Menu
Sign in
@ Contact
Search
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira

CELIOS Proyeksi Akhir Tahun Rupiah Tembus Rp 16.000

Kamis, 7 Juli 2022 | 14:14 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Ekonom CELIOS Bhima Yudisthira mengatakan, pelemahan rupiah sudah diprediksi sebelumnya, karena tekanan eksternal yang menguat. Alhasil rupiah diproyeski akan melemah hingga Rp 16.000 sepanjang akhir tahun ini.

Bhima mengatakan, saat ini pelemahan nilai tukar rupiah baru awal, tekanan berikutnya terjadi saat kenaikan Fed rate atau suku bunga acuan AS berikutnya terjadi. Faktor sinyal resesi ekonomi secara global seperti yang disampaikan oleh berbagai lembaga keuangan menjadi kekhawatiran mendasar pelaku pasar.

"Misalnya proyeksi Citigroup terkait risiko dunia mengalami resesi kini sebesar 50% dalam 18 bulan ke depan. Disaat yang bersamaan, BI masih menahan suku bunga acuan disaat terjadi kenaikan inflasi Juni sebesar 4,35% year on year (yoy) sehingga imbasnya arus keluarnya dana asing masih akan tinggi," tegasnya saat dihubungi, Kamis (7/7/2022).

Dengan kondisi tersebut, Bhima meminta pemerintah mempersiapkan diri menuju skenario yang terburuk yakni inflasi naik, konsumen tidak siap. Hal ini berarti daya beli masyarakat bisa kontraksi, kemudian pendapatan dari ekspor komoditas yang selama ini menopang surplus perdagangan bisa berbalik arah, yaitu harga CPO dan batu bara mulai menurun sebulan terakhir.

Baca juga: Pergerakan Indeks Dolar AS Menekan Harga Emas

"Defisit APBN melebar sehingga beban untuk pembayaran bunga utang terutama SBN meningkat tajam. Masyarakat harus segera lakukan ikat pinggang, atur dana darurat, dan alihkan investasi ke aset yang aman baik dollar maupun emas. Kita tidak tahu secara pasti, apakah dua tahun kedepan resesi akan berakhir karena seluruh negara sedang mempersiapkan cadangan pangan secara agresif," tegasnya.

Lebih lanjut Bhima meminta, tim Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) melakukan strategi jangka pendek. Pertama melakukan stres test terhadap perbankan, asuransi dan lembaga keuangan lain terutama berkaitan dengan dampak resesi di AS, keluarnya modal asing, dan kenaikan suku bunga yang eksesif (Fed rate naik >4 kali setahun).

Oleh karena itu, Bhima mengimbau BI untuk segera menaikkan suku bunga acuan BI 50 bps sebagai langkah pre-emptives hadapi tekanan inflasi di semester II-2022.

"Memperbaiki jaring pengaman sistem keuangan terutama skenario Bail in dan tambah negara mitra LCS (local currency settlement) dan beri insentif lebih besar bagi pelaku usaha ekspor agar menukar devisa dolar dengan rupiah. Serta, mendorong serapan investor domestik dalam SBN untuk cegah volatilitas akibat keluarnya investor asing di pasar obligasi"tuturnya.

Baca juga: Rupiah Tembus Level Psikologis Rp 15.000 Per Dolar AS, Tertekan Sentimen Global

Sementara itu, Wakil Ketua Kadin Shinta Widjaja Kamdani mengatakan efek pelemahan rupiah mulai terasa bagi pelaku usaha khususnya dari sisi produksi akibat pembelian bahan baku yang semakin mahal.

“Pelemahan rupiah efeknya mulai terasa bagi pelaku usaha, khususnya untuk sektor-sektor yang memiliki tingkat ketergantungan impor bahan baku dan bahan penolong yang cukup tinggi,” ucapnya.

Lebih lanjut saat ini sebagian pelaku usaha di sektor-sektor yang terdampak sudah mulai mentransfer dampak kenaikan harga bahan baku atau penolong impor dengan menaikkan harga di tingkat konsumen. Bahkan hal ini umumnya dilakukan oleh pelaku usaha yang sepanjang 2,5 tahun pandemi.

“Ini untuk menahan dampak kenaikan harga dengan menyerap beban kenaikan biaya produksi untuk menyesuaikan dengan kecepatan pemulihan daya beli masyarakat yang lambat,” tegasnya.

Baca juga: Dolar Bertahan Kuat Karena Kekhawatiran Resesi Memukul Euro dan Poundsterling

Meski demikian, Shinta menyebut kalangan dunia usaha belum dapat memproyeksi kapan volatilitas ini akan berakhir. Meski demikian, ia menegaskan pelemahan mata uang tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan di mata uang semua negara berkembang, akibat ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina, krisis komoditas, disrupsi sisi rantai pasok global.

Alhasil, ketidakpastian ini juga berdampak pada lonjakan inflasi di berbagai negara bahkan kenaikan nya diluar batas normal level pra pandemi. Dampak lebih lanjut terjadi pada pelemahan ekonomi global.

“Jadi sejujurnya kami belum melihat kapan volatilitas ini akan berakhir. Meskipun demikian, tingkat pelemahan rupiah Indonesia masih cenderung lebih terkontrol dibandingkan sebagian besar negara lain di dunia, termasuk negara seperti Malaysia, Thailand, dan India,” tambahnya.

Meski rupiah melemah, Shinta meyakini kinerja ekonomi domestik masih terkendali dan tetap kuat yang tercermin dari neraca perdagangan yang positif, serta kebijakan ekonomi makro yang tetap prudent dan pro terhadap penciptaan stabilitas makro dan pertumbuhan ekonomi di dalam negeri,” tutupnya.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com