Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Febrio Kacaribu. Foto: IST

Febrio Kacaribu. Foto: IST

EKONOMI 2020 TUMBUH -2% HINGGA -1,6%

BKF: Proyeksi Bank Dunia Sesuai Asesmen Pemerintah

Rabu, 30 September 2020 | 06:23 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  – Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menilai, proyeksi terbaru Bank Dunia terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 yang diperkirakan -2% hingga -1,6% sudah sejalan dengan asesmen pemerintah.

Bank Dunia dalam laporan terbaru East Asia and Pacific Economic Update, October 2020 yang bertema From Containment to Recovery menggambarkan kondisi perekonomian terkini negara-negara di kawasan Asia bagian Timur dan Pasifik, termasuk outlook kinerja ekonomi Indonesia.

Dalam publikasi tersebut, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 akan berada pada kisaran -2 hingga -1,6% (year on year)

“Secara umum, outlook Bank Dunia ini masih sejalan dengan asesmen pemerintah terkini yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada dalam rentang -1,7% dan -0,6%”, jelas Febrio dalam keterangan tertulis, Selasa (29/9).

Selain Bank Dunia, Febrio mengatakan, beberapa institusi internasional lain juga telah menyampaikan outlook perekonomian Indonesia 2020 terkini, yakni Bank Pembangunan Asia (ADB) dengan perkirakan sebesar -1% dan OECD sebesar -3,3 persen.

Bank Dunia menilai, berbagai faktor akibat eskalasi pandemi Covid-19, seperti pembatasan mobilitas, peningkatan risiko kesehatan, dan pelemahan ekonomi global telah memberikan tekanan terhadap permintaan domestik, baik aktivitas konsumsi maupun investasi.

Di sisi lain, kondisi permintaan domestik yang masih relatif lemah tersebut menahan indikator makro lainnya tetap terjaga, yakni inflasi sebesar 2,1% dan defisit neraca transaksi berjalan sekitar 1,3 persen terhadap PDB.

Pada tahun mendatang, Bank Dunia memperkirakan ekonomi Indonesia akan melalui pro ses pemulihan meskipun ma sih dibayangi risiko dan tantangan terkait keberhasilan penanganan pandemic Covid-19.

Pertumbuhan ekonomi pada 2021 diprediksi berada dalam rentang 3% hingga 4,4% dan pada 2022 sebesar 5,1%. Angka perkiraan tersebut mempertimbangkan adanya dampak baseline yang rendah, serta adanya penurunan potensi pertumbuhan -0,6 poin persentase (percentage point) dibandingkan kondisi sebelum pandemi, konsekuensi dari investasi, dan produktivitas yang lebih rendah.

Di samping indikator ekonomi, Bank Dunia juga menunjukkan asesmen indikator kesejahteraan, khususnya ang ka kemiskinan ekstrim yang di proyeksi kembali meningkat untuk pertama kalinya sejak 2006.

Kemiskinan ekstrim meningkat dari 2,7% pada 2019 menjadi 3% di 2020 (berdasarkan garis kemiskinan US$ 1,9 per kapita perhari – 2011 PPP).

Sedangkan ambang batas tingkat kemiskinan US$3,2 dan tingkat kemiskinan US$5,5 (Paritas Daya Beli/PPP) tidak digunakan oleh BPS untuk me ngukur kemiskinan karena pendekatan yang dipakai oleh BPS adalah kemampuan pen duduk dalam pemenuhan ke butuhan dasar (Basic Needs Approach). 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN