Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu industri TPT. Foto ilustrasi: Joanito de Saojoao

Salah satu industri TPT. Foto ilustrasi: Joanito de Saojoao

Ekspor TPT ke Turki Tertekan Kebijakan Trade Remedies

Rabu, 28 Oktober 2020 | 04:37 WIB
Sanya Dinda (sanya.susanti@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Kinerja ekspor produk tekstil nasional ke Turki anjlok 49,79% sepanjang Januari-Agustus 2020 menjadi US$ 168,9 juta dari US$ 336,3 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Selain diakibatkan oleh pandemi Covid-19, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengatakan eksor poroduk tekstil ke Turki juga tertekan oleh kebijakan non tariff measure (NTM) berbentuk trade remedies terhadap produk tekstil asal Indonesia.

Salah satu produk tekstil yang diekspor paling banyak ke Turki, yakni man-made stable fibre (HS 55), mengalami penurunan cukup tajam dari US$ 120 juta pada 2017 menjadi sekitar US$ 100 juta pada 2019 lantaran Turki menuduh produsen Indonesia, India, dan Tiongkok, melakukan dumping untuk produk ini.

Selain menerapkan tarif umum atau Most Favoured Nations (MFN), Turki juga mengenakan safeguard bagi beberapa HS produk TPT, termasuk yang berasal dari Indonesia. Bagi  produk yang terkena safeguard, bea masuknya ertambah US$ 0,10 - US$0,30 per kilogram untuk kurun waktu 2019-2020. Untuk kurun waktu 2021-2022, bea masuk safeguard Turki turun menjadi sekitar  US$ 0,08 - US$ 0,28 per kg.

"Pasar Turki merupakan tujuan ekspor terbesar produk spurn yarn di Indonesia dan akan terus menjadi pasar yang penting untuk spurn yarn Indonesia. Pada 2018, pemerintah Turki mengenakan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) untuk impor semua bentuk spurn yarn dengan besaran US$ 0,23 sampai US$ 0,40 per kilogram," kata Ketua Umum API, Jemmy Kartiwa, dalam webinar "Ekspor Produk Tekstil ke Turki: Tantangan dan Peluang", Selasa (27/10).

Pemerintah Turki juga telah dua kali melakukan penyelidikan kembali (sunset review) atas BMAD kepada Indonesia, yakni tahun 2014 dan 2018. Pada 17 April 2015, otoritas Turki memutuskan memperpanjang prngenaan BMAD dengan besaran yang sama. Sementara pada 2018, otoritas Turki memutuskan memperpanjang BMAD selama 5 tahun sampai 22 Mei 2025 mendatang.

Tarif BMAD yang dikenakan Turki berbeda antara negara satu dan lain. Tiongkok, misalnya, dikenakan tarif BMAD US$ 0,49 dan US$ 0,80 per kg. Sementara Indonesia dikenakan MFN sebesar 4-8% danuntuk perusahaan kooperatif tarif BMAD-nya US$ 0,23 sampai US$0,25 per kg sementara untuk perusahaan atau eksportir lain tarifnya US$ 0,40 per kg.

untuk menghadapi trade remedies Turki, API mengajak anggota baik perusahaan tertuduh maupun bukan, untuk bersama-sama menangani tuduhan dumping. API juga menginbau agar perusahaan Yang terlibat selalukooperatif Dan mengikuti kesekuruhan proses penyelesaian. API juga berkoordinasi dengan pemerintah untuk menyelesaikan setiap tuduhan.

"Dalam menghadapai Indonesia-Turki CEPA, kani menyarankan strategi yang bisa diterapkan pemerintah untuk menyamakan level playing field Indonesia melalui perbaikan aturan dan iklim industri untuk meningkatkan daya saing. Dengan adanya Omnibus Law, harapannha bisa menyederhanakan aturan, sehingga daya saing industri TPT kita bisa meningkat," imbuh Jemmy.

Aaat ini pemerintah Indonesia tengah menegosiasikan persetujuan Kerja Sama Ekonomi Comprehensive (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CePa) dengan Turki. Pemerintah antara lain menegosiasikan agar pemerintahbTurki tidak memberikan tarif tambahan kepada produk tekstil Indonesia. Selain itu, pemerintah juga sedang melakukan pemesanan produk yang dibutuhkan oleh Turki. 

Sekretaris Dirjen Perdagangan Luar Negeri, Marthin Kalit, mengatakan karena letak geografisnya, Turki merupakan pasar ekspor yang penting. Turkit dapat menjembatani produk Indonesia yang juga hendak masuk ke Eropa sannTimur Tengah.

Selain itu, Turki merupakan negara produsen tekstil dan garmen keenam terbesar dunia dan utama di Eropa. Indonesia pun bisa masuk ke rantai pasok dengan menyediakan bahan baku produk tekstil. 

Hanya saja, menurut Marthin, sejak pertengahan 2014 Turki sudah memasukkan tarif rata-rata 26% untuk berbagai produk, termasuk produk tekstil, guna melindungi industri dalam negeri mereka. Di tengah pandemi, Turki juga pelan-pelan meningkatkan tarif masuk. Karena hanya 50,5% dari total tarif produk impor Turki yang diikatkan kepada Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organisation/WTO), negara yang belum memiliki perjanjin dagang dengan Turki pun sulit melakukan gugatan. 

"Di samping instrumen tarif, Turki juga menerapkan instrumen non-tarif, termasuk trade remedies. Turki dapat disebut sebagai salah satu negara yang menggunakan instrumen ini, dan cukup intensif menggunakannya. Berdasarkan data World Integrated Trade Solution, Turki termasuk ke Dalam 10 besar negara di dunia yang paling banyak menerapkan instrumen ini," imbuh Marthin.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN