Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gita Wirjawan

Gita Wirjawan

Dapatkah Indonesia Bersaing Merebut Investasi Besar?

Ester Nuky dan Primus Dorimulu, Rabu, 3 Juni 2020 | 13:59 WIB

JAKARTA, investor.id – Dapatkah Indonesia bersaing menarik investasi yang besar? Menurut mantan menteri perdagangan dan pengusaha nasional Gita Wirjawan, hal itu terletak pada kemampuan Indonesia memperbaiki sistem dan kualitas pendidikannya agar dapat meningkatkan produktivitas yang masih rendah. Indonesia harus menambah alokasi dana yang cukup signifikan untuk pendidikan yang tepat, meski kini menghadapi pandemi Covid-19.

"Selain itu, Indonesia perlu mengalokasikan jumlah yang signifikan untuk pembangunan infrastruktur. Ini dapat meningkatkan konektivitas, yang akan berimbas positif kepada produktivitas," katanya dalam materi kuliahnya yang diterima Investor Daily di Jakarta, Rabu (3/6).

Gita mengatakan, produktivitas sebuah negara merupakan faktor yang sangat penting dalam 'posisi' daya saing negara tersebut di regional dan global. Produktivitas merupakan ukuran yang biasa digunakan oleh perusahaan-perusahaan multinasional untuk menentukan tempat pembangunan pabrik berikutnya.

Marginal productivity Indonesia berdasarkan penghitungan PPP atau berdasarkan daya beli (purchasing power parity) yang telah disesuaikan berada di angka US$ 23.541 per orang. Angka ini rendah dibandingkan Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang, serta negara tetangga di Asean Singapura, Brunei, Malaysia, dan Thailand. Negara-negara tersebut telah mampu fokus pada bagaimana memproduksi barang dan jasa yang berada di rantai nilai (value chain) yang tinggi, yang biasanya memiliki nilai marginal (tambahan) ekonomi yang lebih tinggi. Yang perlu digarisbawahi di sini bukan hanya ketertinggalan Indonesia dibandingkan negara-negara tersebut, melainkan juga terkait kesempatan-kesempatan yang ada bagi Indonesia dengan mulai berubahnya rantai pasok global (global supply chain) yang lebih terdesentralisasi,” paparnya.

Marginal productivity sebuah negara, lanjut dia, merupakan kemampuan untuk memproduksi secara kompetitif barang dan jasa, baik untuk ekspor maupun kebutuhan domestik. Populasi dan ekonomi Indonesia, yang kira-kira di kisaran 45–49% dari seluruh negara di kawasan Asean, akan diuntungkan apabila memiliki marginal productivity yang lebih tinggi, baik secara domestik maupun internasional.

Di Asean, marginal productivity PPP per orang terbesar diraih Singapura, menembus US$ 150.132. Berikutnya adalah Brunei sebesar US$ 143.258, Malaysia US$ 57.442, Thailand US$ 30.202, dan baru Indonesia US$ 23.541.

Walaupun telah membaik dalam beberapa tahun terakhir, lanjut Gita, Indonesia masih tertinggal daya saingnya akibat beberapa faktor, mulai dari kondisi tenaga kerja hingga teknologi digital yang masih tertinggal.

“Untuk meningkatkan daya saing itu, Indonesia antara lain harus melakukan penambahan alokasi dana yang cukup signifikan untuk pendidikan. Selain itu, pandemi Covid-19 telah mengajarkan kepada kita bahwa umat manusia sedang bertransisi ke mode hidup yang sama sekali berbeda, di mana kontak fisik dan berkumpul akan lebih dibatasi, dan akan lebih bersifat digital atau virtual di waktu mendatang. Oleh karena itu, Indonesia harus dapat membangun narasi pendidikannya dengan menggunakan bidang ilmu yang lebih luas, dengan penekanan kepada STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), kemampuan-kemampuan vokasi, riset dan pengembangan, kemampuan untuk berkomunikasi dengan masyarakat global, dan akuntabilitas/keterukuran pengeluaran untuk pendidikan oleh pemerintah pusat dan daerah,” tandasnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN