Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri BUMN Erick Thohir (tengah) didampingi Wakil Menteri I Budi Gunadi Sadikin (kiri) dan Wakil Menteri II Kartika Wirjoatmodjo (kanan) mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (20/2/2020). Rapat tersebut membahas evaluasi pelaksanaan APBN 2019 dan peta jalan Kementerian BUMN. Foto: SP/Ruht Semiono

Menteri BUMN Erick Thohir (tengah) didampingi Wakil Menteri I Budi Gunadi Sadikin (kiri) dan Wakil Menteri II Kartika Wirjoatmodjo (kanan) mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (20/2/2020). Rapat tersebut membahas evaluasi pelaksanaan APBN 2019 dan peta jalan Kementerian BUMN. Foto: SP/Ruht Semiono

Erick akan Atur Minimum Dividen BUMN

Triyan Pangastuti, Senin, 24 Februari 2020 | 08:59 WIB

JAKARTA, investor.id - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tengah merancang formulasi minimum dividen yang harus disetorkan perusahaan pelat merah kepada negara. Sebab, semakin banyak laba bersih dari setiap BUMN seharusnya dapat memberikan dividen yang lebih besar kepada negara.

"Nanti, perusahaan BUMN yang untung kami akan cap minimun dividen berapa, apakah 30%, apakah berapa persen. Nanti ada formulanya. Semua terukur," kata Menteri BUMN Erick Thohir di kantornya, pekan lalu.

Ia mengatakan, target bisa dicapai tidak dengan menaikkan persentase dividen terhadap laba bersih, tetapi menaikkan laba bersih, sehingga nanti meskipun persentase dividennya sama tetapi dengan meningkatnya laba bersih dalam sebuah perusahaan, maka secara nilai akan lebih besar.

Ia meyakini dengan kinerja positif tiap tahun, harga saham perusahaan BUMN juga ikut terdongkrak dan semakin diminati oleh investor, karena investor akan mendapatkan kepastian. "Apalagi kalau strategi bisnisnya meyakinkan, (harga saham) lebih bagus lagi karena orang akan percaya untuk investasi jangka panjang. Apalagi masuk perusahaan blue chip,” ujar dia.

Erick telah menargetkan laba bersih konsolidasi perusahaan pelat merah pada 2024 sebesar Rp 300 triliun, atau naik 50% dibandingkan target laba bersih 2019 yang sebesar Rp 200 triliun.

Menurut dia, minimal setoran dividen ini nantinya menjadi dasar perhitungan besaran tantiem yang akan diterima oleh jajaran dewan komisaris dan direksi perusahaan BUMN. Jika, dividen yang disetorkan perusahaan tersebut mencapai atau melebihi target yang dipatok oleh Kementerian BUMN, maka direksi dan komisaris akan mendapatkan tantiem.

Hal ini juga untuk mencegah komisaris dan direksi mendapatkan tantiem dengan cara tidak benar, hanya berdasarkan profit, dengan melalukan revaluasi aset, padahal tidak memiliki kas yang memadai.

"Komisaris dan direksi pun jangan berdasarkan profit. Akhirnya, revaluasi aset, profit, cash-nya tidak ada. Terus karena profit tetap bagi bonus, yang menyeramkan bikin utang baru untuk proyek tak feasible," kata dia.

Sebagai informasi perhitungan besaran tantiem sudah diatur dalam Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-01/MBU/06/2017 tentang Pedoman Penetapan Pengahasilan Direksi, Dewan Komisaris, dan Dewan Pengawas BUMN.

 

Belum Optimal

Selanjutnya, Erick meminta secara khusus kepada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) untuk meningkatkan setoran dividen ke penerimaan negara, sebab selama ini setoran dividen yang besar dari anak usaha Telkom, PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) tak bisa diberikan langsung ke pemerintah karena harus ditransmisikan terlebih dahulu ke Telkom, sehingga hasilnya belum optimal.

Dia mencontohkan, Telkomsel merupakan anak usaha Telkom maka dividen yang disetor tidak akan mencapai Rp 10 triliun. "Dividen Rp 10 triliun nggak langsung ke pemilik tapi lewat Telkom. Karena lewat situ (Telkom), dividen nggak Rp 10 triliun, jadi Rp 3 triliun," kata Erick.

Ia menambahkan, paling tidak bagi dua, Telkom menyetorkan dividen minimal Rp 5 triliun. Tentu pemegang saham senang menerima dividen yang lebih besar.

"Misal lima tahun ke depan kami akan kasih dividen segini, wah (tentu) girang mau beli saham. Apalagi kalau bisnisnya ke depan bagus, bisa masuk. Kalau nggak mau ya dikasih komut yang bagus dan galak," ujar Erick.

 

Tunggu Mandat

Di sisi lain, Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan tengah memetakan 142 perusahaan BUMN dalam beberapa kluster, yakni dengan cara digabung melalui subholding, merger, hingga likuidasi alias dibubarkan.

Untuk melakukan langkah lebih lanjut pada 142 perusahaan BUMN, pihaknya masih menunggu mandat aturan dari Presiden Joko Widodo dalam bentuk peraturan pemerintah (PP) maupun peraturan presiden (Perpres)."3 bulan cukup sejak peraturan keluar, kita tunggu, untuk aturan (Perpres atau apa) kami nggak tahu, sebab kita itu kan pengelola aset, bukan pemilik aset," jelasnya, di Kementerian BUMN, pekan lalu.

Dia mengaku sejak menjabat menjadi Menteri BUMN, ia sudah meminta pemimpin perusahaan pelat merah agar melaporkan rencana bisnis mereka selama lima tahun. Namun, dari 142 BUMN, baru 10 perusahaan yang melapor.

"Masa minta business plan saja nggak bisa. Yang rajin kan perbankan. BUMN infrastruktur belum. Garuda saya minta, mereka lagi siapkan. Kan baru. Telkom kami lagi tunggu. Mudah-mudahan dengan pembicaraan kemarin lebih semangat," jelasnya.

Erick juga menyebut telah ada lima anak usaha PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk yang akan dibubarkan salah satunya yakni Garuda Tauberes Indonesia (GTI) yang bergerak di sektor pengiriman barang.

Untuk membubarkan lima anak usaha Garuda, dirinya mendapatkan langsung hasil review dari direksi dan komisaris Garuda Indonesia. Anak-anak usaha tersebut dianggap tak sejalan dengan bisnis perusahaan. Oleh karena itu, peran direksi dan komisaris penting untuk mengawasi kinerja bisnis usaha.

"Sebaiknya ada payung hukum sebab proses ada yang berbeda, perusahaan tertutup dan terbuka," jelasnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN