Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan memperlihatkan uang dolar AS di Bank Mandiri cabang Jakarta Bursa, Jumat (8/5/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawan memperlihatkan uang dolar AS di Bank Mandiri cabang Jakarta Bursa, Jumat (8/5/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Dolar Longsor ke Level Terendah dalam Dua Tahun Usai Fed Menegaskan Sikap Dovish

Kamis, 30 Juli 2020 | 07:40 WIB
Nasori

NEW YORK, investor.id - Dolar AS jatuh ke level terendah dua tahun pada akhir perdagangan pada Rabu (29/7) atau Kamis (30) pagi WIB, setelah Federal Reserve mengulangi janji untuk menggunakan "berbagai alat" guna mendukung ekonomi AS dan mempertahankan suku bunga mendekati nol selama itu diperlukan untuk pulih dari kejatuhan akibat wabah virus corona baru.

Bank sentral AS mengutip kekhawatiran tentang aktivitas ekonomi dan lapangan kerja yang masih "jauh di bawah level mereka pada awal tahun".

"Ini jelas sedikit lebih berhati-hati dan dovish, dan pada dasarnya memberitahu pasar mereka tidak akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Dalam lingkungan di mana pasar membuang dolar, itu alasan lain untuk menurunkannya," kata Kathy Lien, direktur pelaksana di BK Asset Management di New York.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, turun 0,44% menjadi 93,42 setelah mencapai serendah 93,17, yang terlemah sejak Juni 2018.

Euro menguat 0,56% menjadi US$ 1,1780, setelah sebelumnya mencapai US$ 1,1805, tertinggi sejak September 2018.

Greenback telah jatuh karena harapan bahwa Fed akan melanjutkan kebijakan moneter ultra longgar untuk tahun-tahun mendatang dan spekulasi bahwa hal itu akan memungkinkan inflasi berjalan lebih tinggi dari yang sebelumnya ditunjukkan sebelum menaikkan suku bunga.

Ini terjadi ketika Amerika Serikat menghadapi peningkatan terus-menerus dalam kasus virus corona baru bahkan ketika bagian lain dunia, termasuk Eropa, tampak telah menahan wabah.

"Prospek dolar tetap lemah mengingat tren yang berbeda dalam kasus-kasus virus corona antara Eropa dan AS," kata Ulrich Leuchtmann, kepala riset valuta asing dan komoditas di Commerzbank.

Kematian di AS akibat virus corona melampaui 150 ribu pada Rabu (29/7) , jumlah yang lebih tinggi daripada di negara mana pun dan hampir seperempat dari total dunia, menurut penghitungan Reuters.

Pelemahan mata uang AS telah memperlebar spread dengan yen Jepang dan sterling Inggris berada di tertinggi empat bulan, sementara dolar Australia mencapai tertinggi lebih dari satu tahun.

Dolar terakhir melemah 0,10% menjadi 104,97 yen. Sterling naik 0,45% menjadi US$ 1,2988 dan Aussie menguat 0,36% menjadi US$ 0,7183.

Di tempat lain, lira Turki tergelincir ke rekor terendah terhadap euro dan mata uang lainnya pada Rabu (29/7), karena kekhawatiran tentang cadangan yang menipis dan permintaan lokal untuk dolar membawa penjualan hari ketiga berturut-turut meskipun ada upaya-upaya untuk menstabilkan perdagangan.
 

 

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : ANTARA

BAGIKAN