Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah. Foto: IST

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah. Foto: IST

Dampak PPKM, Ekonom Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi QI Masih Minus.

Kamis, 25 Februari 2021 | 06:07 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id- Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah Redjalam memprediksi ekonomi Indonesia masih minus pada kuartal I- 2021. Hal ini karena kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang menahan aktivitas sosial ekonomi.

Sehingga konsumsi masyarakat juga belum sepenuhnya pulih seperti sebelum pandemi Covid-19.

"Ketika konsumsi belum naik pada level normal, karena kontribusi konsumsi dan investasi besar ke pertumbuhan ekonomi maka sangat sulit diharapkan kuartal I 2021 positif," ungkap Piter dalam PEN 2021: Dukungan Berkelanjutan Hadapi Pandemi, Rabu (24/2).

Apalagi basis pertumbuhan ekonomi pada kuartal I- 2020 tercatat tinggi dan masih positif 2,97%, sehingga basis untuk menghitung pertumbuhan ekonomi kuartal I -2021 akan semakin berat. Di sisi lain, untuk output komponen pertumbuhan ekonomi di kuartal I tahun lalu masih bergerak tinggi.

“Perhitungan pertumbuhan ekonomi kan year on year (yoy), kuartal I -2020 dan kuartal I 2021, di mana kuartal I- 2020 output masih tinggi jadi sulit untuk kejar positif kuartal I 2021. Hal ini berbeda dengan perhitungan basis pertumbuhan ekonomi di kuartal II nanti, sebab basis nya di kuartal II tahun lalu sudah mengalami penrunan”jelasnya.

Oleh karena itu, Piter meminta pemerintah fokus untuk menanggulangi pandemi Covid-19 yang menjadi kunci pemulihan ekonomi nasional. Selain itu, pemerintah juga diharapkan meningkatkan ketahanan masyarakat dan dunia usaha selama masa pandemi.

Pada kesempatan yang sama, Staf Ahli Bidang Pengeluaran Negara, Kementerian Keuangan, Kunta Wibawa Dasa Nugraha optimistis kinerja pertumbuhan ekonomi di kuartal I akan naik seiring dengan konsumsi masyarakat yang disebut mulai meningkat di kuartal I.

“Makanya action dari program PEN merupakan langkah-langkah stimulus untuk penguatan pada daya beli masyarakat dan dunia usaha termasuk sinergi untuk seluruh elemen bangsa termasuk dengan tim KSSK BI, OJK, LPS,”jelasnya.

Selain itu, pemerintah menganggarkan dana  PEN 2021 mencapai Rp 699,43 triliun. Anggaran ini naik 0,6% dibandingkan pagu tahun lalu yang sebesar Rp 695,2 triliun dan naik 20,63% dari realisasi anggaran PEN tahun lalu sebesar Rp 579,8 triliun.

Dengan rincian untuk anggaran kesehatan mencapai Rp 176,3 triliun, perlindungan sosial sebesar Rp 157,4 triliun. Angka ini turun dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 220,39 triliun.  Kemudian Rp 186,81 triliun untuk dukungan UMKM dan pembiayaan korporasi, dan anggaran bagi program prioritas mencapai Rp 125,1 triliun. Terakhir anggaran untuk insentif usaha Rp 53,9 triliun.

Sementara itu, pemerintah menganggarkan belanja negara mencapai Rp2.750 triliun, dengan rincian belanja kementerian/lembaga (K/L) yang awalnya dianggarkan Rp 1.032 triliun jadi Rp 1.059,5 triliun. Kemudian untuk Belanja non-K/L pada rancangan awal Rp 922,6 triliun jadi Rp 910 triliun sedangkan anggaran transfer ke daerah dan dana desa dipatok Rp 780,5 triliun.

“Dari sini kelihatan APBN bekerja keras untuk menahan dampak pandemi covid-19, kalau gak ada intervensi pemerintah dan PEN maka pertumbuhan ekonomi kita akan lebih turun. Kerja keras APBN dilanjutkan di tahun ini,”tuturnya. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN