Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Industri tekstil. Foto: IST

Industri tekstil. Foto: IST

Ekspor Tekstil akan Terkerek IK-CEPA

Minggu, 20 Desember 2020 | 19:59 WIB
Sanya Dinda (sanya.susanti@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id - Perjanjian Kerja Sama Ekonomi Komprehensif Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) atau Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA) diperkirakan mendongkrak ekspor produk tekstil nasioal ke Korea Selatan.

Menurut peneliti Center of Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine, penandatanganan IK-CEPA dapat meningkatkan akses pasar ekspor Indonesia ke Korsel, yang kini masih didominasi sektor minyak dan gas. Salah satu produk yang bisa terus didorong adalah produk tekstil. 

"Kita bisa memanfaatkan perjanjian ini untuk mengoptimalkan ekspor tekstil yang termasuk komoditas unggulan ekspor Indonesia ke Korsel. Sebab, tarif bea masuk impor tekstil dari Indonesia di Korsel diturunkan juga," kata Pingkan kepada Investor Daily, Jumat (18/12).

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengumumkan, dengan ditandatanganinya IK-CEPA, Korsel akan mengeliminasi tarif bea masuk produk kaos dari Indonesia. Selain itu, Korsel mengeliminasi bea masuk bahan baku minyak pelumas, stearic acid, blockboard, buah-buahan kering, dan rumput laut asal Indonesia. Ekspor Indonesia ke Korsel ditargetkan meningkat 10% setelah perjanjian dagang IK-CEPA diratifikasi. 

Selain perdagangan, Pingkan menuturkan, investasi kedua negara diharapkan meningkat, terutama di jasa keuangan, ritel, pertanian, kehutanan, dan perikanan. Selain menerima investasi dari Korsel, dia berharap Indonesia bisa meningkatkan investasi di Korsel.

"Penandatanganan IK-CEPA menambah daftar panjang pencapaian negosiasi perdagangan Indonesia sepanjang 2020. Sebelumnya, kita sudah mulai menerapkan IA-CEPA, penandatanganan RCEP, dan beberapa perjanjian dagang lainnya," imbuh Pingkan. 

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Iman Pambagyo mengatakan, pemerintah ingin mempermudah penarikan investasi Korsel, antara lain dengan memfasilitasi pergerakan manusia  dalam intra-corporate transferees (ICTs), business visitors (BVs), dan independent professionals (IPs).

Hal ini, kata dia, diharapkan dapat memacu penyerapan tenaga kerja. Meski kedua negara masuk RCEP, penandatanganan IK-CEPA membuat perekonomian kedua negara lebih terbuka.

"Tingkat komitmen Indonesia di dua perjanjian ini berbeda. Kalau RCEP multipartit, sehingga Indonesia harus berhati-hati. Tingkat eliminasi Indonesia di RCEP 91% total rarif, sedangkan di IK-CEPA yang bilateral 92,06%. Jadi, tingkat kedalamannya memang beda," kata Iman.

Editor : Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN