Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yowono. Sumber: Humas BPS.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yowono. Sumber: Humas BPS.

BPS: Neraca Perdagangan September Surplus US$ 4,37 Miliar

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:58 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar US$  4,37 miliar pada September 2021. Dengan rincian ekspor  mencapai US$ 20,60 miliar  dan impornya US$ 16,23 miliar

Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan,  komoditas non migas yang menyumbang surplus terbesar  adalah lemak dan hewan minyak nabati (HS15) dengan nilai ekspor sampai  US$ 2,8 miliar,  bahan bakar mineral HS (27) dengan nilai ekspor US$  3,09 miliar,   serta Besi dan baja ( HS 72) dengan nilai ekspor  US$ 2,04 miliar

“Neraca perdagangan Indonesia selama 17 bulan secara beruntun itu membukukan surplus,” ucap Margo Yuwono dalam telekonferensi pers pada Jumat (15/10).

Surplus terbesar dialami dengan mitra dagang Amerika Serikat, India, dan Filipina. Nilai surplus dengan Amerika Serikat mencapai US$ 1,5 miliar dimana  nilai ekspor US$ 2,3 miliar dan impor US$ 761,6 miliar.

“Komoditas penyumbang surplus yaitu  berasal dari pakaian dan aksesorisnya,” ucap Margo.

Nilai surplus dengan India sebesar US$ 718,6 juta, dimana nilai ekspor mencapai US$  1,2 miliar dan impor mencapai US$ 515 miliar.  Komoditas yang memberikan andil kepada surplus ini yaitu  bahan bakar mineral serta lemak dan minyak  hewan nabati. Nilai surplus dengan Filipina mencapai US$ 713,9 juta, dimana nilai ekspor mencapai  US$ 812,1 juta dan impor mencapai US$ 98,2 juta. Surplus dengan Filipina terjadi karena komoditas  bahan bakar mineral  serta komoditas kendaraan dan bagiannya.

“Dengan Amerika Serikat, India, dan Filipina September ini, Indonesia mengalami surplus yang cukup besar,” tandas Margo.

Sebaliknya, neraca perdagangan Indonesia juga mengalami defisit dengan sejumlah negara. Pertama, defisit dengan Australia sebesar  US$ 529,7 juta. Nilai ekspor sebesar US$ 283,8 juta dan impor sebesar US$ 813,5 juta. Komoditas yang menyebabkan defisit yaitu  bahan bakar mineral  serta biji logam perak dan Abu.

Kedua dengan Thailand, yaitu  defisit sebesar US$ 346,8 juta. Nilai ekspor US$ 507,1 juta dan nilai impor mencapai US$ 853,9 juta. Komoditas yang menyebabkan defisit yaitu plastik dan barang dari plastik diikuti dengan mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya atau. Ketiga yaitu defisit dengan Ukraina sebesar  US$ 247,2 juta dengan posisi ekspor hanya US$ 20 juta sedangkan nilai impor mencapai US$ 267,2 juta.

“Komoditas penyebab defisit dengan Ukraina adalah serealia serta besi dan baja,” ucap Margo.

Secara kumulatif dari Januari sampai September 2021 neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar US$ 25,07 miliar. Nilai ekspor secara kumulatif mencapai US$ 164 miliar dan impor mencapai US$ 139 miliar.

“Surplus  ini sangat tinggi kalau dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Misalkan pada periode yang  sama di tahun 2020 ya surplus kita hanya tercatat US$ 13,35 miliar .Bahkan di tahun 2019 kita sempat mengalami defisit,” ucap Margo Yuwono. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN