Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menkeu Sri Mulyani. Foto: IST

Menkeu Sri Mulyani. Foto: IST

Defisit APBN Hingga Agustus Melonjak Rp 500,5 Triliun

Selasa, 22 September 2020 | 14:57 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan defisit APBN periode Januari hingga Agustus tercatat Rp 500,5 triliun.  Defisit ini setara dengan 3,05%  terhadap produk domestik bruto (PDB).

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, defisit mengalami kenaikan yang sangat besar dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 197,9 triliun atau setara dengan 1,25% terhadap PDB.

“Ini kenaikan defisit yang sangat besar dibandingkan tahun lalu Rp 197,9 triliun. Situasi ini harus dijaga meski kondisi SBN yield kita alami penurunan, namun kita tetap harus hati hati,”jelasnya dalam konferensi pers APBN Kita, Selasa (22/9).

Secara rinci, pendapatan negara hingga akhir Agustus tercatat mencapai Rp 1.034,1 triliun. Realisasi tersebut terkontraksi 13,1% jika dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun lalu, yakni sebesar Rp 1.190,2 triliun.

Sementara itu realisasi pendapatan negara sudah setara dengan 60,8% dari target dalam Perpres 72 mencapai Rp 1.699,9 triliun di akhir tahun.

Kemudian sisi penerimaan perpajakan, realisasi hingga 31 Agustus mencapai Rp 798,1 triliun atau 56,8% dari target dalam Perpres 72 yang sebesar Rp 1.404,5 triliun. Namun jika dibandingkan dengan realisasi tahun lalu yang mencapai Rp 921,5 triliun, maka realisasi perpajakan terjadi kontraksi 13,4%.

Kemudian untuk  penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp 232,1 triliun hingga akhir Agustus. Angka tersebut setara dengan 78,9% dari target Perpres 72 yang sebesar Rp 294,1 triliun dan kontraksi 13,5% dari tahun lalu.

"Sementara untuk penerimaan hibah mencapai Rp 4 triliun, agak meningkat jika dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya Rp 0,5 triliun," jelasnya.

Lebih lanjut untuk komponen belanja negara secara keseluruhan sudah terealisasi Rp 1.534,7 triliun atau 56% dari alokasi dalam Perpres 72. Realisasinya meningkat 10,6% jika dibandingkan dengan realisasi tahun lalu yang sebesar Rp 1.388,1 triliun.

Untuk belanja pemerintah pusat realisasinya Rp 977,3 triliun atau naik 14% dibanding tahun lalu yang sebesar Rp 857,5 triliun. Angka tersebut setara dengan 49,5% dari target serapan dalam APBN yang sebesar Rp 1.975,2 triliun.

Kemudian realisasi untuk belanja Kementerian atau Lembaga (K/L) realisasinya sebesar Rp 517,2 triliun, 61,8% dari target Perpres 72 2020 yang sebesar Rp 836,4 triliun. Belanja kementerian atau lembaga juga naik 7,4% meski jika dibandingkan pertumbuhan tahun lalu yang 9% ini lebih rendah.

Sri menegaskan bahwa untuk belanja non K/L terjadi peningkatan tajam, yakni sebesar 22,4%. Hal ini karena adanya peningkatan anggaran untuk penanganan Covid -19. Realisasi belanja non K/L hingga akhir Agustus 2020 sebesar Rp 460,1 triliun, 40,4% dari rencana dalam Perpres 72.

Terakhir, untuk transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) realisasinya sudah mencapai Rp 557,4 triliun, atau 73% dari target Perpres 72 yang sebesar Rp 763,9 triliun. Angka tersebut tumbuh 5% jika dibandingkan dengan realisasi tahun lalu yang sebesar Rp 530,6 triliun.

Adapun sisi pembiayaan realisasinya sampai dengan akhir Agustus sebesar Rp 667,8 triliun atau 64,3% dari target dalam Perpres 72 2020 sebesar Rp 1.039,2 triliun.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN