Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Profesor Ari Kuncoro    Foto: Suara Pembaruan/Bhakti Hariani

Profesor Ari Kuncoro Foto: Suara Pembaruan/Bhakti Hariani

Februari Surplus US$ 2,34 Miliar, Kondisi Neraca Perdagangan Dinilai Belum Berjalan Optimal

Selasa, 17 Maret 2020 | 05:51 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Terjadinya surplus neraca perdagangan dinilai belum berada dalam kondisi ideal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Surplus lebih disebabkan karena penurunan impor cukup tajam.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada Februari 2020 mengalami surplus sebesar US$ 2,34 miliar. Kondisi ini disebabkan ekspor Indonesia Februari 2020 mencapai US$13,94 miliar atau meningkat 2,24% dibanding ekspor Januari 2020. Sedangkan jumlah impor Indonesia Februari 2020 mencapai US$11,60 miliar atau turun 18,69% dibanding Januari 2020.

BPS
Badan Pusat Statistik. Foto ilustrasi: IST

“Ini (neraca perdagangan) sebenarnya belum terlalu sehat, karena idealnya adalah surplus naik, ekspor naik di atas impor. Sebaiknya ekspor meningkat tajam sementra impor tumbuh lebih rendah dari ekspor,” ucap Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro ketika dihubungi lewat sambungan telpon pada Senin (16/3).

Ari mengatakan terjadinya penurunan impor lebih disebabkan karena di Tiongkok terjadi lockdown sehingga ada penurunan impor. Indonesia sendiri membutuhkan banyak barang setengah jadi diantarnya spare part elekronik dan otomotif.

Untuk ke depannya Ari memperkirakan ekspor tetap tumbuh tinggi dan pertumbuhan impor tetap di bawah ekspor.

“Kombinasi walupun ekspor naik 2,24% tetapi tetapi impornya turun tajam 18,69% maka surplusnya lumayan besar. Jadi kita syukuri saja surplus tetapi ini bukan kondisi ideal,” tandas Ari.

Menurut dia, penurunan harga minyak dunia berdampak langsung terhadap kondisi neraca perdagangan domestik. Meskipun pertumbuhan ekspor berada dalam kondis memuaskan.

“Dalam situasi saat bisa surplus salah satunya karena penurunan harga minyak drastis sedangkan komoditas ekspor mengalami kenaikan harga,” ucap Ari.

Harga CPO

Head of Industry and Regional Research Department Office of Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dendi Ramdani. Foto: id.linkedIn
Head of Industry and Regional Research Department Office of Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dendi Ramdani. Foto: id.linkedIn

Sementara itu, Ekonom Bank Mandiri Dendi Ramdani berpendapat terjadinya surplus neraca perdagangan di bulan Februari karena harga komoditas sampai akhir tahun 2019 masih bagus seperti, minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO), nikel dan emas. Dengan catatan kinerja ekspor adalah hasil dari transaksi ekspor impor dua sampai tiga bulan lalu.

“Sementara itu, impor relatif menurun baik untuk bahan baku maupun barang modal karena aktivits di awal tahun biasanya belum kencang,” ucap Dendi saat dihubungi pada Senin (16/3).

Meskipun terjadi surplus, kinerja perdagangan beberapa bulan ke depan terancam defisit karena harga komoditas utama ekspor menurun seperti, CPO, batubara dan minyak mentah. Kemungkinan impor menurun karena kebutuhan industri yang melemah akibat permintaan domestik yang melemah.

Panenan sawit di sebuah pabrik. Foto ilustrasi:: Investor Daily/Gora Kunjana
Panenan sawit di sebuah pabrik. Foto ilustrasi:: Investor Daily/Gora Kunjana

“Selain itu permintaan pasar ekspor yang menurun sehingga kebutuhan bahan baku dan modal bisa menurun,” ucap Dendi.

Tetapi sebelum membicarakan insentif bagi dunia usaha seperti, insentif pajak-pajak, dalam jangka pendek, Pemerintah harus menggelontorkan dana untuk biaya kesehatan pengaggulangan virus korona seperti untuk biaya test dan pembelian alat tes dan biaya perawatan akibat virus korona.

Langkah ini harus gratis untuk menjamin orang mau berobat dan kembali sehat tanpa takut harus membayar biaya kesehatan.

“Tanpa menggratiskan biaya penanganan virus korona, kebijakan-kebijakan lain yang menginsentif dunia usaha tidak akan jalan. Sebab, aktivitas konsumsi dan produksi akan menurun karena orang takut,” tuturnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN