Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Eksekutif Core Indonesia, Mohammad Faisal

Direktur Eksekutif Core Indonesia, Mohammad Faisal

Core: Surplus Neraca Perdagangan akan Berlanjut Namun Menipis

Minggu, 14 Februari 2021 | 12:13 WIB
Herman

JAKARTA, investor.id - Direktur Eksekutif Core Indonesia, Mohammad Faisal memproyeksikan surplus neraca perdagangan Indonesia masih akan berlanjut pada tahun ini. Namun, surplusnya akan menipis atau berkurang dibanding tahun 2020. Sebab kinerja impor akan meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang mulai pulih.

 “Kemungkinan besar di 2021 masih surplus, hanya saja surplusnya akan lebih sempit. Di 2021 ini kan prediksinya pertumbuhan ekonomi sudah mulai positif. Biasanya sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, impor juga naik, baik itu impor barang konsumsi, bahan baku dan juga barang modal. Jadi impornya akan naik, sehingga surplusnya akan menipis,” kata Mohammad Faisal kepada Beritasatu.com, Minggu (14/2/2021).

Sebelumnya di tahun 2020 lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus US$ 21,74 miliar. Surplus ini dihasilkan oleh kinerja ekspor yang mencapai US$ 163,31 miliar dan impor US$ 141,57 miliar.  

Kinerja ekspor dan impor di 2020 ini sama-sama mengalami kontraksi. Namun, impor mengalami kontraksi yang lebih dalam. Total nilai ekspor Indonesia sepanjang 2020 turun 2,61% dibanding periode yang sama tahun 2019, sedangkan impor turun 17,34%.

Terkait surplus neraca dagang Indonesia di 2020 tersebut, Faisal melihat surplus ini juga tidak “sehat” karena bukan disebabkan oleh peningkatan ekspor, melainkan disebabkan oleh penurunan impor yang sangat tajam, terutama impor barang-barang produktif.

“Indonesia ini memang sedikit unik. Ketika ekonomi sakit, biasanya justru diikuti dengan surplus perdagangan seperti yang terjadi di 2020. Tetapi itu kan surplusnya karena ekonomi dalam negeri sedang sakit. Karena ada Covid-19, resesi, kemudian konsumsinya turun, konsumsi barang impor juga turun. Jadi surplus yang kemarin bukan disebabkan oleh dorongan ekspor yang tinggi,” kata Faisal.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN