Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Fokus dan Konsisten Tekan Impor Minyak dan BBM

Senin, 14 Januari 2019 | 22:37 WIB
Oleh Tri Murti dan Hari Gunarto

Sedangkan Bhima Yudhistira Adhinegara menyatakan, untuk menekan defisit neraca perdagangan, pemerintah harus fokus dan konsisten menekan impor minyak dan BBM melalui peningkatan investasi di sektor eksplorasi dan produksi migas.

Program percampuran minyak sawit ke dalam BBM (B20) perlu didorong implementasinya, hambatan seperti ketersediaan bahan baku harus segera diselesaikan. Upaya PLN untuk menyerap minyak sawit lebih besar bagi kebutuhan PLTD juga jadi solusi menekan besarnya impor solar.

Selain itu, impor untuk proyek infrastruktur juga harus dikendalikan. Untuk itu, pemerintah harus memperbesar tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) untuk proyek infrastruktur serta menunda proyek yang menyerap besi baja impor dan mesin dalam jumlah besar.

“Impor pangan juga perlu dikendalikan, benar-benar transparan dan disesuaikan dengan kebutuhan industri. Intinya, top five komoditas penyumbang impor terbesar harus dikendalikan.,” kata Bhima.

Defisit juga harus dikurangi dengan menggenjot ekspor dengan perluasan pasar, hilirisasi produk ekspor, serta mendorong promosi yang tepat sasaran. “Fungsi dari atase perdagangan dan kedutaaan besar menjadi kunci sebagai focal point di Negara tujuan ekspor. Lobi kita harus lebih gencar,” ucap Bhima.

Bhima juga menekankan urgensinya pemberian insentif bagi manufaktur, berupa pengurangan pajak penghasilan (PPh) badan dan bea keluar bagi industri berorientasi ekspor yang pertumbuhannya bagus, misalnya alas kaki dan tekstil pakaian jadi. “Jadi, fokus 2019 sebaiknya industri berorientasi ekspor. Tidak sekadar hitech, tapi juga industri skala UMKM,” tuturnya.

Peningkatan ekspor juga dapat ditempuh dengan menjalin FTA dengan negara-negara yang benar-benar potensial tapi selama ini terdapat hambatan tarif. “Pilih 3-5 negara di kawasan yang targeted, misalnya Afrika atau Amerika Latin. Sejauh ini sudah banyak FTA tapi pemanfaatannya kurang,” tuturnya.

Bhima melihat penaikan pajak 1.200 mata barang konsumsi impor belum efektif. “Sebab, barang konsumsi yang kena PPh itu hanya 5% dari total impor nonmigas. Pemerintah perlu berani mengenakan tarif tinggi pada top five, bukan bottom five,” katanya. (dho)

Baca selanjutnya di https://id.beritasatu.com/tradeandservices/penjualan-produk-tpt-stagnan-tak-bisa-tumbuh/184469

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN