Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Robert Pakpahan.

Robert Pakpahan.

DJP Gali Potensi Penerimaan Pajak Mitigasi Shortfall

Triyan Pangastuti, Sabtu, 3 Agustus 2019 | 20:59 WIB

BADUNG, investor.id - Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan memastikan akan terus memantau berbagai perkembangan terkait penerimaan pajak dan menggali potensi pos penerimaan lainnya, meskipun adanya potensi shortfall. Sebelumya, Kementerian Keuangan memperkirakan target pajak akan meleset atau shortfall Rp 140 triliun dari yang telah dipatok dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 sebesar Rp 1.577,56 triliun. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan penerimaan pajak yang kian melemah dari sisi pertumbuhan penerimaan impor yang melambat, hingga turunnya penerimaan sektor pertambangan.

Dirjen Pajak Robert Pakpahan mengakui, untuk mencapai target penerimaan pajak setiap tahunnya cukup menantang. Kendati demikian ia sudah meminta masing-masing direktur jenderal untuk melihat potensi tiap-tiap pos penerimaan dengan melakukan analisa secara rutin Asset and Liability Management (ALM).

"Dalam pelaksanaan ALM kami lihat dampaknya, tapi itu akan jadi bahaya kalau semuanya statis, tapi ini kan tidak. Kami lihat risiko dan ini masih termitigasi," ungkap Robert dalam Media Gathering DJP, di Bali, Jumat (2/8).

Selain itu, DJP juga akan memperkuat administrasi dari waktu ke waktu, supaya orang makin paham kewajibannya. Menurutnya, selalu challenging (menantang) target itu dari waktu ke waktu.

Tahun ini penerimaan pajak mengalami tantangan dari adanya dampak penurunan harga komoditas, sektor perdagangan, sektor manufakturing dan kondisi ekonomi global yang ikut berpengaruh ke domestik. Meski demikian, Robert memastikan akan terus memantau dari segala sisi. Dia masih berharap target tersebut bisa tercapai.

"Jadi, setelah lihat overall memang kan Ibu Menteri lihat outlook defisitnya ada. Tapi di bulan ke bulan kami pantau terus, kan outlook itu berubah juga, namanya juga membuat prediksi," kata dia.

Terkait gencarnya pemberian insentif perpajakan dan relaksasi yang dikeluarkan pemerintah tahun ini, menurutnya tidak terlalu besar dampaknya bagi penerimaan pajak. Sebab  langkah pemberian insentif merupakan langkah pemerintah untuk meningkatkan daya saing bagi dunia usaha dan diharapkan dapat berdampak pada tahun-tahun berikutnya.

"Ekonomi kita butuh investasi tinggi sehingga diarahkan untuk membuat kebijakan lebih efektif. Mari kita coba menghitung tidak terpaku jangka pendek, loss segini (karena insentif), tetapi dampak ikutannya itu setelah dua atau tiga tahun bisa lebih bagus," tuturnya.

Sebagai informasi, hingga semester I-2019, penerimaan pajak mencapai Rp 603,3 triliun atau hanya tumbuh 3,75% dari periode yang sama tahun lalu dan memenuhi 38,2% dari target APBN yang senilai Rp 1.577,5 triliun.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA