Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kilang Pertamina. Foto ilustrasi: bumn.go.id

Kilang Pertamina. Foto ilustrasi: bumn.go.id

Desember, Kesepakatan Pembentukan Joint Venture Proyek Petrokimia Ditandatangani

Retno Ayuningtyas, Minggu, 10 November 2019 | 17:23 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Pertamina (Persero) menargetkan penandatangan kesepakatan pembentukan perusahaan patungan (joint venture development agreement/JVDA) dengan China Petroleum Corporation (CPC) untuk Proyek Petrokimia Balongan pada Desember ini. Proyek petrokimia ini ditargetkan mulai beroperasi pada 2025.

Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina Ignatius Tallulembang mengatakan, progres proyek petrokimia di Balongan tersebut sudah cukup maju. Pihaknya sudah merampungkan prastudi kelayakan (pre- feasibility study/Pre-FS). Selain itu, penetapan lokasi proyek petrokimia ini juga sudah disepakati.

“Sudah disepakati dilakukan percepatan (pengerjaan proyek). Target Desember, akan dilakukan penandatanganan JVDA,” kata dia di Jakarta, Rabu (6/11).

Pertamina menggarap proyek petrokimia ini bersama China Petroleum Corporation (CPC) Taiwan. Keduanya sepakat membangun komplek petrokimia berupa pabrik naphta cracker dan unit pengembangan sektor hilir petrokimia berskala global di Indonesia. Proyek akan dikerjakan dengan skema joint venture antara Pertamina, CPC Taiwan, dan beberapa mitra hilir potensial lainnya. Nilai investasi proyek ini sekitar US$ 6,49 miliar.

Pabrik petrokimian ini, lanjut Tallulembang, memiliki kapasitas produksi ethylene 1 juta ton per tahun. Namun, keduanya juga akan membangun fasilitas yang memproduksi produk turunan petrokimia lainnya, sampai specialty products. “Target selesai 2025 akhir bisa selesai 100%,” ujar dia.

Progres yang ada, sebut Tallulembang, menunjukkan komitmen Pertamina yang serius membangun kilang petrokimia. Pertamina sangat berkomitmen untuk melaksanakan tugas, yakni selain menyediakan bahan bakar minyak (BBM) untuk kemandirian energi, juga membangun petrokimia yang dapat menambah produk domestik bruto (PDB) bagi negara dan mengurangi impor petrokimia.

“Selain itu, juga untuk mendapatkan profit, karena tugas sebagai BUMN itu juga mendapatkan profit. Bisnis petrokimia ini sangat profitable,” kata dia.

Menurut Tallulembang, fasilitas pengolahan petrokimia juga akan dibangun terintegrasi dengan kilang BBM. Saat ini perseroan tengah mengerjakan enam proyek kilang terintegrasi petrokimian. Sehingga, ketika permintaan akan BBM mulai berkurang, perseroan bisa mengubah mode pengolahan menjadi dominan petrokiman.

Integrasi ini, lanjutnya, akan menambah keekonomian proyek. Jika proyek kilang saja, maka keekonomiannya hanya 20-30 tahun. “Kalau Petrokimia, dalam 100-200 tahun ke depan akan jadi kebutuhan utama dan akan terus meningkat,” jelas dia.

Adanya proyek kilang baru akan mendongkrak produksi petrokimia Pertamina. Pertamina sempat menargetkan produksi petrokimianya meningkat dari 600 kilo ton per tahun (kilo tonnes per annum /KTPA) menjadi 6.600 KTPA setelah rampungnya proyek kilang perseroan.

Sebelumnya, Vice President Strategic Marketing Pertamina Waljiyanto menuturkan, saat ini pangsa pasar produk petrokimia saat ini yakni produk polimer baru sebesar 1%, olefin 20%, aromatik 21%, special petrochemical 56%, dan aspal/bitumen 51%. Perseroan menargetkan bisa meningkatkan pangsa pasar ini sehingga menjadi dominan. “Peningkatan dari penjualan petrokimia diharapkan sampai kurang lebih lima kali lipat,” kata dia.

Menurutnya, hal ini sejalan dengan kebijakan dari manajemen puncak Pertamina di mana pada 2020-2026 akan terjadi pergeseran bisnis Pertamina. Pada saat itu, tulang punggung bisnis Pertamina yang selama ini dari bisnis BBM secara perlahan akan beralih ke petrokimia.

“Hal ini sesuai dengan perubahan lingkungan usaha yang memang menuntut kami untuk mengimbanginya,” ujar Waljiyanto.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA