Menu
Sign in
@ Contact
Search
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memberi keterangan pers terkait evaluasi PPKM, 4 Juli 2022.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memberi keterangan pers terkait evaluasi PPKM, 4 Juli 2022.

Februari 2023, Indonesia Bisa Lepas dari Pandemi dan Tak Lagi Harus Bermasker

Selasa, 11 Okt 2022 | 22:00 WIB
Nasori (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, kondisi Covid-19 dalam enam bulan terakhir secara keseluruhan mulai melandai. Ini ditandai dengan kasus konfirmasi harian secara nasional yang relatif rendah yaitu di angka 1.195 kasus. Bila hal ini terus berlanjut sampai Februari 2023, maka Indonesia akan lepas dari pandemi Covid-19.

Selain itu, Airlangga menambahkan, sejak 10 Agustus 2022, Rt Indonesia sudah mencapai <1. Nilai Rt ini pun diharapkan dapat bertahan dalam tiga bulan sehingga Indonesia dapat mengambil langkah untuk mencabut aturan wajib masker sebagai langkah menuju endemi.

“PPKM akan dievaluasi sampai dengan akhir bulan ini dan akhir bulan depan akan ditentukan bagaimana pelaksanaan PPKM ke depan disertai catatan bahwa vaksinasi booster diekstensifikasikan di bulan November, Desember, dan Januari 2023. Kalau kita bisa jaga di Februari kasusnya landai, maka kita bisa lepas dari pandemi Covid-19 ini,” ujar Airlangga usai konferensi pers setelah Sidang Kabinet Paripurna yang diselenggarakan di Istana Negara Jakarta, Selasa (11/10/2022).

Pada kesempatan yang sama, di tengah ketidakpastian global yang memberikan tekanan pada pemulihan ekonomi dunia, fundamental perekonomian Indonesia mampu memperlihatkan kinerja yang tetap impresif. Meski pada Juli 2022 Dana Moneter Internasioal (IMF) merevisi proyeksi ekonomi global dari 3,6% menjadi 3,2%, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cukup tinggi yakni di angka 5,3%.

Advertisement

“Kinerja IHSG juga tercatat cukup baik di tengah tekanan global dan pelemahan indeks saham global, di mana pada 10 Oktober 2022 IHSG mencatat return 6% (ytd) di posisi 6.982,5,” ungkap Airlangga.

Walaupun terjadi goncangan, lanjut dia, indikator eksternal Indonesia relatif kuat. Volatility Index Indonesia senilai 30,49 atau masih dalam batas nilai indikatif 30. Kemudian terkait level indeks Exchange Market Pressure (EMP) per September 2022 berada di angka 1,06 atau masih berada di bawah batas treshold level satu yaitu sebesar 1,78. Demikian pula juga dengan perbandingan Credit Default Swap (CDS) Indonesia yang relatif lebih rendah dibandingkan Meksiko, Turki, Brasil, dan Afrika Selatan.

Menurut Airlangga, terdapat 28 negara yang terdaftar untuk memperoleh bantuan IMF, di mana 14 di antaranya masih dalam proses. Sedangkan faktor eksternal Indonesia masih sangat kuat, sehingga tidak termasuk dalam negara yang rentan terhadap masalah keuangan.

“Bahkan di antara negara G20, Indonesia adalah negara yang pertumbuhan ekonominya nomor dua tertinggi setelah Saudi Arabia. Jadi, dari segi faktor eksternal Indonesia aman. Dari internal, ekonomi kita kuat karena kita punya domestic market,” tandas Airlangga.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com