Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Badan Pusat Statistik. Foto ilustrasi: IST

Badan Pusat Statistik. Foto ilustrasi: IST

BPS: Februari Surplus Neraca Perdagangan Capai US$ 2,34 Miliar

Senin, 16 Maret 2020 | 20:44 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada Februari 2020 mengalami surplus sebesar US$ 2,34 miliar. Surplus terjadi karena surplus sektor nonmigas US$3.267,5 juta meskipun sektor migas mencatatkan defisit US$ 931,6 juta.

“Surplus ini lebih disebabkan impor turun cukup signifikan dan ekspor naik. Kalau kita lihat untuk migas ini defisit US$ 931,6 juta tetapi non migas surplus US$ 3,2 miliar,” ucap Deputi Bidang Statistik, Distribusi dan Jasa, Yunita Rusanti dalam konferensi Pers di Kantor BPS, Senin (16/3).

Yunita mengatakan dengan Februari 2018 dan 2019 ada kenaikan signifikan pada Februari 2020. Sebab pada februari 2019 kondisi surplus hanya mencapai US$ 0,33 miliar sementara itu pada Februari 2018 terjadi defisit sebesar US$ 0,05 miliar.

“Jadi kalau dibandingkan Februari 2019 dan 2018 cukup signifikan surplusnya,” kata Yunita.

Ia mengatakan jika dilihat dari pangsa ekspor non migas. Tiongkok masih menjadi mitra dagang utama Indonesia. Nilai ekspor nonmigas Tiongkok mencapai US$ 3,98 miliar pada Januari-Februari 2020 atau berkontribusi 15,33% dari keseluruhan ekspor Indonesia.

"Kalau kita lihat, pangsa ekspor menurut negara, Tiongkok masih mendominasi pangsa ekspor non migas," ucap Yunita.

Berikutnya yaitu Amerika Serikat dengan nilai ekspor US$ 3,26 miliar atau berkontribusi 12,58%. Sedangkan, posisi ketiga diduduki Jepang dengan nilai ekspor US$ 2,28 miliar dan berkontribusi sebesar 8,79%  terhadap keseluruhan ekspor asal Indonesia.

Hal yang sama juga terjadi pada kinerja impor, di mana impor asal Tiongkok menjadi yang tertinggi yakni US$ 5,92 miliar pada periode yang sama, atau berkontribusi sebesar 26,76% terhadap keseluruhan impor. Jepang kemudian menyusul dengan nilai impor US$ 2,38 miliar dan berkontribusi 10,77% terhadap keseluruhan impor. Selanjutnya Singapura dengan total impor US$ 1,48 miliar yang berkontribusi sebesar 6,67% terhadap keseluruhan impor.

Neraca perdagangan Indonesia dengan Tiongkok mengalami penurunan baik dari sisi ekspor maupun impor pada Februari 2020 yang disinyalir akibat dari mewabahnya dari.

Ekspor dari Indonesia ke Tiongkok pada Februari 2020 mengalami penurunan US$ 245,5 juta menjadi US$ 1,8 miliar dari Januari 2020 yang angkanya US$ 2,1 miliar. Sementara itu, impor asal Tiongkok juga mengalami penurunan US$ 1,9 miliar pada Februari 2020 menjadi US$ 3,9 miliar dari US$ 1,9 miliar pada Januari 2020.

Menurutnya wabah dari virus korona mempengaruhi neraca perdagangan Indonesia pada 2020. Sebab sebagai mitra dagang terbesar, kondisi perdagangan antara Indonesia dan Tiongkok mengalami pergerakan signifikan

"Ada pengaruh dari wabah virus korona, di mana kegiatan lockdown, ekspor-impor otomatis akan memengaruhi neraca perdagangan kita dari Tiongkok,”ucapnya..

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN