Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana Stasiun MTR Bendungan Hilir Lumpuh Total akibat Listrik padam di Jabodetabek, Jakarta, Minggu (/7/2019). Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Suasana Stasiun MTR Bendungan Hilir Lumpuh Total akibat Listrik padam di Jabodetabek, Jakarta, Minggu (/7/2019). Foto: Investor Daily/David Gita Roza

SEPERTI KECELAKAAN PESAWAT,

Blackout Bisa Terjadi Dimana dan Kapan Saja Bahkan di Negara Maju

Euis Rita Hartati, Senin, 12 Agustus 2019 | 13:15 WIB

JAKARTA, investor.id - Mengenai padamnya listrik yang terjadi pada 4 Agustus lalu, Ketua CIGRE Indonesia (Conseil International des Grands Reseaux Electriques) atau Dewan Internasional Sistem Listrik Besar, Herman Darnel Ibrahim berpendapat bahwa kondisi kelistrikan Indonesia bisa dianalogikan dengan badan manusia.

"Orang yang sehat dan selalu menjaga kesehatannya dengan olahraga teratur dan medical checkup secara periodik kan bisa juga meninggal secara mendadak. Dan sebuah sistem tenaga listrik yang kuat yang sudah disiapkan untuk beroperasi secara andal juga bisa mengalami gangguan meluas atau blackout. Itulah gambaran terkait peristiwa padam listrik yang terjadi pada sistem Jawa-Bali," jelasnya.

Sistem listrik di wilayah Jawa ini adalah sistem yang paling kuat di Indonesia. Sistem besar dengan interkoneksi yg masif memiliki lebih 220 unit pembangkt, sekitar 500 unit gardu induk saling tersambung secara masif dengan sekitar 17000 kilometer sirkit jaringan transmisi adalah sistem yang solid yang tak rentan terhadap blackout. Pasokan dari sistem listrik Jawa Bali sangat andal nyaris tanpa gangguan yang berarti sejak blackout terakhir yang terjadi 10 tahun lalu, 18 Maret 2009.

Sistem disiapkan agar tidak terjadi blackout, namun jika terjadi, itu bisa terjadi karena gangguan yang tidak diinginkan.

"Blackout ini juga mirip dengan kecelakaan pesawat. Seperti pada operasi pesawat sistem listrik Jawa Bali dikendalikan dari detik demi detik di pusat pengendalian di Gandul dengan fasilitas pengendalian berbasis komputer. Setiap hari dibuat rencana operasi dengan prinsip untuk keandalan, menjaga mutu listrik dan biaya yang ekonomis. Risiko dan Ketahanan terhadap blackout dianalisa dengan program Contingency Analysis. Semuanya dicek meghindarkan adanya gangguan," ujarnya.

Ia mengatakan, sistem listrik Jawa sebenarnya tidak rentan, dan sudah ada langkah-langkah mitigasi untuk antisipasi terjadinya insiden seperti blackout yang bisa ancam pasokan listrik. Mulai dari sistem transmisi, pembangkit, yang semuanya sudah diatur dan diamankan dengan mengikuti aturan jaringan (Grid Code) dan juga Standard Operating Procedure (SOP) Semuanya sudah jelas dan dilakukan dengan baik. Sesuai perencanaan dan pemeliharaan rutin.

Namun kejadian kemarin, jika dilihat dari kronologis yang dipaparkan oleh PLN, penyebabnya ada beberapa kemungkinan dan tidak tunggal.

"Gangguan pertama memang dari transmisi 500 kilovolt Ungaran Pemalang dan itu sudah di clearkan dengan beroperasinya proteksi dengan baik. Sistem bertahan tanpa pemadaman atau pengurangan beban. Berselang sekitar 15 menit kemudian terjadi lagi gangguan saluran kedua pada jalur yang sama. Sistem pun masih bertahan namun beberapa menit kemudian disusul dengan terlepasnya saluran transmisi 500 kilovolt Tasikmalaya Depok sehingaa sistem bagian barat Jawa, yaitu sebagian Jabar Jakarta dan Banten terpisah membentuk pulau tersendiri.

Terlepasnya transmisi Tasikmalaya Depok yang memisahkan Jawa bagian Barat dan Timur kemungkinan besar karena terjadinya suatu fenomena sistem listrik yang disebut power swing. Dengan situasi tersebut dimana sistem barat dengan beban sekitar 12000 Megawatt mengalami defisit sekitar 2000 Megawatt.

Menghadapi kondisi ini sebenarnya sudah disiapkan mitigasi mencegah gangguan berlanjut yaitu pertama pelepasan beban secara otomatis menggunakan skema UFR atau under frequency relay, kedua merespon turunnya frequency dengan cadangan panas pembangkit yang mungkin masih tersisa.

Ketiga adalah pengamanan melalui Islanding (membentuk pulau) yaitu memisahkan sistem menjadi beberapa cluster khususnya islanding Jakarta yang sesuai protapnya harus diamankan dengan prioritas tinggi dari Blackout. Keempat adalah pelepasan beban secara manual oleh Dispatcher pengendali sistem Jawa Bali, jika langkah 1,2 dan 3 tidak menunjukkan keberhasilan.

Namun tak berselang lama setelah terpisah terjadi gangguan satu unit pembangkit lepas dari sistem yang seharusnya bisa tetap bertahan karena sesuai grid code pembangkit harus bertahan sampai frequency 47.5 Hertz.

Setelah itu sesuai penjelasan pihak PLN beberapa pembangkit lain disistem bagian barat tersebut, ikut lepas dan terjadilah blackout tersebut. Secara teknis kemungkinan penyebab adalah tidak berhasilnya salah satu atau lebih dari keempat skema yang telah dipersiapkan tersebut diatas.

"Jadi sebenarnya penyebab blackout itu bukanlah pohon. Gangguan pohon itu sesuai catatan PLN telah diisolasi. Pohon itu bisa jadi pemicu tapi kepastian seluruhnya baru dapat disimpulkan dengan suatu investigasi, layaknya melakukan visum untuk memastikan penyebab terhadap seorang yang sehat yang meninggal secara mendadak,” ucap Herman Darnel.

Sebagai mantan direktur Transmisi dan Distribusi PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) periode 2003-2008. dirinya faham bahwa PLN memiliki mitigasi risiko dengan sistem N-1 artinya jika terjadi gangguan di satu infrastruktur sudah diantisipasi dengan mengandalkan sistem lainnya.

Nah, kejadian kemarin tepatnya adalah N-1-1 karena gangguan tak diduga beruntun terjadi lebih dari satu infrastruktur. "Ini yang belum, semestinya memang untuk Jakarta dan kota strategis itu antisipasinya bisa N-1-1, namun perlu biaya lebih mahal juga untuk perawatannya," ungkapnya.

Sistem Jawa-Bali, adalah sistem yang besar sekali. Dengan sistem interkoneksi, sesungguhnya sistem jadi sangat kuat, sehingga jarang sekali terjadi gangguan pasokan yang disebabkan oleh pembangkit dan transmisi.

Untuk mengetahui akar penyebab blackout harus dilakukan investigasi yang melibatkan para ahli dari luar PLN. Semua data recorders dan data peralatan dikumpulkan dan dianalisis oleh tim penyelidik yang dibentuk.

"Kemudian, dibahas kemungkinan-kemungkinan penyebab lalu disimpulkan penyebabnya, misal kelemahan peralatan, defects pada komponen, kelemahan sistem proteksi atau setting-nya atau bisa juga faktor SDM/human error," tambahnya.

Blackout, menurut Herman, itu sebuah musibah bagi PLN,mengapa? karena sudah menjadi prosedur baku untuk mencegahnya supaya tidak terjadi.

Herman lantas mengatakan bahwa di negara maju seperti Amerika dan Eropa juga terjadi blackout. New York telah mengalami 3 kali blackout yaitu tahun 1977, 2003 dan 14 Juli 3019 lalu. California juga pernah mengalami blackout tahun 1996, 2001, 2011, 2018 dan 2019.

Malaysia mengalami blackout tahun 1992, 1996, 2003, 2005 dan 2013. Bahkan Sabtu pagi 10 Agustus ini sekitar satu juta orang telah terkena dampak blackout padam listrik besar-besaran yang terjadi di Inggris dan Wales, yang memengaruhi pasokan bagi rumah tangga dan jaringan transportasi. Blackout terjadi tanggal 9 Agustus sekitar jam 23 waktu setempat.

"Musibah blackout itu layaknya kecelakaan pesawat atau kematian orang sehat secara mendadak yang sewaktu-waktu dapat terjadi di luar kemampuan manusia untuk menghindarinya,” pungkas Herman Darnel.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN