Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala BPK Agung Firman Sampurna

Kepala BPK Agung Firman Sampurna

BPK Temukan Kelebihan Pembayaran Insentif Nakes hingga Rp 50 Juta

Senin, 1 November 2021 | 17:05 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Ketua Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) Agung Firman mengungkapkan bahwa  nilai kelebihan pembayaran insentif tenaga kesehatan (nakes) yang menangani pandemi Covid-19 bervariasi mulai dari Rp 178 ribu hingga Rp 50 juta.

Kelebihan pembayaran ini terjadi pada kurun waktu Januari hingga Agustus 2021 untuk 8.961 nakes.

“Masih terdapat sisa kelebihan pembayaran insentif nakes dimana ditemukan pembayaran yang dibayarkan pada 8.961 nakes. Kelebihannya antara Rp 178.000 hingga Rp 50 juta,” tutur Agung dalam Konferensi pers Senin (1/11).

Ia menjelaskan bahwa kelebihan pembayaran insentif nakes terjadi karena adanya duplikasi nama penerima disebabkan kesalahan teknis pada saat penarikan database usulan insentif nakes dari aplikasi insentif nakes yang dikelola oleh Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM (PPSDM) Kesehatan.  

Menurutnya Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melewatkan langkah pembersihan data atau data cleansing ketika melakukan rotasi pembayaran insentif dari semula berbasis Pemda dan rumah sakit menjadi berbasis aplikasi.

Adapun pembayaran insentif melalui aplikasi memiliki tujuan untuk mengurangi potensi terjadinya pemotongan dan kasus lain yang kerap terjadi. Kemudian apabila insentif nakes diberikan melalui aplikasi maka dana tersebut langsung akan diterima oleh nakes.

“Temen temen harus tau tugas kami di BPK bukan cari-cari salah atau sampai naudzubillahimindzalik  sampai mendzolimi nakes dan sebagainya. Tetapi kan memang harus dilihat apakah datanya (ada tapi nakesnya) sudah tidak ada lagi dan sebagainya,”ujarnya.

Kendati begitu, Agung enggan menjelaskan lebih rinci, sejauh mana proses pemeriksaaan dan berapa total insentif yang diterima para nakes. Sebab proses pemeriksaan masih belum selesai dan masih dalam pembahasan lebih lanjut.

Akan tetapi ia memastikan bahwa proses cleansing data terus dilakukan sehingga angka total (jumlah penerima dengan data ganda) sudah berkurang karena Kemenkes melakukan respons cepat untuk melakukan perbaikan terhadap data tersebut.

“Jadi proses cleansing data dilaksanakan, sehingga jumlah terus alami penyusutan saya tidak bisa sebut angka, karena prosesnya sedang berjalan,” ujarnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN