Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pakar Hukum Bisnis Universitas Gadjah Mada Paripurna P. Sugarda dalam webinar Risiko Bisnis Vs Kerugian Negara yang digelar Beritasatu Media Holdings, Kamis, 8 April 2021

Pakar Hukum Bisnis Universitas Gadjah Mada Paripurna P. Sugarda dalam webinar Risiko Bisnis Vs Kerugian Negara yang digelar Beritasatu Media Holdings, Kamis, 8 April 2021

Dibayangi Ancaman Korupsi, Kinerja Investasi BUMN Jadi Kurang Maksimal

Kamis, 8 April 2021 | 16:14 WIB
Herman

JAKARTA, investor.id  – Pakar Hukum Bisnis Universitas Gadjah Mada Paripurna P Sugarda menegaskan, investasi menjadi elemen penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk di investasi pasar modal. Namun saat ini kinerjanya belum begitu optimal lantaran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) cenderung bermain “aman” untuk mencegah dugaan korupsi, seperti kasus yang saat ini tengah membelit Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS-TK) atau BP Jamsostek.

“Untuk meningkatkan atau mempertahankan pertumbuhan ekonomi, ya dengan investasi. Tapi kalau iklim investasi kita ;diganggu’ atau bahasa Jawanya diweden-wedeni tindakan korupsi, ya sudah akhirnya main safe saja. Jadi tidak bisa maksimal, sehingga secara makro institusi bisnis kita, terutama BUMN mengalami hambatan untuk mencapai kinerja maksimal,” kata Paripurna dalam webinar “Risiko Bisnis Vs Kerugian Negara” yang digelar Beritasatu Media Holdings, Kamis (8/4/2021).

Bila langkah investasi yang dilakukan BUMN terus dibayang-bayangi kekhawatiran dugaan korupsi, Paripurna mengatakan keleluasaan mereka dalam berinovasi atau berkreativitas untuk mencapai laba yang maksimal akan sangat terganggu.

“Jadi sekarang ini di BUMN saya amati manajemen itu cenderung menjadi safety player saja, pokoknya ikutin, laba ya nggak usah tinggi-tinggi, yang penting selamat,” kata Paripurna.

Kondisi ini menurutnya tidak bisa dibiarkan. Apalagi investor institusi khususnya BUMN masih menjadi pelaku dominan di pasar modal. Belum lagi persaingan dengan dunia global.

“Jangan lupa, kita ini menghadapi persaingan global. Jadi kalau BUMN bersaing dengan swasta sudah kerepotan, apalagi BUMN yang harus bersaing di dunia global bisnis. Kemampuan untuk mengambil keputusan terutama di area bisnis tertentu terbatasi dengan ancaman Undang-Undang Tipikor. Ini yang harus kita selesaikan,” tutur Paripurna.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN