Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Peneliti BUMN Research Group (BRG) Lembaga Management Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Toto Pranoto, dalam webinar

Peneliti BUMN Research Group (BRG) Lembaga Management Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Toto Pranoto, dalam webinar "Prespek BUMN 2021 Sebagai Lokomotif PEN dan Sovereign Wealth Fund" yang diselenggarakan Universitas Indonesia, Kamis (4/3/2021). (Foto: Herman/BeritaSatu.com)

USULAN KEMENTERIAN BUMN UNTUK DIVESTASI PADA BEBERAPA BUMN HARUS DISAMBUT BAIK

BUMN Dipangkas Jadi 41 Perusahaan, Berapa Jumlah Ideal?

Kamis, 4 Maret 2021 | 12:32 WIB
Herman

Jakarta, investor.id – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyatakan telah melakukan pemangkasan perusahaan pelat merah menjadi 41 perusahaan, dari semula sebanyak 142 perusahaan. Hal ini juga dibarengi dengan mengurangi jumlah klaster dari 27 menjadi 12. Lantas, berapa sebetulnya jumlah BUMN yang ideal?

"Saat ini top 20 BUMN dari sisi pendapatan sudah men-generate hampir 80% (dari total). Dari sisi profit juga diperkirakan sudah men-generate dalam porsi yang sama. Itu artinya, apakah kita cukup hanya punya misalnya 25 BUMN terbesar saja, karena nanti ujungnya dari segi return kemudian juga pengelolaan mungkin akan jauh lebih simple? Ini tentu pertanyaan yang agak cukup kompleks. Karena yang kita tahu bahwa BUMN bukan hanya sebagai entitas yang tujuannya adalah komersial, tapi juga ada tujuan-tujuan yang disebut public service obligation. Kadang ini yang memberatkan keuangan perusahaan,” kata peneliti BUMN Research Group (BRG) Lembaga Management Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Toto Pranoto, dalam webinar “Prospek BUMN Sebagai Lokomotif PEN dan Sovereign Wealth Fund” yang diselenggarakan Universitas Indonesia, Kamis (4/3/2021).

Toto Pranoto menyebut, upaya ke arah kondisi yang ideal sebetulnya sudah dilakukan pemerintah melalui Kementerian BUMN. Ini misalnya dengan melakukan divestasi. Beberapa BUMN yang kinerja operasional atau keuangannya sudah buruk, jasa atau service-nya sudah bisa diambil alih oleh pihak swasta.

“Dalam kondisi ini, saya kira memang usulan Kementerian BUMN untuk bisa melakukan divestasi atas beberapa BUMN harus disambut baik,” kata Toto.

Upaya pemerintah menggalakkan percepatan holding company BUMN juga harus didukung, sepanjang hal itu memberikan value yang lebih tinggi dibandingkan stand alone. “Saya rasa gagasan ini bisa didukung, sehingga nanti Indonesia betul-betul kuat, di mana backbone-nya adalah para BUMN,” kata Toto.

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN