Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Pemasaran PT Petrokimia Gresik Digna Jatiningsih (kiri) saat meninjau pemuatan 33 ribu ton pupuk Urea untuk ekspor ke Meksiko di Pelabuhan Petrokimia Gresik, Jumat (27/3/2020). Foto: Istimewa

Direktur Pemasaran PT Petrokimia Gresik Digna Jatiningsih (kiri) saat meninjau pemuatan 33 ribu ton pupuk Urea untuk ekspor ke Meksiko di Pelabuhan Petrokimia Gresik, Jumat (27/3/2020). Foto: Istimewa

DJBC Permudah Prosedur Ekspor-Impor Barang Curah Kegiatan Industri

Sabtu, 11 April 2020 | 17:12 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memberikan kemudahan prosedur ekspor dan impor untuk pelaku usaha, industri, maupun masyarakat terkait kegiatan impor dan ekspor barang dalam bentuk curah yang mengalami selisih berat dan/atau volume kurang dari 0,5%.

Relaksasi ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 26 Tahun 2020 tentang Perlakuan Kepabeanan atas Selisih Berat dan/atau Volume Barang Impor dalam Bentuk Curah dan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dalam Bentuk Curah.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi mengatakan, karakteristik alami barang dalam bentuk curah senantiasa mengalami pemuaian atau penyusutan. Sehingga sering kali terjadi selisih berat dan/atau volume antara yang disampaikan di pemberitahuan pabean dengan hasil pemeriksaan oleh petugas bea cukai.

Sedangkan sampai saat ini, kata dia, belum ada peraturan khusus yang mengatur prosedur terkait penanganan selisih tersebut. "Hal ini menyebabkan adanya perbedaan perlakuan kepabeanan atas selisih berat barang curah," kata Heru dalam pernyataan resmi yang diterima pada Jumat (10/4).

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa peraturan ini akan mengatur pemberlakukan atas selisih berat dan/atau volume terhadap barang impor maupun eskpor dalam bentuk curah seperti gandum, makanan ternak, gula, minyak dan barang lainnya yang berwujud cair, gas, atau padatan yang berbentuk potongan kecil, bubuk, maupun butiran.

Perlakuan kepabeanan itu dapat diberikan kepada eksportir dan importir apabila terdapat selisih pada saat pembongkaran barang impor atau pemeriksaan fisik. Selain itu, perlakuan juga diberikan apabila terjadi selisih audit kepabeanan dan kesalahan yang terjadi di luar kemampuan pengangkut yang disebabkan oleh faktor alam maupun perbedaan metode pengukuran.

Apabila melebihi 0,5%, eksportir dan/atau importir terkait harus dikenakan denda. “Selisih yang diberikan toleransi adalah tidak melebihi 0,5% dari total berat atau volume barang impor atau ekspor curah” jelas dia.

Dengan insentif ini, Heru berharap, dunia usaha yang mengimpor bahan baku ataupun mengekspor hasil produksi dalam bentuk curah dapat melaksanakan proses bisnis secara lebih efektif dan efisien dari sisi waktu serta biaya.

Pengaturan ini banyak terkait dengan industri manufaktur di bidang petrokimia, migas, CPO, pupuk, pemintalan, pangan, dan industri lainnya. “Insentif ini juga akan memberikan kepastian, hukum terkait penanganan selisih berat dan atau volume barang impor atau eskpor dalam bentuk curah dari sisi kepabenan,” jelas dia.

 

 

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN