Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengamat ekonomi Aviliani. Foto: IST

Pengamat ekonomi Aviliani. Foto: IST

Ekonom: Pelebaran Defisit Anggaran Tak Hanya Terjadi di Indonesia

Minggu, 28 Juni 2020 | 13:01 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani mengatakan, upaya meningkatkan defisit tidak hanya terjadi di Indonesia. 

Upaya meningkatkan defisit terjadi karena negara harus membantu masyarakat khususnya untuk kelompok miskin serta dunia usaha. Sehingga  mengurangi jumlah tenaga kerja yang terkena Pemutusah Hubungan Kerja (PHK).

“Berapapun defisit  yang penting dalam tiga tahun dalam di atas 3%. Defisit bisa lebih 3% tergantung  kebutuhan masayrakat dan biaya recovery ekonomi,” ucap Aviliani dalam diskusi virtual yang berlangsung pada Sabtu (27/6).

Dalam Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2020 pemerintah sudah memutuskan untuk melebarkan defisit APBN menjadi 6,34% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Lebih lanjut Aviliani mengatakan setelah ditemukannya vaksin belum tentu krisis selesai. Sebab kondisi ketidakpastian masih sangat mungkin terjadi.

Oleh karena itu kebijakan-kebijakan yang ada baik itu korporasi maupun pemerintah itu harus selalu menyesuaikan.

“Kalau tidak menyesuaikan maka yang terjadi adalah sesuatu akan terjadi lebih buruk,” kata Aviliani.

Kondisi ekonomi di akhir tahun 20219 atau kondisi pra covid pertumbuhan ekonomi berada di angka 5,02%. Kemudian ketika terjadi covid 19 pertumbuhan ekonomi menurun drastis di angka 2,97%.

Dengan kemungkian pertumbuhan ekonomi negatif di kuartal II 2020. Sebab saat pandemi covid 19 terjadi pemerintah menjalankan kebiijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan physical distancing.

Saat kebijakan tersebut berjalan maka kegiatan ekonomi dan sosial benar benar tidak berjalan.

“Jangan lupa perekonomian di Pulau Jawa dan Sumatera itu mendominasi pasar di Indonesia Makanya konsumsi pemerintah sampai dengan akhir tahun kemungkinan tumbuh hanya sampai 2,3%,” pungkas Aviliani.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN