Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Airlangga Hartarto

Airlangga Hartarto

Ekonomi RI Berpeluang Pulih Lebih Cepat

Senin, 13 Juli 2020 | 12:53 WIB
Triyan Pangastuti ,Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Perekonomian nasional tahun ini masih bisa tumbuh 0,5-0,9% dan berpeluang pulih dengan pola ‘V’ (V-shape) atau menukik tajam dalam tempo singkat, namun kemudian melejit kembali secara cepat.

Kunci pemulihan ekonomi domestic terletak pada kemampuan pemerintah dalam memutus rantai penyebaran Covid-19 dan mencegah gelombang kedua (second wave) pandemi.

Selain itu, pemerintah harus all out mengoptimalkan penyaluran stimulus fiskal dan menggenjot belanja di kementerian dan lembaga (K/L).

Penanganan Covid yang efektif akan menjadi titik balik pemulihan ekonomi seiring meningkatnya keyakinan para pengusaha dan investor untuk memulai bisnis dan investasi.

Sebaliknya, jika pandemic meluas dan jumlah korban terus bertambah, pemulihan ekonomi bisa buyar. Karena itu, demi mencegah gelombang kedua corona, pemerintah harus berani melakukan penegakan hukum (law enforcement) terhadap masyarakat yang melanggar protokol kesehatan. Pelonggaran Pembatasan Sosisal Berskala Besar (PSBB) juga mesti dilakukan secara cermat dan hati-hati.

Hal itu diungkapkan ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Fadhil Hasan, Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Ryan Kiryanto, peneliti Indef Enny Sri Hartati, dan peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet. Mereka dihubungi Investor Daily secara terpisah di Jakarta, akhir pekan lalu.

Sementara itu, Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, untuk mencegah kontraksi ekonomi tahun ini, pemerintah akan menggenjot belanja barang dan belanja modal pada kuartal III dan IV, serta mengintensifkan penyaluran dana stimulus. Dengan memacu pertumbuhan ekonomi kuartal III dan IV, pertumbuhan ekonomi 2020 diproyeksikan tetap positif.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi kuartal I-2020 hanya tumbuh 2,97% secara tahunan (year on year/yoy) dan terkontraksi 2,41% secara kuartalan (quarter to quarter/q to q). Pemerintah memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada kuartal II-2020 minus 3,8%. Kontraksi terjadi seiring diberlakukannya PSBB di berbagai daerah untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Untuk mengatasi pandemi corona dan dampaknya terhadap perekonomian, pemerintah menganggarkan dana stimulus fiskal senilai total Rp 695,20 triliun. Dana itu dialokasikan untuk bidang kesehatan, perlindungan sosial, insentif dunia usaha, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pembiayaan korporasi, serta sektoral K/L dan pemda. Sebagian kecil dana stimulus sudah terealisasi.

Di sisi lain, hingga semester I, realisasi belanja pemerintah pusat mencapai 33,8%, belanja K/L 41,9%, belanja non-K/L 27,9%, serta transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) 52,4%. Khusus belanja barang dan modal K/L, realisasinya mencapai 36,5% dan 27,4%.  

Lebih Cepat

Ryan Kiryanto
Ryan Kiryanto

Menurut Kepala Ekonom BNI, Ryan Kiryanto, untuk periode setahun penuh, pertumbuhan PDB masih berpeluang tumbuh positif, meski pada kuartal II-2020 hampir dipastikan mengalami kontraksi dengan perkiraan minus 2,5% hingga minus 3,5%.

Agar peluang itu bisa terwujud, kata dia, dibutuhkan setidaknya dua syarat. Pertama, ekonomi kuartal III-2020 sebisa mungkin diupayakan kembali tumbuh positif melalui sejumlah percepatan ekonomi, terutama di sisi belanja pemerintah, seperti bantuan sosial (bansos), program Kartu Prakerja, dan berbagai stimulus.

Syarat kedua adalah tidak terjadi gelombang kedua penyebaran Covid-19. Gelombang pertama pandemic corona pun harus segera diakhiri.

“Bila syarat itu terpenuhi, ekonomi kuartal III akan mendaki, syukur bisa positif 0,2, 0,3, atau 0,5%. Sebab kalau minus 0,1% saja, artinya kita technically sudah resesi,” ujar dia.

Ryan Kir yanto menjelaskan, ekonomi yang tumbuh positif pada kuartal III-2020 dan tidak adanya second wave Covid sangat dibutuhkan. Soalnya, secara psikologis, hal itu akan mendorong keyakinan para pengusaha dalam negeri untuk memulai bisnis dan keyakinan investor asing untuk kembali berinvestasi.

Pada kuartal III-2020, menurut Ryan, belanja pemerintah benar-benar harus digenjot karena swasta belum cukup kuat dan masih ragu untuk kembali berusaha secara penuh. Pada saat bersamaan, UMKM harus didorong melalui berbagai stimulus yang sudah disiapkan, sehingga daya beli masyarakat kembali meningkat.

“Jadi, pada kuartal III, yang lebih cocok menjadi pengungkit ekonomi adalah UMKM, karena demand-nya belum besar. Ini sekaligus untuk memperbaiki daya beli masyarakat. Baru setelah daya beli membaik, pada kuartal VI-2020 korporat muncul. Kalau sekarang, produk mereka tidak akan terserap,” papar dia.

Realisasi belanja barang, belanja modal, serta struktur dan pertumbuhan PDB
Realisasi belanja barang, belanja modal, serta struktur dan pertumbuhan PDB

Berdasarkan lapangan usaha, kata Ryan Kiryanto, yang harus digencarkan pada kuartal III-2020 di antaranya sektor-sektor yang memproduksi kebutuhan dasar (basic needs) dan kebutuhan sehari-hari (fast moving consumer goods). Jika dua syarat itu terpenuhi, perekonomian Indonesia tahun ini bisa tumbuh 0,5-0,9% dan pulih dengan pola V-shape.

Namun, bila second wave sampai terjadi, perekonomian kita akan pulih dalam rentang waktu yang lama. Seperti logo Nike, pulih tapi lambat. Ini yang saya khawatirkan,” ucap dia. Karena itu, menurut Ryan, di tengah masyarakat jangan sampai muncul narasi bahwa new normal adalah kondisi yang sudah normal, sehingga mereka bisa berperilaku seperti sebelum pandemi, misalnya tak lagi memakai masker dan tidak lagi menjaga jarak. (ns/az)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN