Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala BPS Suhariyanto di Gedung BPS, Kamis (26/9/2019).

Kepala BPS Suhariyanto di Gedung BPS, Kamis (26/9/2019).

Deflasi Juli 2020 Dipicu Penurunan Komponen Harga Bergejolak

Senin, 3 Agustus 2020 | 12:32 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa pada Juli 2020 terjadi deflasi sebesar 0,10% yang dipicu oleh karena penurunan harga bawang merah,tarif angkutan udara, daging ayam ras, dan bawang putih. Pada saat yang sama komoditas yang mengalami kenaikan harga yaitu emas dan telur ayam ras.

“Kalau dlihat menurut komponennya deflasi pada Juli 2020 ini disebabkan oleh penurunan komponen harga bergejolak,” ucap Kepala BPS Kecuk Suhariyanto dalam konferensi pers  di kantornya, di Jakarta, Senin (3/8/2020).

Dilihat dari sektor pengeluaran, kelompok makanan, minuman, dan tembakau  mengalami deflasi 0,73% dan memberikan andil ke deflasi 0,19%. Beberapa komoditas yang  mengalami penurunan harga cukup tajam sehingga menyumbang ke deflasi yaitu  penurunan harga bawang merah yang menyumban deflasi 0,11%.  Lalu, harga daging ayam ras yang memberikan andil ke deflasi 0,04%. Kemudian, penurunan harga bawang putih yang memberikan andil kepada deflasi 0,03%. Selain itu, beras, cabai rawit, dan gula pasir yang  masing masing memberikan andil ke deflasi 0,01%

Sebaliknya beberapa komoditas yang memberikan andil ke inflasi karena komoditas ini masih memberikan andil kenaikan harga pada Juni ke Juli. Telur ayam ras memberikan andil ke inflasi 0,04% serta rokok putih yang memberikan andil ke inflasi 0,01%.

“Kalau diperhatikan banyak komoditas pangan yang memberikan andil penurunan harga secara tajam sehingga kelompok makanan minuman dan tembakau  memberikan andil ke deflasi 0,19%,” ucap Suhariyanto.

Kelompok transportasi mengalami deflasi sebesar 0,17% dan memberikan andil ke deflasi 0,02%. Komoditas yang paling dominan memberikan andil ke deflasi adalah turunnya tarif angkutan udara sebasr 0,05%. Pada saat yang sama komoditas yang mengalami kenaikan harga sehingga memberikan andil kepada inflasi sebesaa yaitu tarif angkutan antar kota dan tarif kendaraan roda empat online yang masing-masing memberikan andil ke inflasi sebesar 0,01%

“Penurunan tarif angkutan udara cukup dalam dan tidak bisa terkompensasi dengan keanikan tarif angkutan antar kota dan tarif kendaraan roda empat online,” kata dia.

Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Juli) 2020 sebesar 0,98% dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Juli 2020 terhadap Juli 2019) sebesar 1,54%. Komponen inti pada Juli 2020 mengalami inflasi sebesar 0,16%. Tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari– Juli) 2020 sebesar 1,03% dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Juli 2020 terhadap Juli 2019) sebesar 2,07%.

“Inflasi inti masih lemah meskipun ada sedikit peningkatan pada Juli 2020 ini menunjukan kita harus berupaya untuk terus menerus meningkatan daya beli masyarakat,” ucap Suhariyanto.

Kelompok pendidikan yang mengalami inflasi 0,16% dan memberikn  andil ke inflasi sebsar 0,01%. Komoditas yang mengalami kenaikan harga yaitu kenaikan uang sekolah siswa Sekolah Dasar (SD), terutama untuk swasta yang mengalami kenaikan tipis 0,01%.

“Meskipun ini pergantian tahun ajaran baru masih ada kenaikan uang sekolah sd untuk swasta,” ujarnya.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi sebesar 0,93% dan berandil ke inflasi sebesar 0,06%. Komoditas yang dominan adlaah kenaikan harga emas dan perhiasan yang memberikan andil ke inflasi 0,05%. Kenaikan harga emas terjadi di 80 kota dimana kenaikan tertingi terajdi di Bungu sebesar 10%, diikuti di Tarakan, Medan, dan Padang masing masing naik 9%.

“Harga emas terus naik tajam dan mencapai puncaknya pada beberapa hari terakhir ini,” papar Suhariyanto.

Berdasarkan hasil pendataan di 90 kota terdapat 61 kota mengalami deflasi dan 29 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Manokwari sebesar 1,09% dan terendah terjadi di Gunungsitoli, Bogor, Bekasi, Luwuk, dan Bulukumba masing-masing sebesar 0,01%. Sementara inflasi tertinggi terjadi di Timika sebesar 1,45% dan terendah terjadi di Jember dan Banyuwangi masing-masing sebesar 0,01%. 

 

 

Editor : Edo Rusyanto (edo_rusyanto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN