Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Umum PBI, Ary Zulfikar

Ketua Umum PBI, Ary Zulfikar

Bumi Alumni Ajak UMKM Bangun Jejaring ke Pasar Jepang

Sabtu, 28 November 2020 | 18:01 WIB
Mashud

BANDUNG, investor.id - Perkumpulan Bumi Alumni (PBA) yang merupakan wadah mandiri alumni Unpad mengajak pelaku UMKM melakukan penjajakan ke pasar Jepang.

Pengurus PBA, Dewi Tenty mengatakan, sepanjang sejarahnya, Jepang merupakan mitra dagang terbesar Indonesia, baik ekspor maupun impor. Selain itu Jepang dapat menjadi langkah awal untuk memperluas jaringan pasar ke negara lainnya.

Pandangan ini mengemuka dalam Webinar bertajuk 'Membangun Jaringan Alumni Peluang Pasar di Jepang' pada Jumat (27/11/2020) malam.

Hadir dalam webinar ini Ketua Umum PBA Dr. Ary Zulfikar alias Azoo sebagai Keynote Speaker. Diundang pula dua narasumber yakni Owner Hanamaza Pan Bakery Halal di Jepang Siti Nurjannah dan Owner Opera Investment Grup (Furniture & F&B) Ryo Okawa.

Kegiatan webinar ini merupakan bagian dari kegiatan Bidang Hubungan Luar Negeri, ujar Nuning Hallet Phd, selaku ketua bidang hubungan luar negeri pada PBA yang juga sekalian membuka webinar ini.

Lebih jauh Dewi Tenty selaku moderator acara tersebut menyampaikan, pada 8 Oktober 2020, volume ekspor ke Jepang tercatat semakin meningkat. Mulai dari Ikan, Udang, Lobster, Gula Batu, Bawang Merah meningkat. "Hubungannya sudah sangat harmonis," kata Dewi.

Di samping itu, terjadi peningkatan jumlah penduduk Indonesia yang bermukim di Jepang. Data 2019 menunjukan, 12,7% atau lebih dari 56 ribu penduduk Indonesia bermukim di Jepang.

"Itu kan suatu pasar juga karena orang di Indonesia akan kangen dengan masakan kampung halaman," kata Dewi.

"Dengan webinar ini, kita harap membuat wawasan semakin meningkat, bagaimana cara membangun kerja sama dengan alumni dan pasar di Jepang," lanjut Dewi.

Azoo berharap, webinar ini dapat memperluas cakrawala pelaku UMKM untuk membuka pasar di Jepang. Para pelaku UMKM bisa memperoleh manfaat dari pengalaman-pengalaman narasumber untuk membangun dan mempertahankan bisnisnya di Jepang.

"Pelaku usaha langsung bisa mengambil manfaat dari para narasumber yaang sudah menembus pasar di Jepang," kata Azoo.

"Networking ini perlu dibina sehingga bisa membaca peluang tidak hanya di Jepang tapi juga di negara lainnya. Semoga acara ini bisa berjalan lancar," tutup Azoo.

Siti Nurjannah menceritakan pengalamannya dalam membangun usaha roti halal di Jepang. Siti menyampaikan, awal yang baik untuk membuka bisnis yakni melihat kebutuhan masyarakat Jepang. Dirinya sendiri mengaku memutuskan membangun bisnis roti karena melihat pergeseran pola konsumsi masyarakat Jepang.

"Alasan membuat bisnis roti karena di Jepang makanan pokok bergeser dari nasi ke roti," kata Siti.

Di samping itu, Siti juga melihat peluang banyaknya masyarakat muslim Jepang yang membutuhkan makanan halal. Menurutnya, agak sulit mencari roti yang halal di Jepang.

"Jadi saya ingin memasuki unsur halal. Bakerynya bagus tapi hampir semua tidak bisa dimakan," katanya.

Tidak hanya melihat peluang pasar, Siti juga melihat perkembangan teknologi yang mempengaruhi konsumsi masyarakat. Dalam hal ini, masyarakat Jepang juga senang memesan makanan melalui online.

"Karena itu, saya membidik online. Sehingga semua masyarakat Jepang bisa membeli produk saya," kata Siti.

Kemudian, usai melihat peluang-peluang itu, Siti memberanikan diri untuk membuat bisnis roti halal. Namun, Siti mengaku mulanya tidak mengetahui untuk mulai dari mana.

Siti pun memberanikan diri untuk bertanya kepada pemerintah kota apakah ada program pebisnis untuk pemula. Siti berharap, jika ada program itu maka pemerintah kota akan memberikan bimbingannya.

"Untungnya program itu ada. Dan saat saya datang, usianya baru satu bulan. Saya pun sudah lima tahun terus konsultasi seminggu sekali. Dan itu gratis," kata Siti.

Dari bimbingan itu, Siti belajar banyak hal mulai dari tata cara membangun toko roti hingga syarat-syarat yang harus dipenuhi.

"Ternyata syaratnya cukup berat, untuk buat toko roti saja tidak boleh rumah induk. Lalu juga diatur dindingnya seperti apa, pembuangan airnya seperti apa. Karena itu, dari segi keuangan harus dipikir  matang-matang. Tapi di sini ada pinjaman lunak, dan harus diangsur tiap tahun," katanya.

Narasumber lainya, Ryo menceritakan pengalamannya membuka usaha di Indonesia karena dilatar belakangi dengan membantu perusahaan kelurganya di bidang furniture. Pertama kali masuk Indonesia, dia pernah tinggal di jepara mencari bahan baku buat furniture di jepang.

Banyak potensi market dijepang. Modal utamanya adalah kita harus bisa melakukan identifikasi produk apa yang cocok dengan selera jepang. Seperti kopi, orang jepang suka kopi yang rasa asam, berbeda dengan rasa orang Indonesia. Orang jepang juga menyukai masakan santan, makanya ryo juga bermaksud untuk membuka restoran padang di jepang, ujar ryo yang pernah bekerja selama 1.5 tahun di kantor hukum azp legal consultants sebelum akhirnya membuka restoran Jepang, Fukuro, di wilayah SCBD bersama-sama dengan azoo yang juga merupakan partnernya di Indonesia.

Selain identifikasi market Jepang, inovasi produk juga menjadi hal yang penting bagi Ryo Okawa. Ryo menambahkan, dibutuhkan juga komitmen, konsistensi, dan keberanian untuk menjalankan bisnis di Jepang.

Namun, dia mengingatkan, masyarakat Jepang lebih suka produk yang memiliki kualitas bermutu tinggi. Karena itu, jangan sampai kualitas produk yang dihasilkan bermutu rendah.

"Selain itu, kalau mau bisnisnya melebar ke Jepang harus mencari partner bisnis. Ini kunci karena partner bisnis dari Jepang bisa merekomendasikan teknik pemasaran dan sebagainya," kata Ryo.

Webinar ini cukup mendapat antusiasme dari pelaku UMKM Bumi Alumni. Tercatat 147 yang hadir yang tertarik mengupas dari para nara sumber bagaimana menembus pasar di negara orang lain.

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN