Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Lembaga pemeringkat Fitch

Lembaga pemeringkat Fitch

Fitch Kukuhkan Kembali Investment Grade Indonesia

Nasori, Jumat, 24 Januari 2020 | 19:29 WIB

JAKARTA, investor.id – Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings (Fitch) mengafirmasi peringkat sovereign credit rating Indonesia pada level BBB/stable outlook atau  investment grade  hari ini, Jumat (24/1). Beberapa faktor kunci yang mendukung afirmasi peringkat itu adalah prospek pertumbuhan ekonomi jangka menengah yang baik dan beban utang pemerintah yang relatif rendah dibandingkan negara peers dengan peringkat yang sama.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan, afirmasi peringkat Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil merupakan bentuk pengakuan Fitch atas kondisi perekonomian Indonesia yang berdaya tahan di tengah dinamika perekonomian global didukung sinergi bauran kebijakan yang kuat antara bank sentral dan pemerintah.

"Ke depan, Bank Indonesia akan mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik dalam memanfaatkan ruang bauran kebijakan yang akomodatif dan memperkuat koordinasi dengan pemerintah guna mendorong momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujar Perry dalam siaran pers yang diterima Investor Daily, Jumat (24/1).

Fitch sebelumnya telah mempertahankan peringkat Indonesia pada level BBB/stable outlook atau investment grade pada 14 Maret 2019.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo

Pada sisi lain, Fitch menggarisbawahi tantangan yang masih dihadapi perekonomian Indonesia yaitu masih tingginya ketergantungan terhadap sumber pembiayaan eksternal, penerimaan pemerintah yang rendah, serta indikator struktural seperti tata kelola dan produk domestik bruto (PDB) per kapita yang masih tertinggal dibandingkan negara peers rating.

Fitch memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap resilien pada beberapa tahun mendatang, didukung berlanjutnya pembangunan infrastruktur publik dan agenda reformasi pada periode kedua Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Upaya reformasi struktural pemerintah memiliki potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi asing langsung dalam jangka menengah, yang akan bergantung kepada langkah rinci pemerintah serta implementasinya. DPR dijadwalkan melakukan pembahasan dua omnibus law dalam beberapa bulan ke depan, dengan kemungkinan besar mencakup sejumlah amandemen ketentuan terkait perpajakan dan lingkungan usaha.

Dari sisi fiskal, Fitch memperkirakan defisit fiskal akan tetap stabil pada 2020. Utang pemerintah diperkirakan tetap rendah yaitu 30,1% PDB pada 2019 dengan rasio utang terhadap PDB hanya akan sedikit meningkat pada beberapa tahun mendatang dan masih mematuhi batasan fiskal defisit maksimal 3% PDB.

Dari sisi domestik, tekanan inflasi diperkirakan akan tetap rendah pada lingkungan ekonomi saat ini. Dalam beberapa tahun terakhir, inflasi tetap terkendali dan berada dalam rentang target Bank Indonesia 3,5% ± 1%. Dari sisi eksternal, kondisi pasar keuangan yang cukup kondusif telah mendukung peningkatan cadangan devisa hingga mencapai US$ 129 miliar pada Desember 2019.

Fitch juga memperkirakan current account deficit (CAD) tetap berada pada level 2,7% PDB baik pada 2019 maupun 2020, dan sedikit membaik menjadi 2,6% pada 2021. Lebih dari setengah CAD itu dibiayai oleh aliran masuk investasi asing langsung, dengan sisanya dibiayai oleh aliran masuk investasi portofolio.

Menurut Fitch, implementasi reformasi struktural Indonesia yang kuat dan persepsi perusahaan asing terhadap perbaikan level-playing field diharapkan dapat mendorong peningkatan aliran masuk investasi asing langsung dan memperkuat kondisi keuangan eksternal Indonesia.

Fitch memandang, risiko yang bersumber dari sektor perbankan Indonesia terbatas. Rasio kredit swasta terhadap PDB hanya sebesar 36% dan rasio kecukupan modal bank tetap kuat, sebesar 23,7% pada November 2019. Eksposur pinjaman dalam valas perbankan Indonesia tercatat sekitar 15% dari total pinjaman dengan kewajiban bank dalam valas dapat diimbangi oleh aset valas atau telah dilakukan lindung nilai. Sebagian kewajiban juga merupakan pembiayaan yang berasal dari perusahaan induk.

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA