Menu
Sign in
@ Contact
Search
Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Abdurohman

Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Abdurohman

BKF Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III di Atas 5,4% 

Minggu, 25 September 2022 | 20:49 WIB

JAKARTA, Investor.id - Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (BKF Kemenkeu) memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal III-2022 di atas kuartal II yang sebesar 5,44%. Itu artinya, dampak kenaikan suku bunga acuan BI-7 Day Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 4,25% dan harga bahan bakar minyak (BBM) belum berdampak signifkan terhadap kinerja ekonomi kuartal III.

Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro BKF Abdurohman menjelaskan, berbagai indikator ekonomi hingga Agustus 2022 menunjukkan penguatan. Contohnya, indeks manajer pembelian (purchasing managers index/PMI) masih dalam zona ekspansif dengan tren meningkat. PMI adalah indikator kinerja manufaktur suatu negara.

Konsumsi masyarakat, kata dia, juga masih kuat, terlihat pada indeks belanja yang dirilis Bank Mandiri, indeks penjualan ritel, dan konsumsi listrik sektor bisnis serta industri.

Secara historis, dia menilai, kondisi 2022 mirip tahun 2011. Kala itu, ekonomi Indonesia juga terkerek booming harga komoditas global dalam jangka lama. Keadaan ini biasa disebut commodity supercycle.

"Saat itu, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) rata-rata berada di level 6,5%, dengan suku bunga kredit berkisar 12%. Namun, konsumsi rumah tangga mampu tumbuh 5,1%, investasi tumbuh 8,9%, dan ekonomi tumbuh 6,2%," tegas dia kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.

Lebih lanjut dia menyatakan, saat ini, suku bunga acuan mencapai 4,25%, sedangkan bunga kredit modal kerja maupun kredit investasi sekitar 8,5%. Adapun kondisi likuiditas saat ini jauh lebih memadai dibandingkan tahun 2011. “Alhasil, dampak kenaikan suku bunga dan harga BBM ke pertumbuhan ekonomi relatif terbatas," tegas dia.

Sementara itu, BKF memprediksi laju inflasi September 2022 secara bulanan mencapai 1,09%, lebih rendah dibandingkan hasil Survei Pemantauan Harga (SPH) BI minggu ketiga sebesar 1,1%. Penyumbang utama lonjakan inflasi adalah kenaikan harga BBM sejak 3 September 2022. Pada Agustus, terjadi deflasi secara bulanan sebesar 0,2%, sedangkan inflasi bulanan 4,69%.

Abdurohman menilai, solidnya koordinasi antara BI, pemerintah pusat dan daerah semakin nyata hasilnya, terutama dalam menjaga ketersediaan pasokan serta kelancaran distribusi bahan pangan pokok nasional.  "Saat ini, hampir semua daerah menaruh perhatian besar pada upaya pengendalian inflasi, melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang bekerja keras dengan Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP)," ucap dia.

Editor : Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com