Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Piter Abdullah Redjalam, Direktur Riset CORE Indonesia

Piter Abdullah Redjalam, Direktur Riset CORE Indonesia

AGAR TAK DIBEBANI BUNGA UTANG TINGGI

Core Rekomendasikan Pemerintah Terbitkan Surat Utang Berdenominasi Rupiah

Triyan Pangastuti, Kamis, 9 April 2020 | 12:44 WIB

JAKARTA, investor.id - Center of Reform on Economics (Core) Indonesia merekomendasikan kepada pemerintah agar menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) dengan nominal rupiah, sehingga beban pembayaran bunga yang harus ditanggung tidak tinggi.

Ini dapat dilakukan sebagai opsi pembiayaan defisit anggaran tahun ini yang diperkirakan akan mencapai Rp 852 triliun atau setara dengan 5,07% PDB, meski pelebaran defisit anggaran tak hanya terjadi di Indonesia melainkan juga terjadi di negara lain.

Pengamat ekonomi dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah Redjalam mendorong pemerintah menerbitkan surat utang negara (SUN) dalam nominal rupiah karena dengan skema pembelian oleh Bank Indonesia memungkin pemerintah menetapkan suku bunga lebih rendah dengan tenor yang wajar.

“Dengan begitu pemerintah tidak akan dibebani oleh pembayaran bunga SUN yang tinggi dalam kurun waktu yang panjang. Pembelian SUN domestik oleh BI diyakini tidak akan mendorong peningkatan inflasi yang berlebihan karena tekanan inflasi di tengah wabah Covid-19 cenderung menurun akibat rendahnya permintaan” jelas Piter dalam keterangan tertulis, Kamis (9/4).

Dia mengatakan, sentimen pasar keuangan global saat ini masih sangat negatif akibat ketidakpastian yang dipicu oleh pandemi Covid-19, yang berarti minat pembeli sangat rendah. Sementara langkah penerbitan global bond di tengah kondisi tekanan ini akan memaksa pemerintah meningkatkan insentif berupa bunga kupon yang lebih tinggi dan atau tenor yang sangat panjang.

“Itu terbukti dengan diterbitkannya SUN global bertenor 50 tahun baru-baru ini. Padahal, penerbitan SUN domestik dengan pola pembelian oleh BI memungkinkan pemerintah untuk menetapkan suku bunga atau kupon SUN yang lebih rendah dengan tenor yang wajar,” tegas dia.

Pemerintah pekan ini menerbitkan surat utang berdenominasi dolar AS atau global bond sebesar US$ 4,3 miliar yang terdiri atas tiga seri. Pertama, senilai US$ 1,65 miliar bertenor 10,5 tahun atau jatuh tempo 15 Oktober 2030 dengan yield atau imbal hasil 3,9%. Kedua, senilai US$ 1,65 miliar bertenor 30,5 tahun atau jatuh tempo 17 Oktober 2050 dengan yield atau imbal hasil 4,25%. Ketiga, senilai US$ 1 miliar bertenor 50 tahun atau jatuh tempo 15 April 2070 dengan yield atau imbal hasil 4,5%.

Selain itu, meski rupiah dalam tekanan pelemahan akibat ketidakpastian pasar keuangan global, Core Indonesia berpendapat bahwa pemerintah tidak perlu buru-buru menambah pasokan dolar dengan menerbitkan SUN global. Apalagi, posisi cadangan devisa akhri Maret 2020 yang sebesar US$ 121 miliar dolar masih cukup untuk membiayai intervensi BI.

"Posisi cadangan devisa saat ini relatif cukup besar untuk membiayai intervensi Bank Indonesia dalam stabilisasi nilai tukar," imbuh dia.

Piter melanjutkan, meski penerbitan SUN global dibutuhkan karena kekurangan dolar akibat menurunnya ekspor, penerbitan instrumen investasi internasional itu dapat dilakukan ketika wabah Covid-19 sudah mereda dan sentimen pasar mulai membaik.

"Di tengah kebijakan moneter global cenderung menurunkan suku bunga maka penerbitan SUN global berpotensi mendapatkan permintaan yang tinggi pada bunga kupon yang lebih baik dengan tenor yang wajar," imbuh dia. (try)

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN