Menu
Sign in
@ Contact
Search
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira

Celios: Tantangan di Semester Kedua Jauh Lebih Berat 

Selasa, 9 Agustus 2022 | 22:09 WIB
Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id -- Ekonomi Indonesia pada kuartal II-2022 mencatatkan pertumbuhan impresif sebesar 5,44% secara year on year (yoy) dan terhadap kuartal sebelumnya tumbuh 3,72% (qtq). Namun demikian, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara mengingatkan tidak boleh terlena oleh pertumbuhan yang positif ini, karena tantangan di semester kedua jauh lebih berat.

"Ada imported inflation karena mahalnya harga bahan baku, diperkirakan akan diteruskan ke konsumen. Konflik yang meluas bukan hanya Rusia-Ukraina tapi Tiongkok-Taiwan diperkirakan memperburuk rantai pasok dan menimbulkan pelemahan sisi investasi langsung," kata Bhima kepada Investor Daily.

Untuk mengejar target pertumbuhan sepanjang 2022, Bhima menyarankan pemerintah sebaiknya melakukan langkah mitigasi mulai dari menjaga stabilitas harga dan stok pangan, menggelontorkan bantuan sosial setara masa pandemi, mendorong industrialisasi di sektor potensial, menahan kenaikan harga energi melalui subsidi meski harus korbankan belanja lain seperti pemangkasan anggaran infrastruktur misalnya.

Mengenai kinerja ekonomi Indonesia di kuaral II-2022, dia menjelaskan bahwa ada konteks pada kuartal kedua, yakni mobilitas masyarakat diperlonggar terutama momentum seasonal lebaran sudah diperbolehkan mudik. Itu yang paling berdampak signifikan terhadap pertumbuhan konsumsi rumah tangga hingga mencapai 5,51%.

Dia mengatakan, asumsi lebih baik dari prapandemi lebih ke faktor temporer yakni booming harga komoditas. Itu bukan cerminan fundamental ekonomi, karena naik turunnya harga komoditas di luar dari kuasa pemerintah.

"Indonesia masih diuntungkan oleh boom harga komoditas batu bara, nikel dan perkebunan, tapi harga beberapa komoditas makin terkoreksi pada Juli. Ini repotnya kalau harga komoditas turun apalagi ada resesi global, permintaan untuk bahan baku industri di AS, Tiongkok, dan Eropa rendah akan mempengaruhi laju pertumbuhan," katanya.

Sementara itu, inflasi yang masih terjaga di kisaran 4,35% (yoy) pada Juni 2022 karena pengusaha masih menehan kenaikan harga di tingkat konsumen. "Pemerintah juga masih menahan harga BBM subsidi dan LPG 3 kg, dan kontribusinya besar dalam mempertahankan daya beli kelompok menengah dan bawah. Pembayaran THR swasta yang penuh juga turut andil dalam memperbaiki daya beli kelompok pekerja upahan," katanya.

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com