Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
(Dari kiri) Direktur Departemen Komunikasi BI Junanto Herdiawan, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Endy Dwi Tjahjono dan Kepala Ekonom BNI Ryan Kiryanto dalam pelatihan wartawan Bank Indonesia di Hotel Ayana, Labuan Bajo Senin (9/12).

(Dari kiri) Direktur Departemen Komunikasi BI Junanto Herdiawan, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Endy Dwi Tjahjono dan Kepala Ekonom BNI Ryan Kiryanto dalam pelatihan wartawan Bank Indonesia di Hotel Ayana, Labuan Bajo Senin (9/12).

Ekonomi Dunia Melambat, Pemerintah Harus Optimalkan Konsumsi Domestik

Selasa, 10 Desember 2019 | 14:38 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

LABUAN BAJO - Kondisi perekonomian dunia dinilai masih akan melambat. Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok masih berpengaruh negatif untuk pertumbuhan ekonomi global. Perang kebijakan tarif antarkedua negara ikut memengaruhi volume perdagangan dunia yang terjadi.

“Kami (sempat) optimistis saat ada trade deal dengan Tiongkok, tapi ada masalah baru terkait UU Migrasi, AS mendukung imigran dan pemortes di Hong Kong dan Uighur sehingga membuat perjanjian dagang mentah lagi,” ucap Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter Bank Indonesia (BI) Endy Dwi Tjahjono, di Hotel Ayana, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (9/12).

Ia mengatakan, pembatasan perdagangan Amerika tidak hanya dilakukan terhadap Tiongkok tetapi meluas ke negara lain seperti Prancis, Argentina, dan Brazil. Oleh sebab itu, pihaknya memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini hanya berkisar 3%, lebih rendah dari tahun lalu yang mencapai 3,6%. Perlambatan juga terjadi pada pertumbuhan ekonomi Amerika yang diramal merosot dari 2,9% menjadi 2,3% dan Tiongkok dari 6,6% menjadi 6,2%. “Sejalan dengan pertumbuhan melambat volume perdagangan dunia turun 2,6% sampai 3%, jauh melambat dari tahun lalu dan diikuti penurunan harga komoditas ekspor Indonesia. Secara total 2018 komoditas ekspor turun 2,8%, di 2019 turun dalam lagi 4%,” ujar dia.

Endy mengungkapkan, dalam kondisi ketidakpastian ini perekonomian Indonesai juga mengalami perlambatan pertumbuhan menjadi 5,01% di kuartal III-2019. Ia menilai, jika dilihat secara pola musiman pertumbuhan ekonomi bisa terdongkrak di kuartal IV. Jumlah konsumsi diyakini akan meningkat, sebab adanya Tunjuangan hari raya (THR) dan perayaan Natal dan Tahun Baru. Pihaknya memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di level 5,1% pada 2019, dan berkisar 5,1-5,5% pada 2020. “Dari sisi fiskal, juga akhir tahun semua anggaran keluar, semua diselesaikan di kuartal IV, jadi melonjak di pengeluaran pemerintah,” ucap Endy.

Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Ryan Kiryanto mengatakan, tingginya jumlah konsumsi rumah tangga ikut menjaga kestabilan ekonomi domestik. Dari sisi perdagangan sebenarnya Indonesia tidak terlalu terkena dampak besar dari perlambatan ekonomi global. Sebab perekonomian Indonesia ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Indonesia juga belum menjadi bagian dari rantai pasok global (global value chain). “Ketika ekonomi dunia melemah maka negara yang mengandalkan ekspor sebagai sumber pertumbuhan ekonomi,” ucap Ryan.

Namun tidak berarti perekonomian domestik tidak terkena dampak dari perekonomian global. Kondisi perang dagang ikut memengaruhi keseimbangan neraca perdagangan domestik. Sebab, Amerika dan Tiongkok adalah negara mitra dagang terbesar Indonesia. Sehingga saat perekonomian kedua negara melambat, juga turut memengaruhi permintaan ekspor Indonesia.

Ryan menjelaskan, penurunan pertumbuhan ekonomi Amerika sebesar 1% akan menurunkan pertumbuhan ekonomi Indonesai sebesar 0,05%. Bila Tiongkok mengalami perlambatan ekonomi, pertumbuhan ekonomi Indonesia menurun 0,27%. "Artinya, setiap 1% penurunan pertumbuhan ekonomi Amerika dan Tiongkok, pertumbuhan ekonomi Indonesia turun 0,32%," ucap Ryan.

Editor : Kunradus Aliandu (kunradu@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN