Menu
Sign in
@ Contact
Search
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu, Febrio Kacaribu. (Foto: Beritasatu/Herman)

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu, Febrio Kacaribu. (Foto: Beritasatu/Herman)

BKF Pastikan Defisit Oktober Masih Sehat dan Kredibel 

Minggu, 27 Nov 2022 | 20:32 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Kepala Badan Kebijakan Fiskal Febrio Kacaribu menyebut, defisit APBN Oktober 2022 sebesar 0,91% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau setara dengan Rp 169,5 triliun masih sehat dan kredibel. Terlebih APBN baru mencatatkan defisit setelah periode Januari-September 2022 trennya mengalami surplus.

Melalui Perpres 98/2022, defisit APBN 2022 semula dirancang senilai Rp 868 triliun atau 4,95% terhadap PDB, namun telah direvisi mengalami penurunan menjadi Rp 840,2 triliun atau 4,5% terhadap PDB. Kemudian outlook pemerintah, realisasi defisit hingga akhir tahun diperkirakan hanya Rp 732,2 triliun atau 3,92% terhadap PDB.

“Kita revisi outlook defisit 3,92%, sekarang ini defisit (Oktober) 0,91% atau jauh lebih baik dari yang kami antisipasi. Konteks jaga risiko defisit kita dalam track dan sangat kredibel, kami harap akan terus berlanjut,”ungkap dia dalam diskusi secara virtual, Sabtu (26/11).

Baca juga: Kemenkeu Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV Alami Moderasi

Advertisement

Ia menjelaskan, pendapatan negara masih cukup baik sebesar Rp 2.181,6 triliun atau tumbuh 44,5% (yoy), namun lebih rendah dibandingkan belanja negara yang mencapai Rp 2.351,1 triliun atau tumbuh 14,2% (yoy). “Kami lihat secara umum risiko fiskal terkendali, karena defisit anggaran kita di 0,91% dari PDB dan ini dalam konteks keseimbangan primer masih positif 146,4%,”tegasnya.

Di tengah kondisi ketidakpastian global tahun ini, APBN masih menjadi penahan gejolak (shock absorber)untuk melindungi masyarakat. Ini menandakan bahwa APBN tetap fleksibel merespons berbagai perkembangan global termasuk ketidakpastian.

Menurut Febrio, pemerintah juga akan berkomitmen menjalankan konsolidasi fiskal di tahun depan sebagaimana amanat Undang- Undang 2 Tahun 2020 bahwa defisit harus kembali di bawah 3% pada 2023. Dengan kinerja APBN dan defisit yang menurun secara gradual, ia yakin bahwa APBN tetap kredibel.

“Arah konsolidasi fiskal menuju di bawah 3% sudah semakin kelihatan kredibilitasnya, saat ini kita di minus 0,91% jelas masih jauh. Untuk 2023 kami siapkan defisit 2,84% dan dengan tren baik ini akan dijadikan modal hadapi perekonomian ke depan, terutama sumber ketidakpastian datang dari luar global. Jadi ekonomi tetap bisa dijaga nggak terlalu terdampak gejolak yang sedang dan terus terjadi global,”tegasnya.

Editor : Kunradus Aliandu (kunradu@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com