Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Piter Abdullah Redjalam. Foto: youtube

Piter Abdullah Redjalam. Foto: youtube

Core: Penurunan BI 7 DRRR akan Dorong Pertumbuhan Kredit

Selasa, 30 Juli 2019 | 19:08 WIB

JAKARTA, investor.id- Core Indonesia memproyeksikan penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7DRRR) akan mendorong pertumbuhan kredit nasional.

"Pertumbuhan kredit selama paruh pertama 2019 ini menunjukkan angin segar karena masih tumbuh dua digit. Penurunan suku bunga BI pada pertengahan Juli ini diharapkan menjadi stimulus untuk mendorong kredit lebih tinggi dan menggerakan ekonomi nasional," ujar Direktur Riset Core Indonesia, Piter Abdullah Redjalam di Jakarta, Selasa.

Piter Abdullah seperti dilansir Antara mengemukakan, Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 17-18 Juli 2019 lalu memutuskan untuk menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen.

Pada Mei 2019, lanjut dia, rata-rata suku bunga kredit bank umum berada pada tingkat 10,75 persen dan suku bunga simpanan 7,04 persen. Penurunan suku bunga BI diharapkan juga dapat menekan suku bunga kredit bank.

Kendati demikian, Piter mengatakan bahwa pertumbuhan kredit diproyeksikan tidak akan signifikan, hal itu dikarenakan hanya Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) IV yang memegang peranan.

"Faktor pendorong kredit masih dipegang oleh Bank BUKU IV yang memiliki pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) dan loanable fund yang tinggi. Sedangkan bank BUKU III masih terkendala masalah rasio kredit terhadap dana phak ketiga (DPK) yang mencapai Iebih dari 100 persen," paparnya.

Di sisi Iain, lanjut dia, Bank kelompok BUKU I dan ll masih terus menghadapi masalah Iikuiditas dengan rendahnya pertumbuhan DPK. Keadaan itu menyebabkan perbankan mengalami pengetatan Iikuidas.

"Itu akan menjadi tantangan ke depan bagi kabinet baru Jokowi-Amin, bagaimana kontribusi Bank Indonesia untuk BUKU I, II, dan III memiliki peran yang meningkat terhadap pertumbuhan kredit yang akhirnya berdampak pada perekonomian nasional," katanya.

Oleh karena itu, Piter memproyeksikan pertumbuhan kredit nasional selama 2019 masih pada rentang 10 persen hingga 11 persen secara tahunan. (gr)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN