Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Batu bara. Foto ilustrasi: IST

Batu bara. Foto ilustrasi: IST

Covid-19 Masih Menekan Harga Batu Bara

Sabtu, 4 Juli 2020 | 23:32 WIB
Rangga Prakoso (rangga.prakoso@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Harga batu bara Acuan (HBA) periode Juli kembali terkoreksi menjadi US$ 52,16 per ton. Kelebihan pasokan batu bara di pasar internasional disinyalir akibat pandemi Covid-19 disinyalir menjadi faktor yang membuat tren penurunan harga tersebut. Posisi HBA Juli ini merupakan harga terendah sejak 2016.

“HBA Juli sedikit melemah sekitar US$ 0,82/ton dibandingkan periode satu bulan sebelumnya. HBA Juli ditetapkan sebesar US$ 52,16/ton,” kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi di Jakarta, Jumat (3/7).

HBA sempat menguat sebesar 0,28% pada level US$ 67,08/ton di Maret dibandingkan Februari US$ 66,89/ ton. Kemudian, HBA mengalami pelemahan ke posisi US$ 65,77/ton di April dan US$ 61,11/ton di Mei. Posisi HBA Juli ini merupakan harga terendah sejak tahun 2016 dimana saat itu HBA Februari 2016 pernah menyentuh angka US$ 50,92/ton lalu terus meningkat hingga puncaknya pada Agustus 2018 yang mencapai US$ 107,8 per ton.

Agung Pribadi. Foto: IST
Agung Pribadi. Foto: IST

Formula HBA yang ditetapkan Kementerian ESDM merupakan rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platts 5900 pada bulan sebelumnya.

Kualitas yang disetarakan pada kalori 6322 kcal per kilogram GAR. Nantinya, harga ini akan digunakan secara langsung dalam jual beli komoditas batubara (spot) selama satu bulan pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Veseel).

Agung mengungkapkan melemahnya harga batu bara disebabkan oleh minimnya serapan batu bara di pasar global. Tiongkok dan India yang merupakan konsumen terbesar batu bara masih memiliki stok dalam negeri cukup tinggi.

Berkurangnya serapan batu bara global merupakan dampak Covid-19 yang membatasi pergerakan ekonomi masing-masing negara.

“Dua negara tadi sedang mengutamakan terlebih dahulu pasokan (batu bara) dalam negeri,” ungkapnya.

Menurut Agung, di tengah pandemi, ada kecenderungan peralihan ke sumber energi alternatif dalam negeri. “Tak bisa dipungkiri lagi sejak adanya pandemi menggeser pola konsumsi energi ke sumber alternatif lain,” ujarnya.

Perkembangan harga acuan batu bara
Perkembangan harga acuan batu bara

Secara terpisah Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Pandu Sjahrir mengungkapkan tren harga rendah masih akan berlanjut akibat kekhwatiran kemungkinan gelombang kedua serangan Covid-19 yang dapat kembali menekan pemulihan ekonomi di negara- negara tujuan ekspor batu bara Indonesia seperti ke Tiongkok, India, Jepang, Korea, dan lain-lain.

“Dengan kondisi seperti ini APBI berpendapat perlu segera ada upaya pengendalian produksi melalui pemotongan produksi (production cut) dari para produsen batu bara nasional. Pemotongan produksi diharapkan dapat menekan harga yang terus turun karena semakin melebarnya oversuplai,” ujarnya.

Menurut kajian APBI, lanjut Pandu, perkiraan produksi batu bara tahun ini sekitar 595 juta ton M/T telah turun menjadi 530 juta M/T di Juni kemarin. Namun demikian, APBI memandang masih diperlukan pengendalian produksi nasional dengan adanya tambahan pemangkasan produksi sampai dengan 50 jt M/T sehingga produksi batu bara nasional menjadi sekitar 480 juta M/T agar tercapai keseimbangan suplai dan permintaan pada global seaborne market.

Dikatakannya sengan kondisi permintaan yang masih belum membaik, maka untuk menjaga profitabilitas, para produsen besar (major producers) anggota APBI telah berencana untuk melakukan pemotongan produksi tahun 2020 sebesar 15-20% dari rencana awal.

Pemotongan produksi ini diharapkan dapat mendongkrak harga batu bara global dengan tercapai keseimbangan suplai dan permintaan pada global seaborne market. Rencana pemotongan produksi ini tentunya akan berdampak terhadap target penerimaan pemerintah dari produksi nasional sebesar 550 juta M/T dan juga target-target dari masing-masing produsen.

“Menurut kami upaya production cut merupakan upaya terbaik yang bisa dilakukan oleh para produsen dan tentu dengan dukungan pemerintah agar industri pertambangan batu bara nasional bisa survive di tengah Pandemi Covid-19. Jika perusahaan bisa survive, pemerintah pusat dan daerah akan diuntungkan jika perusahaan bisa mempertahankan kinerjanya dan melanjutkan investasinya,” ujarnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN