Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat mengelar media briefing seputar

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat mengelar media briefing seputar "Strategi Pebiayaan Utang 2020" dengan sejumlah media secara virtual, Selasa (7/4).

Defisit APBN akan Dijaga di Bawah 5%

Selasa, 7 April 2020 | 23:21 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pihaknya akan mengupayakan untuk menjaga defisit APBN 2020 di bawah 5%, meski Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020 memutuskan untuk melakukan pelebaran defisit menjadi 5,07% dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini jauh lebih tinggi dari asumsi makro APBN 2020 sebelumnya yang ditetapkan 1,76% dari PDB.

Menurut Menkeu, bila persentase defisit menjadi 5,07% dari PDB, maka secara nominal defisit fiskal akan meningkat menjadi Rp 853 triliun. Pemerintah akan mengupayakan defisit yang lebih kecil tanpa harus mengurangi kemampuan pemerintah untuk merespons tantangan kesehatan, sosial dan ekonomi yang dihadapi akibat pandemi Covid-19.

“Pelebaran defisit anggaran tentu membuat pemerintah harus memikirkan secara hati-hati tentang pembiayaan. Bagaimana membiayai defisit meningkat dalam kondisi di mana pasar keuangan menghadapi tekanan,” ucap Sri Mulyani dalam media briefing secara virtual, Selasa (7/4).

Ia menandaskan, APBN akan tetap dipertahankan sebagai instrumen pemerintah untuk menjaga perekonomian oleh karena itu harus dijaga kredibiltasnya. APBN pun digunakan secara fleksibel untuk menangani damapk Covid-19. Dalam hal ini APBN digunakan untuk bidang kesehatan, sosial, dan ekonomi.

“Untuk pembiayaan defisit yang meningkat, kami akan menggunakan sumber pembiayaan paling aman dan biayanya paling kecil sebelum kita mengambil instrumen-instrumen lain yang memiliki tingkat biaya dan responsible tinggi,” ucap Sri Mulyani.

Sumber pembiayaan yang akan dipakai yaitu Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang akan dimanfaatkan seoptimal mungkin. Adanya SAL akan mengurangi pembiayaan dari market, karena Kemenkeu memiliki dana kas. Sumber pembiayaan berikutnya yaitu dana abadi pemerintah yang selama ini sudah terakumulasi cukup signfiikan.

“Kami juga masih bisa melihat berbagai dana yang dikelola BLU (Badan Layanan Umum) yang merupakan agency dari pemerintah. Dari BLU kami melihat akumulasi dari dana atau anggaran sumber daya yang dikelola mereka,” ucap mantan direktur pelaksana Bank Duniai ini.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), Kementerian Keuangan Luky Alfirman mengatakan, pihaknya juga melakukan koordinasi dengan lembaga bilateral dan multilateral terkait dengan penyediaan pembiayaan defisit anggaran. Namun, pihaknya juga terus mengupayakan agar defisit tidak mencapai 5%.

“Diharapkan, dengan dinamika yang terjadi, defisit APBN tidak perlu mencapai sebesar itu. Sifatnya akan dinamis mengikuti perkembangan kebutuhan yang ada. Di sisi lain kami lihat market, dan di sisi lain lihat kebutuhan pemerintah,” ucap Luky.

 

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN