Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pesawat Garuda Indonesia

Pesawat Garuda Indonesia

Bukan Karena Pandemi, Masalah Keuangan Garuda Sudah Lama

Selasa, 1 Juni 2021 | 15:21 WIB
Herman

JAKARTA, investor.id   – Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra Talattov menilai perlu ada kajian yang lebih mendalam perihal masalah mendasar yang dialami PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Langkah itu menurutnya sangat penting, sebab inefisiensi di Garuda sebetulnya sudah terjadi sebelum pandemi Covid-19.

“Masalah di Garuda bukan baru muncul karena ada pandemi. Tekanan keuangan di Garuda sudah terlihat bahkan sebelum pandemi. Sehingga pemerintah dan juga DPR perlu mengkaji secara mendalam terkait inefisiensi yang terjadi di Garuda, mulai dari biaya operasional hingga leasing pesawat,” kata Abra Talattov saat dihubungi Beritasatu.com, Selasa (1/6/2021).

Abra Talatov
Abra Talatov

Menurut Abra, perlu dipisahkan pesolan di Garuda yang sudah terjadi sebelum pandemi dan saat pandemi mucul, sehingga nantinya pemerintah bisa mengambil langkah-langkah yang tepat.

Abra berharap jangan sampai masalah di Garuda yang mengemuka di masa pandemi Covid-19 ini menjadi ajang cuci tangan atas persoalan-persoalan sebelum pandemi terjadi.

“Jangan sampai persoalan lama di Garuda tertutup oleh pandemi. Jadi harus dipisahkan masalah-masalah yang murni imbas pandemi dengan persoalan-persoalan yang muncul sebelum pandemi,” tegasnya.

Abra memaparkan, rasio utang terhadap ekuitas (DER) Garuda di akhir 2019 sudah mencapai 5,18. Kemudian di kuartal III 2020 melonjak jadi 22,7 akibat ketidakmampuan Garuda membayar kewajiban jangka pendek akibat cashflow yang menitips. Di sisi lain, tambahan bunga utang juga tidak bisa dihindari.

“Garuda juga menghadapi persoalan inefisiensi terkait leasing pesawat. Ini bisa dilihat dari rasio sewa pesawat terhadap pendapatan Garuda yang mencapai 24,7% atau yang terbesar di dunia. Jadi memang perlu diaudit, apakah benar sewa pesawat yang dilakukan Garuda lebih mahal daripada yang lain. Ini juga tidak bisa dilepaskan dari manajemen Garuda di masa lalu. Kemudian pembelian pesawat juga patut dievaluasi apakah sudah fair atau terjadi mark up,” kata Abra.

Meskipun sebelumnya Garuda telah memutuskan untuk mengakhiri kontrak sewa 12 pesawat Bombardier CRJ 1000 kepada Nordic Aviation Capital (NAC), menurut Abra langkah tersebut belumlah cukup. Harus dilihat secara menyeluruh mana lagi pesawat yang selama ini terus membebani operasional Garuda.

“Dengan kondisi sekarang, ada kemungkinan mengoperasikan pesawat justru rugi. Sebab biaya operasional melebihi tingkat pendapatan karena keterisian kursi tidak mencapai target. Tetapi kalau hanya diparkir, biaya sewa juga jalan terus. Sehingga perlu dilihat lagi tipe pesawat yang masih membebani operasional Garuda. Apa saja yang menjadi andalan Garuda, itu yang perlu dioptimalkan,” kata Abra.

Sebelumnya, Komisaris Independen Garuda Yenny Wahid dalam cuitannya di Twitter @yennywahid juga mengungkapkan, saat ini pihaknya tengah berjuang keras agar Garuda tidak dipailitkan. Dia mengakui problem yang dihadapi Garuda sangat besar, mulai dari kasus korupsi sampai biaya yang tidak efisien. Namun Garuda adalah national flag carrier yang harus diselamatkan.

“Yang paling utama adalah debt restructuring dan cost restructuring. Di dalamnya termasuk renegosiasi leasing contract. Kita juga sedang fight untuk kembalikan pesawat yang tidak terpakai, mengingat di masa pandemi utilisasi menurun drastis,” kata Yenny Wahid.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN