Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Digitalisasi Pertamina

Digitalisasi Pertamina

Digitalisasi SPBU, Tak Ada Lagi Kelangkaan BBM dan SPBU Nakal

Kamis, 14 Januari 2021 | 21:25 WIB
Euis Rita Hartati (erita_h@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Pertamina (Persero) berhasil menerapkan digitalisasi pada 5.518 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dengan demikian, seluruh tata niaga BBM dapat terpantau secara transparan, detail, dan realtime. Karenanya Pertamina dapat mendeteksi secara dini potensi kelangkaan BBM di satu wilayah dan juga mencegah terjadinya perilaku oknum SPBU yang nakal.

“Digitalisasi ini dilakukan untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan yang berujung pada peningkatkan pelayanan Pertamina kepada masyarakat,” kata Direktur Penunjang Bisnis Pertamina M Haryo Yunianto melakukan pengecekan program digitalisasi SPBU Pertamina di Gedung Telkom Akses Command Center, Legok, Tangerang, Kamis, (14/1).

Haryo mengatakan, digitalisasi SPBU merupakan salah satu bagian dari transformasi digital Pertamina Group. Pertamina bekerja sama dengan Telkom untuk melakukan operasional digitalisasi SPBU guna me-monitoring seluruh data yang terdapat pada noozle di 5.518 SPBU yang sudah terpasang.

Digitalisasi Pertamina
Digitalisasi Pertamina

“Melalui hal itu, Pertamina juga berupaya agar penggunaan data yang tercatat bisa berujung pada penggunaan bahan bakar minyak (BBM) subsidi tepat sasaran,” katanya.

Lebih lanjut CEO Sub-holding Commercial & Trading Pertamina Mas’ud Khamid mengatakan,setiap hari penjualan BBM Pertamina mencapai 160 ribu kilo liter (KL) dengan nilai transaksi mencapai Rp 1 triliun.

Sebelum adaya digitalisasi, dia tidak bisa mengetahui secara detaial mana SPBU yang mengalami kelangkaan atau mana SPBU yang nakal. “"Saya kalau mau lihat sales BBM, hasilnya baru diperoleh dua hari setelahnya. Itu pun angkanya bisa berbeda-beda. Jadi, saya tidak bisa menganalisa apa yang terjadi di lapangan yang sesungguhnya,” kata Mas'oed.

Berangkat dari amanat BPH Migas yang menugaskan Pertamina untuk menyalurkan BBM bersubsidi hingga 2022 dan adanya Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pertamina dan Telkom yang telah ditandatangani pada 2017, pihaknya pun giat melaksanakan program digitalisasi ini.

Dengan digitalisasi ini, ada lima manfaat yang diperoleh Pertamina. Pertama, Management Stock . Disini Pertamina bisa mengetahui posisi stok per jenis produk secara real time. Total ada 25 ribu tanki pendam yang tersebar di 5.518 SPBU.

“Jadi, dengan adanya management stock, kita bisa tahu BBM mana yang stoknya menipis di suatu BBM, maka bisa segera dilakukan pengisian darii TBBM, sehingga tidak ada lagi yang namanya kelangkaan atau antrian panjang. Karena semua sudah diantisipasi,” jelasnya.

Kedua, Management Sale, dimana Pertamina bisa mengetahui kinerja penjualan di setiap SPBU, termasuk mengetahui SPBU mana yang mengalami jam-jam sibuk, produk apa saja yang banyak dijual di SPBU tersebut, hingga berapa volume dan transaksi penjualan BBM di setiap SPBU. Dari sini, Pertamina bisa melihat mana SPBU yang melakukan transaksi secara tidak wajar, yakni mencapai lebih dari 200 liter per transaksi dengan satu konsumen.

Ketiga, Mengelola Losses. Dengan digitalisasi, Pertamina bisa mengetahui secara langsung dan realtime SPBU mana yang memiliki losses (susut) penerimaan BBM-nya. Bila penerimaan BBM di SPBU tersebut berkurang lebih dari batas 0,15%, maka pihaknya bisa menukar supir mobil tangki atau memeriksa mobil tangki guna mencegah oknum nakal atau biasa dikenal dengan istilah "tangki kencing di jalan".

“Bahkan bila diketahui terjadi transaksi tidak wajar, maka Pertamina akan bekerja sama dengan kepolisian setempat guna mencegah transaksi yang tak wajar itu kembali terjadi,” tegasnya.

Keuntungan lain dengan adanya digitalisasi SPBU ini adalah Pertamina menerapkan Transaksi Non Tunai (Cashless Transaction) melalui aplikasi My Pertamina. Dari sini, Pertamina bisa mengetahui konsumsi BBM rata-rata per mobil per harinya dan nilai transaksinya, berdasarkan plat nomor kendaraan. “Jadi, Pertamina bisa tahu mana konsumen yang konsumsi BBM nya tinggi,” ujarnya.

Keuntungan lainnya adalah Profiling Customer Data Base, dimana Pertamina bisa mengetahui secara detail data konsumen, mulai dari jenis kelamin, umur, jenis kendaraan, waktu pembelian, hingga produk yang sering dibeli.

Menurut Mas'ud, pihaknya bersyukur bisa bekerja sama dengan Telkom untuk mewujudkan digitalisasi ini. Pasalnya, selain sama-sama BUMN, hanya Telkom yang memiliki SDM dalam jumlah yang besar dan mampu menjangkau hingga ke pelosok daerah.

“Telkom memiliki 22 ribu engineer, kantor Telkom ada 6.000 di seluruh Indonesia. Per kabupaten ada sekitar 500 orang. Jadi, kalau ada SPBU yang bermasalah, teknisi Telkom bisa mengatasinya dengan cepat,” katanya.

Mas'ud mengatakan, pihaknya juga akan membangun command center khusus untuk pelanggan Pertamina di kantor baru Pertamina di kawasan gambir. "Nanti bentuknya seperti Command Center SPBU, tetapi khusus untuk pelanggan," ujar dia.

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN