Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PLTU Paiton

PLTU Paiton

Fakta PLTU dan Residu Batu Bara

Fajar Widhiyanto, Selasa, 3 Desember 2019 | 19:36 WIB

Sejak lama, batu bara menjadi primadona bahan bakar pembangkit energi listrik di dunia. Ketersediaannya yang melimpah dan harganya yang terjangkau membuatnya jadi andalan bahan baku listrik yang murah di berbagai negara raksasa ekonomi dunia seperti Tiongkok, Amerika Serikat, India, Australia, hingga Indonesia.

Indonesia sendiri masuk dalam jajaran empat besar negara produsen batu bara di dunia setelah Cina, Amerika Serikat dan India. Berdasarkan data Index Mundi pada 2018, Tiongkok memproduksi 4,4 miliar short tons batu bara, dan menjadi negara produsen batu bara terbesar dunia. Sebagai catatan, satu short ton setara dengan 907,2 kg. Pada peringkat kedua, Amerika Serikat mencatat produksi 985 juta short tons, lalu India dengan produksi 675 juta short tons dan Indonesia dengan 539 juta short tons pada 2018 silam.

Tiongkok, AS, dan India menjadi produsen batu bara terbesar di dunia, sekaligus konsumen batu bara utama di dunia. Tidak demikian dengan Indonesia. Masih berdasarkan data Index Mundi, meski masuk negara jajaran atas produsen batu bara dunia, namun urusan konsumsi, Indonesia justru terlempar dari daftar 10 besar konsumen batu bara terbesar dunia, dengan konsumsi ‘hanya’ sebesar 115 juta ton di 2018.

Jadi jelas, Indonesia tertinggal sangat jauh dalam urusan pemanfaatan batu bara di dalam negeri. Pun demikian, pemerintah berencana untuk terus mengurangi konsumsi batu bara sebagai pembangkit energy di dalam negeri. Dalam road map Kebijakan Energi Nasional (KEN) dirumuskan bahwa pemanfaatan batu bara dalam bauran energi nasional ditargetkan hanya 30% pada 2025. Jumlah itu pun masih ditargetkan menjadi hanya 25% pada 2050.

Selain konsumsi batu bara yang tertinggal jauh dibandingkan negara lainnya di dunia, urusan pemanfaatan limbah batu bara pun setali tiga uang. Di negara maju seperti Amerika Serikat, India, China, dan Jepang mereka menyerap fly ash, bottom ash, dan gipsum sebagai bahan pembuatan jalan, jembatan, paving blok, semen, dan sebagainya.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia Hendra Sinadia mengungkapkan, di negara lain limbah batu bara tidak dianggap sebagai limbah B3 atau bahan berbahaya dan beracun. “Limbah batu bara, abu batu bara itu bisa digunakan untuk bahan konstruksi di berbagai negara. Cuma di sini saja dianggapnya sebagai B3. Ini kan jadi masalah. Padahal di negara-negara lain seperti di Jepang. Limbah batu bara itu dijadikan bahan konstruksi, bahan bendungan, jalan. Jumlahnya besar, bisa dimanfaatkan sebenarnya,” kata Hendra dalam pernyataannya yang diterima redaksi Selasa (3/12).

Sepakat dengan Hendra, peneliti Alpha Research Database, Ferdy Hasiman mengungkapkan hal menarik terkait pembangkit listrik tenaga uap batu bara (PLTU). Dalam kesempatan kunjungannya ke PLTU Paiton di Probolinggo Jawa Timur, ia mengaku tidak menemukan keluhan dari masyarakat sekitar.

Sebagai catatan, PLTU Paiton berdiri tahun 1994 sebagai salah satu PLTU terbesar dan penyuplai listrik terbesar di daerah Jawa-Bali. “PLTU Paiton itu menggunakan batu bara sebagai bahan bakunya dan yang paling menarik dia hanya berjarak 500 meter dari bibir pantai. Kami beberapa kali ke sana, sejauh ini keluhannya tidak ada. Masyarakat senang dengan kehadiran PLTU ini. Karena PLTU itu menjadi penopang ekonomi warga sekitar. Lalu terumbu karang dan biota-biota laut yang ada di sekitar tidak terganggu dengan kehadiran PLTU,” jelas Ferdy.

Penemuan itu rupanya berbanding terbalik dengan asumsi yang dianutnya sebelum berkunjung ke Paiton. “Saya pertama kali berasumsi ini PLTU deket banget dengan bibir pantai, kalau dia berdekatan dengan bibir pantai dia pasti merusak biota laut dan karangnya. Nah ternyata dari penelusuran tidak demikian. Malah masih terjaga dengan baik, tidak ada satupun yang rusak.  Itu hasil penelusuran kami di lapangan. Lalu keluhan masyarakat terkait polutan, kajian kami di Paiton itu belum ada,” ujar Ferdy. Menurut Ferdy, manajemen Paiton sejak awal sudah mengukur efek dan dampak jika terjadi kerusakan lingkungan hidup dari keberadaan PLTU itu.

Hal serupa menurutnya ia temukan juga pada PLTU unit 1 dan 2 di Cirebon. PLTU unit 1 Cirebon dengan produksi 660 megawatt akan diikuit oleh pengembangan unit 2 menjadi 1000 megawatt. Sama dengan Paiton, PLTU unit 1 Cirebon itu menerapkan teknologi yang sama, dan diupayakan tidak mencemarkan lingkungan. “Sampai sekarang Kemen LH pada kedua PLTU itu belum mengeluarkan teguran apapun. Bahkan PLTU itu menjadi rujukan para peneliti bahwa ada sampel yang cukup sukses untuk membangun PLTU,” ujar Ferdy.

Ferdy menyimpulkan, meskipun secara teori batu bara mengandung karbon yang tinggi dan unsur polutannya besar, namun resiko itu bisa diminimalisir dengan manajemen pengelolaan PLTU yang baik.

“Maka itu, perusahaan-perusahaan yang masuk dalam pengelolaan PLTU harus benar benar dikawal benar oleh Kemen LH dengan kerjasama Kementerian ESDM,” tegas Ferdy. Sejalan dengan pertimbangan tersebut di atas, oleh karenanya maka setiap PLTU yang ada di Indonesia sudah dilengkapi dengan Super Critical Represitator untuk me-reduce dan meminimalisasi sebaran fly ash buttom ash.

 

 

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA