentuk optimisme investor terhadap prospek pemulihan ekonomi domestik setelah penanganan pandemi berjalan efektif dan iklim investasi terjaga dengan baik.

Kinerja positif tersebut membantu untuk mempersempit defisit TMF menjadi US$1,7 miliar atau sebesar 0,5% dari PDB (defisit di kuartal IV 2021: US$ 2,2 miliar). “Kita terus mendorong reformasi untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif, sehingga ada perbaikan pada Neraca TMF,” tutur Febrio.

Dana Keluar

Ketidakpastian pasar keuangan global akibat tensi geopolitik dan inflasi di Amerika Serikat yang memicu pengetatan kebijakan moneter (suku bunga global) telah berdampak pada terjadinya aliran keluar investasi portofolio.

Baca juga: BKF Catat Realisasi PEN Rp 70,37 Triliun per 28 April

Meskipun demikian, fundamental ekonomi Indonesia yang kuat, khususnya terkait dampak positif harga komoditas global pada Indonesia dan prospek pemulihan ekonomi nasional, akan menjadi faktor penting menguatnya kepercayaan investor di pasar keuangan domestik.

“Pemerintah bersama otoritas terkait sektor keuangan yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan senantiasa menciptakan bauran kebijakan yang tepat untuk stabilitas perekonomian. Dengan berbagai langkah dan bauran kebijakan yang ditempuh pemerintah dan otoritas lainnya tersebut, Neraca TMF akan lebih baik ke depan”tegasnya.

Secara agregat, pada Triwulan I 2022, NPI menunjukkan kinerja yang relatif baik, meskipun mencatatkan defisit sebesar US$ 1,8 miliar, di tengah ketidakpastian terkait dinamika global.

Posisi cadangan devisa pada Maret 2022 tercatat sebesar US$ 139,1 miliar atau setara dengan kebutuhan pembiayaan impor dan utang luar negeri Pemerintah selama tujuh bulan. "Mempertimbangkan outlook neraca transaksi berjalan dan TMF, performa NPI secara keseluruhan diharapkan ke depan diperkirakan masih baik dan dapat menopang ketahanan sektor eksternal,” terangnya.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN