Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekspor mobil. Foto ilustrasi: IST

Ekspor mobil. Foto ilustrasi: IST

Ekspor Mobil Anjlok 66%

Rabu, 20 Januari 2021 | 09:24 WIB
Eva Fitriani (eva_fitriani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Ekspor mobil sepanjang 2020 turun 66,18% menjadi 285.207 unit dibanding tahun sebelumnya 843.429 unit. Penurunan ekspor mobil terjadi baik dalam bentuk utuh (completely built-up/CBU) maupun terurai (completely knock down/CKD).

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), ekspor mobil CBU pada 2020 mencapai 232.175 unit, turun 30,1% dibanding tahun 2019 yang sebesar 332.004 unit. Ekspor mobil dalam bentuk CBU dilakukan oleh sembilan produsen, yakni PT Astra Daihatsu Motor (Daihatsu), PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (Toyota), PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia (Mitsubishi), PT Suzuki Indomobil Motor (Suzuki), PT Honda Prospect Motor (Honda), PT Hino Motors Manufacturing Indonesia (Hino), PT Sokonindo Automobile (DFSK), PT Hyundai Indonesia Motor (Hyundai), dan PT SGMW Motor Indonesia (Wuling).

Negara tujuan ekspor kendaraan Indonesia di antaranya adalah Bahrain, Brunei Darussalam, Ekuador, Kuwait, Laos, Myanmar, Oman, Filipina, Qatar, Thailand, Uni Emirat Arab, Yaman, Vietnam, Irak, Maroko, Papua Nugini, Arab Saudi, Antigua, Bangladesh, Cayman, Jamaika, Lebanon, Peru, Trinidad, Barbados, Guyana, ST Lucia, Suriname, Tahiti, Yordania, Fiji, Panama, Peru, Guatemala, Malaysia, Singapura, Jepang, Afrika Selatan, Nepal, Meksiko, Kamboka, Tahiti, Madagaskar, Kostarika, Afrika Barat, Gabon, Pakistan, Nikaragua, Bhutan, Nepal, Elsavador, Bolivia, Honduras, dan Mauritius.

Ekspor CBU didominasi oleh Daihatsu yang mencapai 91.472 unit atau 39,4% dari total, disusul Toyota 53.728 unit (23,1%), Mitsubishi 40.589 unit (17,5%), Suzuki 37.400 unit (16,1%), Honda 5.970 unit (2,6%), Hino 865 unit (0,4%), DFSK 790 unit (0,3%), Hyundai 750 unit (0,3%), dan Wuling 611 unit (0,3%).

Sementara itu, ekspor mobil dalam bentuk CKD anjlok hingga 89,6% pada tahun 2020 menjadi tinggal 53.032 unit dibanding tahun sebelumnya yang sebanyak 511.425 unit. Ekspor CKD dilakukan oleh empat pabrikan, yakni Toyota, Suzuki, Mitsubishi, dan DFSK. Sebanyak 40.890 unit atau 77,1% ekspor CKD dilakukan oleh Toyota, disusul 7.788 unit (14,7%) oleh Suzuki, 4.050 unit (7,6%) oleh Mitsubishi, dan 304 unit (0,6%) oleh DFSK.

Ekspor komponen juga menurun 22,9% pada 2020 menjadi 61.177.323 pieces dibanding tahun sebelumnya 79.300.676 unit. Ekspor komponen otomotif ini dilakukan oleh Toyota, Honda, Hino, dan Suzuki.

Ekspor komponen otomotif ini didominasi oleh Toyota yang mencapai 93,2% atau sebanyak 57.045.439 pieces. Sementara Honda mengekspor 3.301.687 pieces (5,4%), Hino sebanyak 733.673 pieces (1,2%), dan Suzuki 96.524 pieces (0,2%).

Tidak hanya ekspor, impor mobil juga mengalami penurunan hingga 53,5% pada tahun 2020 menjadi 34.353 unit dibanding tahun 2019 yang sebanyak 73.879 unit. Terdapat 29 brand mobil yang diimpor ke Indonesia sepanjang 2020, yakni Toyota, Suzuki, Mitsubishi, Mazda, Honda, Lexus, KIA, Daihatsu, MINI, Morris Garage, Isuzu, Renault, BMW, Hyundai-HMID, Hyundai-HIM, Peugeot, Tata, Mercedes-Benz CV, FAW, Volkswagen, Hino, Chevrolet, Audi, UD Truck, MAN Truck, Mercedes-Benz PC, Mitsubishi Fuso, Scania, dan Hongyan.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) tengah menyiapkan argumentasi pendukung sanggahan (submisi) keberatan untuk membebaskan mobil Indonesia dari bea masuk tindakan pengamanan sementara (BMTPS) atau safeguard yang dibuat oleh pemerintah Filipina.

Direktur Pengamanan Perdagangan Kemendag Pradnyawati meyakini, pemerintah Filipina bakal mempertimbangkan poin-poin argumentasi yang disampaikan oleh Indonesia  tersebut. Dia menilai, safeguard untuk mobil impor yang diterapkan pemerintah Filipina didasarkan oleh argumentasi yang sangat lemah dan tidak sejalan dengan kesepakatan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

"Pemerintah Indonesia sedang menyiapkan submisi keberatan sekaligus pembelaan untuk membantah putusan awal otoritas Filipina. Pemerintah juga bersama-sama dengan asosiasi dan produsen/eksportir akan meminta konsultasi spesifik kepada otoritas Filipina, di samping akan hadir dan menyampaikan pandangan pada kesempatan public hearing di awal bulan Februari. Pendeknya, pemerintah akan berupaya all-out dalam upaya membebaskan ekspor mobil Indonesia dari tuduhan safeguard," kata Pradnyawati.

Pradnyawati menjelaskan, produk yang dikenakan safeguard oleh otoritas Filipina adalah mobil penumpang dan kendaraan niaga ringan (light commercial vehicle/LCV). Pengenaan safeguard tersebut akan efektif berlaku lima belas hari sejak tanggal penetapan atau dimulai pada tanggal 13 Januari 2021. Pengenaan safeguard tersebut bakal berlaku selama 200 hari.

"Dampak kebijakan Filipina ini tentu saja dirasakan oleh industri otomotif di Indonesia, terutama yang mengekspor mobil penumpang, terlebih jika menilik kesepakatan Asean Trade in Goods Agreement (ATIGA), Filipina telah menerapkan tarif impor 0% untuk produk otomotif. Dengan demikian BMTPS ini akan menjadi bea tambahan ekspor produk mobil penumpang ke Filipina," terang Pradnyawati.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita sebelumnya mengungkapkan, industri kendaraan bermotor merupakan salah satu yang didorong pengembangannya di Tanah Air. Hal ini karena industri tersebut menunjukkan pertumbuhan signifikan yang juga mendukung perekonomian nasional.

“Penerapan safeguard tersebut menunjukkan bahwa Industri otomotif Indonesia di atas Filipina,” ujar dia.

Menperin menjabarkan, produksi kendaraan roda empat Indonesia pada tahun 2019 mencapai 1,286,848 unit. Angka tersebut sangat jauh dibandingkan dengan produksi Filipina yang hanya mencapai 95,094 unit.

Perkembangan otomotif Indonesia tersebut, lanjut dia, menunjukkan tren yang menggembirakan. “Dalam catatan saya, setidaknya akan masuk investasi senilai lebih dari Rp 30 triliun ke Indonesia untuk sektor otomotif,” kata Menperin.

Menperin mengungkapkan, ada dua faktor yang akan membuat investasi di sektor otomotif semakin bertambah. Pertama, jumlah penduduk Indonesia yang banyak membuat pengembangan sektor otomotif semakin mudah karena ketersediaan tenaga kerja. Kedua, jumlah rasio kepemilikan kendaraan yang masih rendah akan membuka peluang perluasan pasar di Tanah Air.

Agus menerangkan, jka dibandingkan dengan Thailand, Malaysia, Filipina dan Vietnam, rasio kepemilikan kendaraan roda empat di Indonesia masih sangat rendah. Pemerintah sendiri mempunyai target pada 2030 Indonesia akan menjadi 10 besar ekonomi terkuat di dunia. “Bisa kita bayangkan, saat sudah menjadi 10 besar ekonomi dunia, nanti daya beli masyarakat akan jauh meningkat dan itu akan mendorong masyarakat lebih banyak membeli mobil. Nah itu peluangnya sangat besar bagi investor," ujar dia.

Selain itu, sambung Menperin, industri otomotif global memiliki Global Value Chain yang tinggi, sehingga perbedaan harga antarnegara relatif rendah. Dalam hal ini, Indonesia diuntungkan karena telah mampu mengekspor produk otomotif ke lebih dari 80 negara dengan rata-rata 200.000 unit per tahun. “Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia makin terintegrasi dengan pasar dunia,” imbuh Menteri AGK.

 

Editor : Eva Fitriani (eva_fitriani@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN