Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
DBS Group. Foto: straitstimes.com

DBS Group. Foto: straitstimes.com

DBS Flash Indonesia Prediksi Suku Bunga Acuan Diturunkan

Kamis, 18 Juli 2019 | 13:11 WIB

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, hari ini.

Tingkat suku bunga rupiah lebih tinggi dibandingkan dengan suku bunga bank sentral negara-negara lain di kawasan, sementara risiko inflasi masih dapat dikelola.

“Kami memperkirakan suku bunga diturunkan sebesar 25 basis poin pada tahun ini, dengan penurunan tambahan sebesar 50 basis poin pada tahun 2020,” kata ekonom DBS Flash Indonesia dalam keteranganya di Jakarta, Kamis.

Implikasi yang dapat diramalkan: Ramalan inflasi DBS Flash Indonesia juga telah direvisi menjadi lebih rendah, menjadi 3,2%, dan 3,4% untuk tahun 2019 dan 2020.

Implikasi untuk investor: “Kami berpendapat bahwa ekuitas dan obligasi pemerintah dalam mata uang lokal akan mampu bertahan dalam siklus pelonggaran moneter,' katanya.

 

Fundamental dan sentimen selaras

Kondisi diselaraskan bagi Bank Indonesia untuk memulai siklus pelonggaran moneter, dan penurunan tingkat suku bunga diramalkan terjadi paling lambat pada Kamis (18/7).

“Dengan kinerja baik rupiah di tengah kebijakan lunak Bank Sentral AS, serta perbaikan dalam neraca perdagangan, kami berpendapat bahwa Bank Indonesia dapat menurunkan tingkat suku bunga secara akumulatif sebesar 75 basis poin (25 basis poin pada tahun 2019 serta 50 basis poin pada tahun 2020) dalam beberapa triwulan ke depan,” katanya.

Inflasi telah berhasil dikendalikan dan bukan lagi sebuah prioritas, karena kombinasi kegiatan ekonomi, yang melambat, akibat harga komoditas, yang melemah, serta manajemen pasokan beras domestik, telah mendorong inflasi turun di bawah 3%. Kami telah merevisi ramalan inflasi kami menjadi lebih rendah, di tingkat 3,2% untuk tahun 2019, dan 3,4% untuk tahun 2020, dari perkiraan awal, yang sebesar 3,6%. Walaupun harga bahan bakar dan listrik perlu disesuaikan tahun ini, kami tidak beranggapan inflasi dapat bergeser jauh dari sasaran titik tengah Bank Indonesia, yang sebesar 3,5%.

Neraca perdagangan telah berubah menjadi positif dalam dua bulan terakhir, yakni sebesar 218 juta dolar AS dan 196 juta dolar AS pada bulan Mei dan Juni. Semula, diperkirakan terjadi defisit sebesar 2,3 miliar dolar AS pada bulan April. Dalam kenyataan, ruang untuk perbaikan neraca perdagangan dapat menjadi lebih sempit jika harga komoditas menurun serta penyusutan ekspor industri manufaktur berlanjut. Karena infrastruktur tetap menjadi prioritas Presiden Joko Widodo, impor barang modal diperkirakan akan digenjot pada tahun 2019, yang kemungkinan tidak tercermin pada paruh kedua tahun 2019 karena perlu waktu cukup lama untuk memacu pembangunan infrastruktur tahun ini.

Rupiah relatif stabil dalam satu bulan terakhir. Kurs rupiah mencapai 13.900 per dolar AS pada 16 Juli (DNDF 3M juga mengalami penurunan menjadi 14.074 rupiah/dolar AS). Rupiah telah mengalami apresiasi sebesar 3,75% year-to-date (hingga 16 Juli), tertinggi kedua setelah mata uang Thailand, baht, di antara negara-negara di kawasan Asia. Rupiah dapat terus bertahan karena tingkat suku bunga tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan, seperti India.

Masuk akal apabila Bank Indonesia mengambil kesempatan untuk melonggarkan kebijakannya. Risiko pelebaran defisit dan aliran modal, yang semakin fluktuatif, dapat menutup kesempatan ini. Terlebih, Indonesia adalah salah satu negara yang secara agresif menaikkan suku bunga acuannya sepanjang siklus penaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS pada tahun lalu. Karena suku bunga riil masih tinggi, ada peluang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunganya.

Dampak pertumbuhan kemungkinan terbatas tahun ini

Sama halnya dengan Powell, Gubernur Perry cenderung menaruh perhatian lebih besar pada kondisi global, yang meredup, serta dampak negatif yang ditimbulkan oleh perang dagang, terutama saat indikator berfrekuensi tinggi di sektor riil, seperti, semen, retail, penjualan kendaraan bermotor, melemah.

Satu hal yang perlu diperhatikan, transmisi pertumbuhan dapat terhalang oleh keterbatasan transmisi kebijakan moneter melalui jalur suku bunga untuk mendukung kredit. Suku bunga pinjaman relatif tidak berubah tahun lalu walau suku bunga acuan telah naik sebesar 175 basis poin. Oleh karena itu, hanya akan ada sedikit ruang untuk turun tahun ini dan tahun berikut, membatasi transmisi suku bunga kebijakan ke kredit dan pertumbuhan.

 

Suku Bunga Indonesia

Sementara Bank Indonesia (BI) berhati-hati dalam menanggapi perubahan sikap (kebijakan) Bank Sentral AS pada awal tahun, penguatan obligasi pemerintah menunjukkan bahwa pelaku pasar semakin nyaman dengan gagasan kebijakan moneter lebih longgar. Khususnya, imbal hasil 10 tahun telah turun, dari tingkat tertinggi sebesar 8% pada tahun ini, dan sekarang diperdagangkan mendekati 7%.

Langkah likuiditas jangka pendek juga membaik. Selisih antara Jibor 3M dan repo 7D telah menyusut menjadi 65 basis poin (terendah sepanjang masa, mengingat repo 7D diluncurkan pada 2016). Instrumen yang sensitif terhadap sentimen (dolar AS/rupiah dan mitra NDF-nya) juga memberikan lampu hijau, menandai peningkatan.

“Kami berpendapat bahwa BI akan lebih berhati-hati dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan (India, Filipina dan Malaysia telah melakukan pemotongan tahun ini) karena kekhawatiran tentang defisit transaksi berjalan berlanjut. Tanpa perbaikan dalam neraca perdagangan (yang membutuhkan lonjakan harga komoditas), kecepatan dan besarnya penurunan suku bunga kemungkinan akan selaras dengan Bank Sentral AS (2-3 pemotongan asuransi). Meskipun ada peningkatan cukup besar, obligasi pemerintah Indonesia masih terlihat baik di Asia Rates Valuation Indicator, di dunia di mana imbal hasil sangat langka, imbal hasil nyata dan nominal tinggi”.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN