Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dubes Indonesia untuk RRT Djauhari Orarmangun dan CEO PT Adaro Energy Tbk Garinaldi (Boy) Thohir. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Dubes Indonesia untuk RRT Djauhari Orarmangun dan CEO PT Adaro Energy Tbk Garinaldi (Boy) Thohir. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

DUBES DJAUHARI ORATMANGUN:

Defisit Neraca Perdagangan Indonesia-RRT Bisa Diperkecil

Leonard AL Cahyoputra/Primus Dorimulu, Selasa, 19 November 2019 | 08:27 WIB

BEIJING, investor.id – Dengan jumlah kelas menengah yang sudah menembus 300 juta, Tiongkok membutuhkan banyak produk makanan dan minuman (mamin) tropis asal Indonesia, termasuk ikan dan produk laut lainnya. Berapa pun produk laut yang diekspor, Tiongkok akan mampu menyerap. Selain itu, RRT juga meminati mebel dan baterai dari Indonesia. Jika dimaksimalkan, defisit neraca perdagangan Indonesia-RRT dapat diperkecil, bahkan bisa menjadi positif.

“Potensi Indonesia untuk meningkatkan ekspor dan memperkecil defisit neraca perdagangan dengan Tiongkok cukup besar. Yang penting, kita kreatif,” kata Dubes Indonesia untuk RRT Djauhari Oratmangun kepada sejumlah pemimpin redaksi dari Indonesia di Beijing, Minggu (17/11/2019).

Bersama CEO PT Adaro Energy Garibaldi (Boy) Thohir, para pemimpin redaksi media massa Indonesia berkunjung ke Urumqi, ibukota Xinjiang Uygur Autonomous Region, provinsi paling utara di RRT, Kamis (14/11/2019) dan Jumat (15/11/2019), untuk melihat langsung kehidupan be agama dan kondisi sosial warga RRT beragama Islam di provinsi itu.

Meski dalam satu dekade terakhir defisit neraca perdagangan Indonesia dan RRT membesar, demikian Dubes, ekspor Indonesia ke Tiongkok berpeluang besar untuk didongkrak. Permintaan RRT akan produk mamin tropis dan hasil laut terus meningkat seiring dengan kenaikan pendapatan rakyat RRT. Jika Indonesia mampu memperkecil impor dari RRT, defisit neraca perdagangan akan menurun dan bisa berubah menjadi surplus. Tiongkok saat ini dihuni 1,4 miliar penduduk.

Dari jumlah itu, kata Dubes, kelas menengah sudah menembus angka 300 juta. Pola konsumsi kalangan ini berbeda dengan masyarakat lainnya. Mereka lebih membutuhkan mamin yang berkualitas dan belanja bulanan mereka cukup besar. Ikan dan aneka makanan laut sangat digemari oleh kelas menengah atas.

Djauhari Oratmangun. Foo:o IST
Djauhari Oratmangun. Foo:o IST

Saat ini, sejumlah produk mamin Indonesia sudah masuk RRT, di antaranya kopi kapal api, kopi indocafe, indomie, dan produk dari sarang burung walet. Jika dikelola dengan baik, kata Djauhari, ekspor produk sarang burung walet bisa mencapai US$ 3 miliar, Saat ini, minuman dari sarang burung walet sangat mahal di RRT. Potensi ekspor yang cukup besar, demikian Boy Thohir, adalah ikan dan aneka hasil laut dari Indonesia. Jumlah kelas menengah yang sudah menembus 300 juta merupakan pasar yang sangat besar. Kemajuan ekonomi Tiongkok akan melahirkan kelas menengah baru. Ikan dan aneka produk laut adalah makanan favorit kaum menengah atas.

“Mereka bersedia ikut berinvestasi di sektor perikanan,” ujar Boy Thohir.

Dengan luas laut 70% dari wilayah, Indonesia mampu menjadi salah satu eksportir seafood di dunia. Defisit neraca perdagangan Indonesia dan Tiongkok bisa dikurangi lewat ekspor produk hasil laut. Seperti sering dijelaskan Menteri Perikanan dan Kelautan periode 2014-2019, Susi Pudjiastuti, ikan segar adalah cash money. Demikian pula dengan udang, kepiting, dan kerang. Dengan penangkapan modern, ekspor ikan segar dan hasil laut lainnya bisa didongkrak.

Tapi, selama ini, kata Boy Thohir, sektor kelautan belum digarap optimal. Ekspor sambal ke RRT juga potensial mendulang devisa. Sambal digemari sebagian besar penduduk dengan jumlah 1,4 miliar itu. Begitu pula dengan ekspor buah-buahan seperti pisang dan manggis. Untuk mendapatkan hasil yang bagus dan tahan lama, panenan manggis menggunakan jala agar buah tidak langsung menghunjam tanah. Manggis yang jatuh ke tanah menjadi keras.

Boy Thohir. Foto: IST
Boy Thohir. Foto: IST

Djauhari menekankan pentingnya kreativitas pelaku bisnis. Saat ini, produk biskuit “Tango” dari Orangtua Group dan “Elips”, penyubur rambut, sudah masuk Alibaba, e-commerce terbesar di dunia asal Tiongkok. Ia berharap semakin banyak produk Indonesia yang masuk Alibaba karena e-commerce ini diakses oleh separuh rakyat di negeri dengan jumlah penduduk terbesar di dunia tersebut. Buah tropis yang dibutuhkan RRT selama ini dipasok oleh Malaysia, Vietnam, dan terutama Thailand. Ekspor durian dari Thailand ke RRT mencapai US$ 2 miliar. Pisang dan nenas dari wilayah tropis sangat diminati masyarakat Tiongkok.

Di bidang industri, permintaan baterai dari Indonesia cukup tinggi. Seiring dengan peningkatan penggunaan mobil listrik, permintaan terhadap baterai juga ikut meningkat. Dengan dukungan bahan baku, yakni nikel, Indonesia berpotensi menjadi eksportir baterai yang kompetitif. Saat ini, perusahaan RRT sudah berinvestasi di Morowali, Maluku Utara, untuk memproduksi baterai dengan nilai investasi US$ 10 miliar.

Defisit

Sejak ditandatangani free trade agreement Asean-China (ACFTA), Indonesia kebanjiran impor produk Tiongkok, mulai dari aneka produk industri manufaktur hingga buah-buahan negeri subtropis. Pada tahun 2018, impor Indonesia dari RRT sebesar US$ 45,54 miliar. Sedang ekspor Indonesia ke negeri Tirai Bambu itu hanya sebesar US$ 27,13 miliar. Dengan demikian, defisit neraca perdagangan Indonesia dengan RRT mencapai US$ 18,4 miliar tahun lalu. 

Pada tahun 2018, ekspor Indonesia ke Tiongkok naik 17,4%. Namun, kata Djauhari, defisit neraca perdagangan tak terelakkan karena impor dari Tiongkok mengalir lebih deras. Hingga saat ini, ekspor terbesar Indonesia ke RRT adalah batu bara dan minyak sawit mentah (CPO).

Produk CPO
Produk CPO

Untuk memperluas ekspor Indonesia, kata Djauhari, pihaknya tengah menjajaki pembentukan Sister Free Trade Zone (SFTZ) agar produk ekspor dengan mudah bisa dikelola dengan lebih efektif dan efisien. SFTZ di RRT adalah Fujian.

Dari daerah ini, produk asal Indonesia didistribusikan ke seluruh negeri Tiongkok. Sedang SFTZ di Indonesia bisa dibangun di Semarang dan wilayah di Sumatera dan di Indonesia bagian timur. Produk Indonesia dikumpulkan di SFTZ untuk diekspor ke RRT lewat Fujian. Investasi RRT di Indonesia terus meningkat. Selama 2014-2017, investasi Tiongkok di Indonesia mencapai US$ 7,8 miliar. Pada tahun 2016, investasi RRT sebesar US$ 2,6 miliar. Jumlah wisatawan Tiongkok yang melancong ke Indonesia tahun 2018 sebesar 2,1 juta, naik dari 926.000 tahun 2014.

Sedang jumlah wisatawan asal Indonesia yang mengunjungi RRT sebesar 566.900 tahun 2014. Pada tahun 2018, demikian data Kedubes RI di Beijing, jumlah pelajar Indonesia RRT mencapai 14.233, naik dari 7.000 pada 2009.

Peluang Besar

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi. Foto: youtube
Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi. Foto: youtube

Sementara itu, ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal menyatakan bahwa FTA China-Asean (ACFTA) mestinya memberikan peluang bagi ekspor Indonesia. Sebab, perjanjian itu bisa menekan perdagangan ilegal. Selama ini, data impor RI dari Tiongkok versi Badan Pusat Statistik dan Biro Statistik RRT beda, karena tingginya impor ilegal dari negeri itu ke Indonesia.

Selain itu, berdasar kajian Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu, utilisasi FTA oleh Indonesia baru 30%. Hal ini terjadi karena banyak pengusaha yang tidak tahu lantaran minim sosialisasi.

“Kita harus menaikkan utilisasi itu agar ekspor ke RRT naik kencang. Untuk itu, kita harus memperbaiki kompatibilitas produk, juga tenaga kerja. Banyak hambatan birokrasi juga harus dikurangi,” kata Fithra.

Fithra melihat peluang ekspor ke RRT sangat tinggi karena kelas menengah yang besar. Dia menyebut sejumlah produk yang potensial, seperti mamin, tekstil, dan kimia dasar. Dia juga menekankan agar Indonesia menjadi radar investasi bagi Tiongkok. Kejadian relokasi dari Tiongkok yang lebih memilih Vietnam dan negara Asean lain merupakan introspeksi agar birokrasi memperbaiki perizinan yang berbelit.

Sedangkan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, Tiongkok memiliki potensi pasar yang sangat besar. Kebutuhan pasar mereka terlalu besar dan terlalu beragam untuk bisa disuplai oleh industri mereka sendiri.

Shinta Kamdani. Foto: IST
Shinta Kamdani. Foto: IST

Shinta menilai, defisit perdagangan tidak bisa dihindarkan selama Indonesia tidak bisa menciptakan produk subtitusi impor yang bersaing di dalam negeri atau produk ekspor yang lebih beragam dan lebih kompetitif daripada produk lain yang ada di pasar Tiongkok.

“Ini merupakan isu yang kompleks soal rendahnya produktivitas dan daya saing produk nasional,” kata dia kepada Investor Daily, di Jakarta, Senin (18/11).

Shinta menerangkan, dalam logika perdagangan, semakin terdiversifikasi produk ekspor, semakin besar peluang pasar ekspor. Produk yang kurang beragam juga rentan menjadi target hambatan tarif atau nontarif, safeguard, atau tuduhan subsidi. Shinta menegaskan, untuk meminimalkan defisit perdagangan, Indonesia harus betul-betul menciptakan produk yang bisa bersaing dengan produk impor mana pun, termasuk Tiongkok, serta mampu menciptakan produk ekspor yang cukup bersaing dengan produk dari negara manapun dari segi harga dan kualitas barang.

Untuk itu, kata Shinta, langkah pertama yang harus dilakukan pemerintah adalah perbaikan iklim usaha dan investasi. Hal itu penting agar Indonesia menghasilkan produk yang efisien dari sisi jenis, kualitas, dan harga.

Kedua, perlu ada mekanisme kontrol impor yg lebih baik terhadap produk-produk yang tidak dibutuhkan, khususnya produk konsumsi. “Perlu disiplin yang lebih tinggi di pelabuhan agar tidak ada lagi oknum-oknum yang bisa bertindak sebagai broker kebocoran impor terhadap produk yang dilarang atau dikontrol impornya,” kata Shinta.

Ketiga, perlu menggenjot investasi untuk memperbesar skala produksi nasional, mengadopsi teknologi untuk menciptakan produk-produk berdaya saing, dan perlu edukasi bagi pelaku usaha dan eksportir untuk memanfaatkan ACFTA agar ekspor lebih maksimal. Shinta mengkritik tidak adanya sosialisasi yang memadai dari pemerintah sebagai negosiator untuk memahami apa saja benefit ACFTA.

“Kita harus memastikan dalam review ACFTA berikutnya, pemerintah betul-betul mengangkat dan menyelesaikan semua barrier perdagangan di pasar Tiongkok,” kata dia.

Jadi sebetulnya, lanjut dia, hanya masalah bagaimana Indonesia bisa ekspor lebih banyak, lebih beragam, dan mempenetrasi pasar Tiongkok. “Ini yang seharusnya menjadi fokus kita. Karena dari sisi pelaku usaha, sebagian besar impor dari Tiongkok adalah impor yang betul-betul kami butuhkan, karena sekitar 70% adalah bahan baku dan bahan penolong produksi. Kalau ini dipersulit hanya karena agenda menurunkan defisit, ini sama saja dengan mematikan industry dalam negeri,” kata Shinta.

 

Adapun Ketua Bidang Ekspor Kadin Indonesia Handito Joewono mengatakan, produk mamin asal Indonesia memiliki potensi yang besar sekali untuk ditingkatkan ekspornya ke RRT. Hanya saja masih ada kendala terkait administrasi perizinan ekspor, aspek logistik, dan pendanaan karena umumnya produk UMKM.

“Kita di bidang manufaktur non -mamin boleh kalah bersaing dengan Tiongkok. Namun untuk produk mamin, terutama yang spesifik seperti sarang burung walet, seharusnya kita bisa menjangkaunya dengan porsi ekspor yang besar,” tegasnya.

Pemerintah, kata dia, harus melobi Tiongkok untuk melonggarkan ketentuan impor sarang burung walet dari Indonesia. (is/hg)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA