Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam acara Investor Daily Summit sesi diskusi Mendorong Industri Otomotif Ramah Lingkungan

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam acara Investor Daily Summit sesi diskusi Mendorong Industri Otomotif Ramah Lingkungan", Rabu, 14 Juni 2021.

Ekspor CPO Dilarang, Indonesia Dapat Apa? 

Rabu, 20 Oktober 2021 | 19:37 WIB
Leonard AL Cahyoputra (leonard.cahyoputra@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, rencana penghentian ekspor minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dilakukan untuk menggenjot hilirisasi komoditas unggulan Indonesia tersebut. Pengembangan industri pengolahan minyak sawit diharapkan dapat memacu nilai tambah ekonomi dari bahan baku lokal tersebut.

“Selama ini, hilirisasi dapat bermanfaat dalam meningkatkan nilai tambah terhadap perekonomian nasional, di antaranya peningkatan pada investasi, penyerapan tenaga kerja, dan pertumbuhan industri manufaktur di dalam negeri,” ujar Menperin dalam keterangannya, Rabu (20/10).

Melalui kebijakan hilirisasi, lanjut dia, pemerintah menargetkan Indonesia bisa menjadi pusat produsen produk turunan minyak sawit di dunia pada tahun 2045. Hal ini juga akan membuat Indonesia menjadi penentu harga CPO global. Pasalnya, Indonesia sudah menguasai pasar ekspor CPO di kancah global sebesar 55%.

Di samping itu, kata Menperin, kenaikan harga komoditas CPO, diharapkan bisa menjadi peluang untuk pengembangan industri hilirnya. Hal ini akan berdampak positif pada multiplier effect yang luas bagi perekonomian nasional, khususnya penerimaan devisa negara dan kesejahteraan masyarakat.

Presiden Joko Widodo telah menegaskan, Indonesia harus bisa menghentikan ekspor CPO agar komoditas tersebut dapat diolah menjadi produk turunan yang bernilai tambah tinggi. “Di suatu titik nanti, setop yang namanya ekspor CPO. Harus jadi kosmetik, harus jadi mentega, harus jadi biodiesel, dan turunan lainnya,” ujar Kepala Negara.

Presiden mengatakan, Indonesia harus memiliki keberanian untuk menghentikan ekspor bahan mentah, meskipun terdapat potensi gugatan hingga ke Organisasi Perdagangan Internasional (WTO). “Indonesia harus bersiap menghadapi segala hambatan dalam proses hilirisasi sumber daya alam,” tegas dia.

Dalam kurun 10 tahun, ekspor produk turunan kelapa sawit meningkat signifikan, dari 20% di tahun 2010 menjadi 80% pada 2020. Hal ini sesuai target peta jalan pengembangan industri hilir kelapa sawit yang diatur melalui Peraturan Menteri Perindustrian No 13 Tahun 2010.

Bahkan, saat ini terdapat 168 jenis produk hilir CPO yang telah mampu diproduksi oleh industri di dalam dalam negeri untuk keperluan pangan, fitofarmaka/nutrisi, bahan kimia/oleokimia, hingga bahan bakar terbarukan/biodiesel FAME. Sementara pada tahun 2011, hanya ada 54 jenis produk hilir CPO.

Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika menyebutkan, program yang telah dijalankan oleh Kemenperin terkait hilirisasi berbasis minyak sawit (CPO/CPKO), antara lain dengan mempertahankan kebijakan tarif pungutan ekspor secara progresif berdasarkan harga CPO internasional dan rantai nilai industri.

“Sebab, tarif pungutan ekspor untuk bahan baku CPO/CPKO jauh lebih tinggi daripada produk intermediate dan produk hilir. Upaya ini sebagai insentif bagi industri pengolahan dalam negeri,” jelas dia. 

Editor : Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN