Menu
Sign in
@ Contact
Search
Pupuk Indonesia

Pupuk Indonesia

Dukung Ketahanan Pangan, Pupuk Indonesia Tak Sekadar Memproduksi Pupuk  

Rabu, 30 Nov 2022 | 23:38 WIB
Euis Rita Hartati (erita_h@investor.co.id)

JAKARTA – Transisi energi dalam rangka mencapaiu target nol emisi karbon atau Net Zero Emission terus digalakkan oleh para stakeholder di dalam negeri. Tak hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh korporasi termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN). PT Pupuk Indonesia (Persero) atau Pupuk Indonesia Holding misalnya, terus melakukan transformasi untuk mendukung pencapaian target NZE itu. Tak sekadar memproduksi pupuk, Pupuk Indonesia juga melakukan transformasi untuk masuk ke dalam penyediaan ekosistem energi bersih.  

Bahkan Pupuk Indonesia menyiapkan Clean Ammonia untuk energi masa depan. Sejumlah langkah kolaboratif dilakukan dengan stakeholder lain baik Badan Usaha Milik Negara maupun swasta. Ke depan Pupuk Indonesia tak sekadar menjadi produsen pupuk terbesar di tanah Air, tetapi juga produsen produk kimia dan produsen energi bersih. SVP Pengembangan PT Pupuk Indonesia (Persero) Iwan Daru saat berbicara pada konferensi internasional Minyak dan Gas (IOG 2022) di Nusa Dua Bali, pekan lalu menegaskan, produksi Ammonia Pupuk Indonesia akan digunakan untuk beragam kebutuhan, Selain untuk pabrik pupuk, juga untuk sektor transportasi hingga pembangkit listrik. “Target 2050 akan tercapai pengurangan emisi setara 5 juta ton CO2,” tegasnya. 

Pada proyek Blue Ammonia di Aceh, Pupuk Indonesia akan menggandeng Mitsui, Energi Mega Persada – Gebang, dan PGN. Sedangkan proyek Blue Ammonia di Jawa Barat akan bekerjasama dengan Pertamina, dan Mitsubishi Corporation. Untuk pengembangan Green Hydrogen, Pupuk Indonesia menggandeng PLN, Mitsubishi Corporation,  dan Pertamina Power Indonesia di Jawa Barat. Sedangkan untuk wilayah Bontang, berkolaborasi dengan PLN, dan Pertamina Power Indonesia. “Kami berkolaborasi dengan banyak pihak untuk pengembangan proyek itu,”tuturnya. vSaat ini, Pupuk Indonesia menajadi produsen terbesar pupuk nasional. Kapasitas produksi mencapai 14.012.500 ton per tahun. Sedangkan untuk produk lainnya mencapai 8.694.000 ton per tahun.  

Sedangkan Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Bakir Pasaman menegaskan, volume perdagangan ammonia untuk saat ini mencapai 21 juta ton di seluruh dunia. Namun pada tahun 2030, volume perdagangan ammonia untuk sumber energi diprediksi mencapai 30 juta ton.

Advertisement

“Jadi seluruh dunia mulai memikirkan untuk memproduksi, baik green maupun blue ammonia,” ujar Bakir dalam webinar beberapa waktu lalu.  Oleh karena itu, lanjut Bakir, pemanfaatan energi ramah lingkungan ini juga harus dioptimalkan kedepannya. Karena saat ini Pupuk Indonesia adalah pemain utama ammonia di Indonesia. “Green energy ini yang sangat menarik, artinya sebagai pemain amoniak tentunya kita menjadi leading sector di Indonesia, atau di wilayah Asia sebagai produsen blue ammonia maupun green ammonia,” ungkap Bakir.

Selain berpotensi menjadi pemain utama di Asia, pengembangan blue dan green ammonia sebagai sumber energi ramah lingkungan, juga menjadi salah satu upaya perusahaan untuk mendukung target penurunan emisi karbon. Untuk mewujudkan hal tersebut, Bakir menyebutkan bahwa Pupuk Indonesia sudah melakukan berbagai macam kerjasama. Selain itu, Pupuk Indonesia juga telah memiliki peta jalan atau roadmap, yang terdiri dari tiga tahap.

Pertama, tahap jangka pendek pada tahun 2023-2030. Pada tahap ini, Pupuk Indonesia mulai memanfaatkan sumber energi terbarukan, sekaligus mengurangi emisi. Adapun sumber energi tersebut berasal dari hydropower yang diperoleh dari PLN.  Sumber energi ini mulai menggantikan pemakaian minyak atau gas bumi sebagai sumber pembangkit listrik pada pabrik pupuk. 

“Itu sudah ada di pabrik Pupuk Kujang dan Petrokimia Gresik. Tahun depan akan diterapkan mulai dari Pusri Palembang, Pupuk Kaltim, dan Pupuk Iskandar Muda. Ini yang bisa kita lakukan dalam short term,” jelas Bakir.

Selain itu, Pupuk Indonesia juga akan melakukan revamping atau pengembangan pabrik pupuk untuk meningkatkan efisiensi energi dan penurunan emisi karbon, serta pengembangan green ammonia dengan memanfaatkan pabrik eksisting. Tidak hanya itu, emisi kabron juga akan dimanfaatkan untuk pengembangan produk Soda Ash yang bermanfaat sebagai bahan baku bagi industri kaca, keramik, dan sebagainya.

“Kita coba memulai menghilangkan CO2 dengan mengkonversi ke dalam bentuk lain, misalnya soda ash yang bahan bakunya itu adalah carbon dioxide, ini bisa kita konversi menjadi soda ash dan bisa mengurangi emisi CO2, dan kita mengurangi energi yang berlebihan sehingga karbon yang dibuang menjadi lebih sedikit,” jelas Bakir.

Selanjutnya, pada jangka menengah, yaitu pada periode 2030-2040. Pada tahap ini, Pupuk Indonesia mulai mengembangkan blue ammonia. Adapun karbon yang terbentuk dari proses produksi ammonia ini dapat diinjeksikan ke dalam tanah melalui Carbon Capture Storage (CCS). Injeksi karbon ini akan lebih efisien jika dilakukan pada reservoir sumur minyak ataupun gas tua di Indonesia. Pupuk Indonesia sendiri sudah melakukan studi dengan sejumlah perusahaan dari Jepang untuk hal tersebut.

Strategi yang ketiga dilakukan pada periode 2040-2050 atau jangka panjang, Bakir mengungkapkan bahwa Pupuk Indonesia grup akan melakukan pengembangan pabrik baru green ammonia dengan skala komersil yang diproduksi menggunakan sumber energi terbaru seperti pembangkit tenaga air atau hydro power dan geothermal demi mewujudkan industri ramah lingkungan.

Bakir menyebut banyak perusahaan di dunia sudah mulai mengembangkan green dan blue ammonia. Ammonia sendiri merupakan media untuk mendistribusikan hidrogen sebagai sumber energi masa depan.

Oleh karena itu, Bakir berharap Pupuk Indonesia grup bisa menjadi pemain utama di sektor ini. Bakir optimis dapat menangkap peluang ini, karena Pupuk Indonesia memiliki fasilitas dan sangat berpengalaman dalam pengelolaan produksi dan penyimpanan ammonia. Namun demikian, untuk mewujudkannya, Bakir mengungkapkan terdapat sejumlah tantangan, diantaranya membutuhkan investasi yang besar. Namun, Pupuk Indonesia sudah memiliki kerjasama dengan Pertamina dan PLN untuk memanfaatkan ammonia untuk mendukung penyediaan energi baru dan terbarukan.

Berbagai terobosan dan inovasi terus dilakukan. Pupuk Indonesia berhasil mengurangi gas rumah kaca hingga 89,15 ton karbon dioksida (CO2) dari pemanfaatan gipsum sepanjang tahun 2015 hingga 2022. Direktur Operasi dan Produksi Petrokimia Gresik, Digna Jatiningsih dalam keterangan resminya mengatakan, Petrokimia Gresik berupaya menjaga lingkungan dengan memanfaatkan gipsum menjadi produk bernilai tambah bagi pertanian dan industri nasional. 

Diantaranya, untuk pembuatan pupuk ZA, Neutralized Crude Gypsum (NCG) dan Petro-Cas, serta pembuatan Purified Gypsum. Limbah gipsum yang dihasilkan Petrokimia Gresik tidak termasuk golongan Bahan Berbahaya  dan Beracun (B3) sesuai dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan  Nomor SK.238/MENLHK/SETJEN/PLB.3/5/2021. “Dengan status ini,  Petrokimia Gresik lebih flexible dalam pemanfaatannya,” kata Digna. 

Gipsum Petrokimia Gresik merupakan produk sekunder dari pabrik bahan baku NPK, yaitu  asam fosfat (phosphoric acid). Hilirisasi produk gipsum ini juga menjadi bagian dari program  related diversified industry yang dijalankan perusahaan. 

Adapun total pemanfaatan gipsum Petrokimia Gresik untuk produksi pupuk ZA selama periode  2015-2022 sebanyak 1.689.405 ton. Pupuk ini dapat meningkatkan produksi hasil tebu dan tanaman hijau menjadi lebih segar.  Petrokimia Gresik juga mengoptimalkan 1.249.872,46 ton gipsum untuk produksi NCG dan  Petro-Cas di periode yang sama. NCG sendiri dapat dimanfaatkan untuk bahan baku pembuatan bata ringan, plasterboard. Sementara untuk Petro-Cas diproduksi Petrokimia Gresik untuk memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman. 

Sementara, untuk memproduksi purified gypsum, Petrokimia Gresik telah memanfaatkan gipsum hingga 5.247.342,24 ton, selama 2015 hingga 2022. Purified Gypsum diproduksi untuk mendukung kemajuan industri semen nasional, yaitu sebagai bahan penolong Dari pemanfaatan gipsum selama tujuh tahun ini, Petrokimia Gresik mampu mereduksi gas rumah kaca sekitar 89,15 ton karbon dioksida dari penggunaan alat transportasi dan alat berat. 

"Pemanfaatan gipsum ini menjadi upaya Petrokimia Gresik untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan hidup, karena kepedulian terhadap lingkungan menjadi instrumen penting bagi perusahaan untuk keberlangsungan perusahaan," ujarnya. 

Sementara itu, COP-27 UNFCCC menjadi event yang mempresentasikan wajah Indonesia  Pavilion sebagai soft diplomacy untuk memberikan kepercayaan kepada dunia internasional terhadap komitmen Indonesia dalam perang melawan perubahan iklim. 

Selain menjadi produsen terbesar pupuk nasional, produk Pupuk Indonesia selama ini juga menjadi andalan masyarakat dalam meningkatkan produktivitas pangan. “Kalo pupuk selama ini Alhamdulillah aman. Kami menggunakan produk NPK dan Urea dari Pupuk Kujang. Produktivitas kami sangat baik, kendalanya hanya pada iklim saja,”ujar Ketua Kelompok Tani Dewi Sri di Desa Cariumulya, Kecamatan Telagasari Kabupaten Karawang Haji Kartim. Pria yang akrab disapa Akom ini mengkoordinir 60 anggota dengan 64 hektare lahan dan produksi padi hingga 10 ton. “Kualitas pupuk dari Pupuk Kujang sangat baik,”urainya.

 

Editor : Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com