Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
AS-Tiongkok. Foto ilustrasi: IST

AS-Tiongkok. Foto ilustrasi: IST

Ekonomi Dunia yang Menuju Resesi, Bukan Indonesia

Triyan Pangastuti, Minggu, 8 September 2019 | 10:11 WIB

JAKARTA, investor.id –Laporan Bank Dunia yang memproyeksikan perlambatan ekonomi global dengan ancaman resesi dan eskalasi perang dagang antara AS dan Tiongkok yang meningkat, tidak berarti menandakan bahwa Indonesia akan menuju resesi, melainkan ekonomi dunia yang menuju resesi. Itu sudah tercermin dari inverted yield curve di Amerika Serikat.

Deputi Makro Menko Perekonomian Iskandar Simorangkir. Foto: ekon.go.id
Deputi Makro Menko Perekonomian Iskandar Simorangkir. Foto: ekon.go.id

“Laporan tidak mengatakan Indonesia menuju resesi, namun negara di dunia. Hal ini terjadi karena perang dagang AS dan Tiongkok yang berlarut,” jelas Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Iskandar Simorangkir mengatakan, Jumat (6/9).

Ketidakpastian akibat perang dagang AS dan Tiongkok juga membuat pengalihan 33 persuhaaan Tiongkok ke Vietnam dan 10 perusahaan masuk ke negara lain, namun tidak ada yang masuk ke Indonesia. Hal ini disebabkan perjanjian di Indonesia yang tidak secepat dengan Vietnam.

“Makanya dua hari lalu pada rapat terbatas, presiden perintahkan untuk memotong lagi perizinan di kementerian dan lembaga yang tidak perlu dan perjanjian usaha dipercepat agar FDI masuk ke Indonesia,” papar dia.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet melihat tantangan tahun ini lebih banyak dibandingkan tahun lalu, khusus dari sisi global lebih kepada eskalasi perang dagang.

Yusuf Rendy Manilet, Peneliti di Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia.
Yusuf Rendy Manilet, Peneliti di Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia.

“Tadinya eskalasi perang dagang hanya melibatkan Tiongkok dan AS, namun tahun ini sudah melibatkan Korea Selatan dan Jepang,” ujarnya kepada Investor Daily, Jumat (6/9).

Ia mengatakan, perang dagang antara Tiongkok dan AS semakin memanas dengan pengenaan tariff barang yang lebih banyak.

Dari dalam negeri, perlambatan pertumbuhan industri manufaktur berdampak pada minimnya pertumbuhan ekonomi nasional. Perlambatan manufaktur salah satunya disebabkan rendahnya investasi pada sektor ini sampai dengan kuartal II-2019.

Dia mengatakan, minimnya foreign direct investment yang masuk karena iklim investasi yang belum sepenuhnya baik di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh adanya permasalahan perizinan, koordinasi pemerintah pusat dan daerah, hingga masih tingginya ongkos logistik yang menahan investor untuk berinvestasi, meskipun sudah diberikan berbagai insentif.

“Memang betul insentif sudah diberikan dalam bentuk perpajakan, namun insentif pajak tidak bisa bekerja sendiri. Insentif pajak harus dikombinasikan dengan menyelesaikan masalah structural ekonomi,” jelasnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN