Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: Uthan A Rachim

Bank Indonesia. Foto: Uthan A Rachim

Ekonom: Tidak Ada Alasan BI Tahan Suku Bunga Acuan

Triyan Pangastuti, Kamis, 18 Juli 2019 | 10:12 WIB

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) diperkirakan menurunkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRRR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75%, dalam keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar pada 17 Juli-18 Juli 2019. Bank sentral dinilai tak lagi memiliki alasan untuk menahan penurunan suku bunga acuan yang telah bergeming sejak November 2018.

Level terendah suku bunga acuan yang diputuskan RDG BI sejak diterapkannya BI 7-Day Reverse Repo Rate pada pertengahan April 2016 adalah adalah 4,25%. Level ini bertahan selama periode September 2017 hingga Mei 2018. Namun, setelah itu BI secara perlahan menaikkan suku bunga acuan hingga 1,75% menjadi 6%, akibat pelemahan kurs rupiah yang cukup dalam.

Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede memprediksi, BI akan menurunkamn suku bunga acuannya sebesar 25 bps setelah mempertimbangkan kondisi perekonomian dan nilai tukar rupiah yang cukup stabil dalam sebulan terakhir.

“Volatilitasnya dan mengarah peguatan dalam beberapa hari terkahir. Ekspektasi inflasi juga masih inline dengan target inflasi BI, dimana tidak ada kenaikan harga–harga yang diatur pemerintah. Jadi, ekspektasi inflasi terkendali sesuai target” jelas Josua saat dihubungi Investor Daily, Rabu (17/7).

Hari ini, Kamis (18/7), Gubenur BI Perry Warjiyo bersama Anggota Dewan Gubernur BI dijadwalkan menggelar konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) selama dua hari. Pada kesempatan itu akan disampaikan hasil rapat, di antaranya keputusan mengenai berubah atau tidaknya BI 7-Day Reverse Repo Rate.

Menurut Josua, kondisi domestik terkait dengan defisit neraca transaksi berjalan (current account defisit) secara keseluruhan akan lebih baik, yakni sebesar 2,7% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka ini lebih rendah dibandingkan CAD pada tahun lalu yang mendekati 3% PDB.

“BI akan mempertimbangkan keseimbangan dalam negeri dan eksternal, serta mempertimbangkan sentimen perang dagang. Meksipun masih ada sentimen perang dagang, diharapkan tidak membuat kepanikan di pasar," kata Josua. 

Sinyalemen kuat bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed) bakal menurunkan suku bunga acuan The Fed fund rate tahun ini dan faktor domestik yang positif, membuat ruang bagi BI untuk melonggarkan suku bunga acuan semakin lebar.

Dalam pernyataan publik terakhirnya, Gubernur The Fed Jerome Powell menonjolkan gestur bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuan AS (Fed Fund Rate) sebesar 25-50 basis poin untuk memompa kegiatan ekonomi AS. Ini sesuai dengan ekspektasi pasar soal pemangkasan suku bunga The Fed.

Pasar melihat, kondisi pasar AS tidak sekuat tahun lalu, yang tercermin melalui inflasi diperkirakan di bawah target 2%. Berdasarkan assessment Federal Open Market Committee (FOMC), kondisi ini semakin membuka ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga acuan tahun ini.

“Jangka pendek, yakni enam bulan ke depan akan ada penurunan BI7DRRR 25-50 bps. RDG bulan ini tebuka potensi penurunan suku bunga. Penurunan dengan mempertimbangkan masih ada ketidakapstian dan faktor dalam negeri sebab CAD juga masih sedikit di atas defisit indiaktor Bi," jelas dia.

Menurut Josua, jika BI menurunkan suku bunga acuannya sebanyak 25 bps dalam RDG kali ini, maka akan semakin menggairahkan sisi investasi. Sebab penurunan suku bunga diharapkan dapat mendukung momentum pertumbuhan. “Ini tantangan perekonomian sebab outlook ekonomi kita agak lebih rendah dari APBN, yang juga tercermin dari realisasi penerimaan pajak tidak sebaik tahun sebelumnya,” pungkas dia.

Bankir Proyeksi BI Turunkan Bunga Acuan 25 Bps

Stimulus Moneter

Senada dengan Josua, pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, BI idealnya menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps hingga 50 bps sebelum Fed menurunkan suku bunganya sebagai langkah pre-emptive. Lebih, langkah penurunan suku bunga diyakini dapat mendorong sektor riil.

“Tidak ada alasan BI menahan suku bunga. Sektor riil juga membutuhkan stimulus moneter, agar beban bunga menurun dan bisa lebih ekspansif,” tutur dia saat dihubungi Investor Daily, Rabu (17/7).

Dia menyebut, jika suku bunga acuan diturunkan maka secara teori moneter uang akan berpindah dari simpanan ke investasi, bisa dalam bentuk saham ataupun sektor riil, sehingga pengusaha bisa mendapatkan dana murah.

Appetite (gairah) untuk memegang surat utang juga berkurang. Akhirnya, likuiditas di pasar naik dan pengusaha mendapatkan dana murah. Untuk tahun ini, BI terbuka ruang untuk menurunkan suku bunga sebanya 50-75 bps” tutup dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN